4 Dinasti Besar di Kalimantan Selatan
image of 1140x530

Setiap tempat pasti menyimpan misteri sejarahnya masing-masing. Campa Tour mencoba mengungkap sejarah kejayaan kerajaan di Kalimantan Selatan. Dari berbagai sumber, Campa Tour merangkumkannya dalam tulisan ini.

Pada tahun 8000 SM, migrasi I, manusia mendiami gua-gua di Pegunungan Meratus. Kelompok ini melanjutkan migrasi ke pulau Papua dan Australia. Fosilnya ditemukan di Gua Babi di Gunung Batu Buli, Desa Randu, Muara Uya, Tabalong. Lalu, pada tahun 2500 SM, migasi II, yaitu bangsa Austronesia dari pulau Formosa ke pulau Borneo dengan membawa adat ngayau yang menjadi nenek moyang suku Dayak. Pada tahun 400 M, peninggalan tertua yang diketahui dari agama Hindu di Kalimantan berupa yupa yang ditemukan di daerah Kutai. Lalu pada tahun 242-1362 M, berdiri Kerajaan Tanjungpuri di Tanjung, Tabalong yang didirikan suku Melayu.

Kerajaan Nan Sarunai

Kerajaan Nan Sarunai adalah pemerintahan purba yang muncul dan berkembang di wilayah Kalimantan Selatan (administrative sekarang), tepatnya di antara wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara dan Kabupaten Tabalong. Kerajaan Nan Sarunai merupakan bagian awal dari riwayat panjang Kesultanan Banjar, salah satu pemerintahan kerajaan terbesar yang pernah ada di Kalimantan Selatan. Kerajaan Nan Sarunai terkait erat dengan kehidupan orang-orang Suku Dayak Maanyan, salah satu sub Suku Dayak tertua di tanah Borneo.

Kerajaan purba yang dikelola oleh orang-orang Suku Dayak Maanyan ini disebutkan dengan nama yang berbeda-beda. Selain Nan Sarunai, nama-nama lain yang juga diyakini sebagai nama kerajaan ini adalah Kerajaan Kuripan, Kerajaan Tanjungpuri, dan Kerajaan Tabalong. Nama Kerajaan Tabalong disertakan karena kerajaan ini terletak di tepi Sungai Tabalong. Sungai Tabalong adalah anak sungai Bahan, sedangkan Sungai Bahan adalah anak Sungai Barito yang bermuara ke Laut Jawa.

Selain itu, muncul pendapat berbeda yang menyatakan bahwa Kerajaan Tanjungpuri berbeda dengan Kerajaan Nan Sarunai. Pendapat ini meyakini bahwa Kerajaan Tanjungpuri bukan pemerintahan yang dikelola oleh Suku Dayak Maanyan, melainkan oleh orang-orang Melayu Palembang yang merupakan pelarian dari Kerajaan Sriwijaya. Versi yang satu ini juga menyebutkan bahwa Kerajaan Nan Sarunai dan Kerajaan Tanjung Puri berada dalam satu lingkup ruang dan waktu yang sama. Kerajaan Nan Sarunai berpusat di Amuntai, sedangkan Kerajaan Tanjung Puri beribukota di Tanjung. Berdasarkan pembagian wilayah adminitratif Provinsi Kalimantan Selatan pada masa sekarang, kedua tempat itu tidak berada di kabupaten yang sama meskipun lokasi Amuntai dan Tanjung berdekatan dan sama-sama terletak di tepi Sungai Tabalong. Amuntai termasuk wilayah Kabupaten Hulu Utara, sedangkan Tanjung berada di Kabupaten Tabalong.

Nama Sarunai sendiri dimaknai dengan arti “sangat termasyhur”. Penamaan ini bisa jadi mengacu pada kemasyhuran Suku Dayak Maanyan di masa silam, di mana mereka terkenal sebagai kaum pelaut yang tangguh, bahkan mampu berlayar hingga ke Madagaskar di Afrika. Selain itu, ada pendapat lain yang mengatakan bahwa nama Sarunai berasal dari kata “serunai” yakni alat music sejenis seruling yang mempuyai tujuh buah lubang. Alat musik nii sering dimainkan orang-orang Suku Dayak Maanyan untuk mengiringi tari-tarian dan nyanyi-nyanyian. Konon, Raja dan rakyat Kerajaan Nan Sarunai sangat gemar menari dan menyanyi. Sebenarnya istilah lengkapnya adalah Nan Sarunai. Kata “nan” diduga berasal dari bahasa Melayu yang kemudian dalam lidah orang Maanyan dilafalkan hanya dengan ucapan Sarunai saja. Dengan demikian, nama “Nan Sarunai” berarti sebuah kerajaan di mana raja dan rakyatnya gemar bermain musik.

