Belajar Bijak dari Masyarakat Baduy
image of 1140x530

(Liputan Trip Desember 2014 SMAN 5 Bengkulu)

Masyarakat Baduy menjadi salah satu laboratorium kecil tempat belajar interaksi yang harmonis antara alam dan manusia. sejak ratusan tahun lamanya alam tak tersakiti dengan kehadiran manusia di bukit Kendeng, begitupun manusia tak tergoda untuk merampok habis alam di bukit dan hutan dimana mereka tinggal. Kehidupan seirama dan berpola saling mendukung, itulah yang terjadi di Lebak, tepatnya di Desa Kenekes yang menjadi rumah bagi sekitar 11 ribu Jiwa Suku Baduy.

Keberadaan masyarakat Baduy yang demikian bijak dalam berinteraksi dengan alam tak terlepas dari filosofi yang selalu tertanam dalam benak masing-masing individunya. Filosofi ini di tanamkan dari generasi ke generasi dan dituturkan dalam beberapa kalimat seperti:  “lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung” yang artinya panjang tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung. Filosofi ini mempunyai makna yang mendalam bahwa apa yang telah di berikan oleh Tuhan terhadap manusia berupa limpahan kekayaan alam, haruslah di jaga karena pada hakikatnya Tuhan telah memenuhi apa yang menjadi kebutuhan manusia, bukan apa yang menjadi keinginan manusia.

Ketamakan dan sifat boros hanya akan menghacurkan bagi pelakunya, dan pastilah terjadi ketidakseimbangan alam yang berakibat buruk bagi penghuninya. Deretan filosofi Masyarakat Baduy yang di goreskan dalam pepatah lainnya adalah:

Gunung tak diperkenankan dilebur
Lembah tak diperkenankan dirusak
Larangan tak boleh di rubah
Panjang tak boleh dipotong
Pendek tak boleh disambung
Yang bukan harus ditolak yang jangan harus dilarang yang benar haruslah dibenarkan.

Karakter hidup masyarakat Baduy tersebut sungguh melampui pepatah-pepatah modern yang di kampanyekan oleh para aktivis lingkungan atau sebuah pemerintahan Negara yang modern dan memahami akan pentingnya hidup berdampingan dengan alam. Leluhur masyarakat Baduy sejak lama telah membuat tatanan kehidupan yang sesungguhnya sangat modern, karena yang terbentuk adalah sebuah generasi yang sangat mematuhi hukum karena sebuah kesadaran bukan tekanan, masyarakat yang damai dan rukun tanpa sebuah paksaan.

Nilai-nilai inilah yang akan Campa bagikan oleh 35 peserta wisata dan observasi dari SMA 5 Bengkulu pada Tanggal 23-26 Desember 2014. Mereka akan kami perlihatkan bahwa tatanan masyarakat yang sesungguhnya bukanlah masyarakat yang modern secara fisik materi dan teknologi, akan tetapi modern yang sesungguhnya adalah modern secara pemikiran dan cara pandang yang merubah tingkah laku manusianya.

About Author

client-photo-1
Campa Tour & Event

Comments

Leave a Reply