Kerajaan Tanjung Puri

Banyak versi sejarah tentang Kerajaan Tanjung Puri yang merupakan cikal bakal kota Tanjung, Tabalong (pusat pemerintahan Kabupaten Tabalong). Salah satu pendapat menyatakan, Kerajaan Tanjung Puri ini didirikan oleh orang-orang Melayu yang bermigrasi dari Kerajaan Sriwijaya pada sekitar abad ke-4 M. Para imigran yang memiliki budaya lebih tinggi daripada penduduk lokal (suku Dayak) pada saat itu, mendirikan pemukiman di daerah pesisir Sungai Tabalong. Mereka kemudian berbaur dan melakukan perkawinan dengan penduduk setempat, perpaduan dari Suku Melayu dan Suku Dayak inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Suku Banjar di Kalimantan Selatan. Semakin lama perkampungan mereka semakin ramai dan kemudian berkembang menjadi sebuah kerajaan kecil bernama Kerajaan Tanjung Puri di pesisir sungai Tabalong, Tanjung Tabalong.

Sementara itu sumber lain menyebutkan, Kerajaan Tanjung Puri adalah kerajaan yang sama dengan Kerajaan Kuripan atau Kerajaan Nan Serunai (atau Kerajaan Nan Serunai berada di bawah kekuasaan Kerajaan Tanjung Puri) di Kalimantan Selatan. Kemudian kekuasaan yang semula dipegang oleh orang lokal diambil alih oleh dinasti baru dari Kerajaan Dipa yang berdarah Majapahit.

Pada suatu saat, Kerajaan Tanjung Puri mulai berkembang pesat dan menjadi daerah perdagangan yang ramai, serta rakyatnya hidup dalam kemakmuran. Konon, dinding-dinding istana kerajaan berlapis emas karena kemakmurannya. Pada saat yang sama, Kerajaan Majapahit di Jawa sedang berusaha menancapkan kekuasaan ke seluruh Nusantara. Adalah Maha Patih Gajah Mada (1313-1364 M) dari Kerajaan Majapahit bertekad untuk mempersatukan Nusantara dan dikenal dengan sumpahnya, Sumpah Palapa.

Pada tahun 1356 M, Majapahit melakukan serangan pertamanya ke Kerajaan Tanjung Puri, tapi gagal karena Kerajaan Tanjung Puri bekerjasama dengan Kerajaan Nan Serunai menghadapi serangan tersebut. Dua tahun kemudian pada tahun 1358 M, Majapahit kembali menyerang Kerajaan Tanjungpuri, tetapi karena kekuatan yang dimiliki sama, akhirnya kedua Kerajaan memutuskan untuk tidak meneruskan peperangan. Namun, Kerajaan Tanjung Puri telah mengalami kehancuran yang cukup parah, infrastruktur kerajaan mengalami banyak kerusakan. Akibatnya, Kerajaan Tanjung Puri menjadi lemah dan sepi dari perdagangan. Dan pusat pemerintahan yang semula berada di Tanjung, dipindahkan ke daerah Kuripan (Amuntai) dan kemudian lebih dikenal dengan nama Kerajaan Kuripan yang kemudian menjadi Kerajaan Dipa.

Kerajaan Negara Dipa

Kerajaan Negara Dipa adalah kerajaan yang berada di pedalaman Kalimantan Selatan. Kerajaan ini adalah pendahulu Kerajaan Negara Daha. Sejak masa pemerintahan Lambung Mangkurat, wilayahnya terbentang dari Tanjung Silat sampai Tanjung Putting.

Kerajaan Negara Dipa memiliki daerah-daerah bawahan yang disebut Sakai, yang masing-masing dipimpin oleh seorang Mantri Sakai. Sebuah pemerintahan Sakai kira-kira sama dengan pemerintahan lalawangan (distrik) pada masa Kesultanan Banjar. Pada mulanya negara Dipa merupakan bawahan Kerajaan Kuripan yang merupakan kerajaan pribumi. Menurut Hikayat Banjar, Negara Dipa merupakan sebuah negeri yang didirikan Ampu Jatmika yang berasal dari Keling – provinsi Majapahit di barat daya Kediri, yang berjarak dua bulan perjalanan laut menuju pulau Hujung Tanah (Kalimantan). Empu Jatmaka alias Ampu Jatmika mendirikan pada tahun 1387, dia berasal dari Majapahit. Diduga Ampu Jatmika menjabat sebagai Sakai di Negara Dipa (situs Candi Laras, Margasari). Ampu Jatmika bukanlah keturunan bangsawan dan juga bukan keturunan raja-raja Kuripan, tetapi kemudian dia berhasil menggantikan kedudukan raja Kuripan sebagai penguasa Kerajaan Kuripan yang wilayahnya lebih luas tersebut. Walau demikian, Ampu Jatmika tidak menyebut dirinya sebagai raja, tetapi hanya sebagai Penjabat Raja (pemangku).

Setelah perpindahan ibukota kerajaan Negara Dipa dari Candi Laras (Margasari) ke Candi Agung (Amuntai), penggantinya Lambung Mangkurat (Lembu Mangkurat) setelah bertapa di sungai Tabalong, berhasil memperoleh Puteri Junjung Buih yang kemudian dijadikan Raja Putri di Negara Dipa. Raja Putri ini sengaja dipersiapkan sebagai jodoh bagi seorang Pangeran yang sengaja dijemput dari Majapahit yaitu Raden Putra yang kelak bergelar Pangeran Suryanata I. Keturunan Lambung Mangkurat dan keturunan mereka berdua inilah yang kelak sebagai raja-raja di Negara Dipa.

Menurut Tutur Candi, Kerajaan Kahuripan adalah kerajaan yang lebih dulu berdiri sebelum Kerajaan Negara Dipa. Karena raja Kerajaan Kahuripan menyayangi Empu Jatmika sebagai anaknya sendiri, maka setelah dia tua dan mangkat, kemudian seluruh wilayah kerajaannya (Kahuripan) dinamakan sebagai Kerajaan Negara Dipa, yaitu nama daerah yang didiami oleh Empu Jatmika.

Kerajaan Negara Dipa semula beribukota di Candi Laras (Distrik Margasari) dekat hilir sungai Bahan, tepatnya pada suatu anak sungai Bahan, kemudian ibukotanya pindah ke hulu sungai Bahan yaitu Candi Agung (Amuntai), kemudian Ampu Jatmika menggantikan kedudukan Raja Kuripan (negeri yang lebih tua) yang mangkat tanpa memiliki keturunan, sehingga nama Kerajaan Kuripan berubah menjadi Kerajaan Negara Dipa. Ibukota waktu itu berada di Candi Agung yang terletak di sekitar hulu sungai Bahan (=sungai Negara) yang bercabang menjadi sungai Tabalong dan sungai Balangan dan sekitar sungai Pamintangan (sungai kecil anak sungai Negara).

Kerajaan Negara Dipa ini, dikenal sebagai penghasil intan pada zamannya.

Kerajaan Negara Daha

Kerajaan Negara Daha adalah sebuah kerajaan Hindu (Syiwa-Buddha) yang pernah berdiri di Kalimantan Selatan, sezaman dengan kerajaan Islam Giri Kedaton. Kerajaan Negara Daha merupakan pendahulu Kesultanan Banjar. Pusat pemerintahan/ibukota kerajaan ini berada di Muhara Hulak atau dikenal sebagai kota Negara (sekarang kecamatan Daha Selatan. Hulu Sungai Selatan), sedangkan Bandar perdagangan dipindahkan dari pelabuhan lama Kerajaan Negara Dipa yaitu Muara Rampiau (sekarang desa Marampiau) ke pelabuhan baru pada Bandar Muara Bahan (sekarang kota Marabahan, Barito Kuala).

Pusat Kerajaan Negara Daha terletak di tepi sungai Negara dan berjarak 165 km di sebelah utara Kota Banjarmasin, ibukota provinsi Kalimantan Selatan.

Kerajaan Negara Daha merupakan kelanjutan dari Kerajaan Negara Dipa yang saat itu berkedudukan di Kuripan/Candi Agung (sekarang kota Amuntai). Pemindahan ibukota dari Kuripan adalah untuk menghindari bala bencana karena kota itu dianggap sudah kehilangan tuahnya. Pusat pemerintahan dipindah kea rah hilir sungai Negara (sungai Bahan) menyebabkan nama kerajaan juga berubah sehingga disebut dengan nama yang baru sesuai letak ibukotanya yang ketiga ketika dipindahkan yaitu Kerajaan Negara Daha.

Kesultanan Banjar

Kesultanan Banjar atau Kesultanan Banjarmasin berdiri pada tahun 1520, dihapuskan sepihak oleh Belanda pada 11 Juni 1860. Namun, rakyat Banjar tetap mengakui ada pemerintahan darurat/pelarian yang baru berakhir pada 24 Januari 1905. Namun, sejak 24 Juli 2010, Kesultanan Banjar hidup kembali dengan dilantiknya Sultan Khairul Saleh.

Kerajaan Banjar adalah sebuah kesultanan, wilayahnya saat ini termasuk ke dalam provinsi Kalimantan Selatan. Kesultanan ini semula beribukota di Banjarmasin kemudian dipindahkan ke beberapa tempat dan terakhir di Martapura. Ketika beribukota di Martapura disebut juga Kerajaan Kayu Tangi.

Ketika ibukotanya masih di Banjarmasin, maka kesultanan ini disebut Kesultanan Banjarmasin. Kesultanan Banjar merupakan penerus dari Kerajaan Negara Daha yaitu kerajaan Hindu yang beribukota di kota Negara, sekarang merupakan ibukota kecamatan Daha Selatan, Hulu Sungai Selatan.

Menurut Hikayat Sang Bima, wangsa yang menurunkan raja-raja Banjar adalah Sang Dewa bersaudara dengan wangsa yang menurunkan raja-raja Bima (Sang Bima), raja-raja Bali (Sang Kuala), raja-raja Dompu (Darmawangsa), raja-raja Gowa (Sang Rajuna) yang merupakan lima bersaudara putera-putera dari Maharaja Pandu Dewata.

Sesuai Tutur Candi (Hikayat Banjar versi II), di Kalimantan telah berdiri suatu pemerintahan dari dinasti kerajaan (keraton) yang terus-menerus berlanjut hingga daerah ini digabungkan ke dalam Hindia Belanda pada 11 Juni 1860, yaitu:

  1. Keraton awal disebut Kerajaan Kuripan
  2. Keraton I disebut Kerajaan Negara Dipa
  3. Keraton II disebut Kerajaan Negara Daha
  4. Keraton III disebut Kesultanan Banjar
  5. Keraton IV disebut Kerajaan Martapura/Kayu Tangi
  6. Keraton V disebut Pagustian

Maharaja Sukarama, Raja Negara Daha telah berwasiat agar penggantinya adalah cucunya Raden Samudera, anak dari putrinya Puteri Galuh Intan Sari. Ayah dari Raden Samudera adalah Raden Manteri Jaya, putra dari Raden Begawan, saudara Maharaja Sukarama. Wasiat tersebut menyebabkan Raden Samudera terancam keselamatannya karena para putra Maharaja Sukarama juga berambisi sebagai raja yaitu Pangeran Bagalung, Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Tumenggung.

Dibantu oleh Arya Taranggana, Pangeran Samudra melarikan diri dengan sampan ke hilir sungai Barito. Sepeninggal Sukarama, Pangeran Mangkubumi menjadi Raja Negara Daha, selanjutnya digantikan Pangeran Tumenggung yang juga putra Sukarama. Pangeran Samudra yang menyamar menjadi nelayan di daerah Balandean dan Kuin ditampung oleh Patih Masih di rumahnya. Oleh Patih Masih bersama Patih Muhur, Patih Balitung diangkat menjadi raja yang berkedudukan di Bandarmasih.

Pangeran Tumenggung melakukan penyerangan ke Bandarmasih. Pangeran Samudra dibantu Kerajaan Demak dengan kekuatan 40.000 prajurit dengan armada sebanyak 1.000 perahu yang masing-masing memuat 400 prajurit mampu menahan serangan tersebut. Akhirnya Pangeran Tumenggung bersedia menyerahkan kekuasaan Kerajaan Negara Daha kepada Pangeran Samudra. Kerajaan Negara Daha kemudian dilebur menjadi Kesultanan Banjar yang beristana di Bandarmasih. Sedangkan Pangeran Tumenggung diberi wilayah di Batang Alai.

Pangeran Samudra menjadi raja pertama Kerajaan Banjar dengan gelar Sultan Suriansyah. Ia pun menjadi raja pertama yang masuk Islam dibimbing oleh Khatib Dayan.

Kesultanan Banjar mulai mengalami masa kejayaan pada dekade pertama abad ke-17 dengan lada sebagai komoditas dagang, secara praktis barat daya, tenggara dan timur pulau Kalimantan membayar upeti pada kerajaan Banjarmasin.

Pada mulanya ibukota Kesultanan Banjar adalah Banjarmasin kemudian pindah ke Martapura. Pada masa kejayaannya, wilayah yang pernah diklaim sebagai wilayah pengaruh mandala kesultanan Banjar meliputi titik pusat yaitu istana raja di Martapura dan berakhir pada titik luar dari negeri Sambas di barat laut sampai ke negeri Karasikan (Banjar Kulan/Buranun) di timur laut yang letaknya jauh dari pusat kesultanan Banjar.

Nah, berdasarkan sejarah lampaunya, dapat dikatakan masa kejayaan kerajaan di Kalimantan Selatan dipengaruhi berbagai macam budaya. Mulai Dayak, Melayu, hingga Jawa. Dan kini, budaya tersebut sudah bercampur baur menjadikan “Kalimantan Selatan yang terkini”. Sebelum menjelajah suatu daerah, cobalah cari tahu sejarah masa lampau daerah tersebut. Pastinya akan menambah sensasi dalam perjalanan, serta menambah pemahaman mengenai kondisi dan budaya setempat.

Sumber:
https://id.wikipedia.org

About Author

client-photo-1
Campa Tour & Event

Comments

Leave a Reply