Gunung Api Purba Nglanggeran yang Megah

Ada yang tau lirik lagu ini?

“Ademe gunung merapi purbo. Melu krungu swaramu ngomongke opo. Ademe gunung merapi purbo. Sing ning langgran Wonosari Jogjakarta.”

Begitu sepenggal lirik lagu ‘Banyu Langit’ karya Didi Kempot, yang mengambil cerita tentang Gunung Api Purba Nglanggeran berdampak postif bagi perkembangan wisata di sana.

Gunung Nglanggeran adalah sebuah gunung di Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Gunung ini merupakan suatu gunung api purba yang terbentuk sekitar 0,6-70 juta tahun yang lalu atau yang memiliki umur tersier (Oligo-Miosen). Gunung Nglanggeran memiliki batuan yang sangat khas karena didominasi oleh aglomerat dan breksi gunung api.

Bagaimana sejarahnya?

Bukit Nglanggeran konon merupakan tempat menghukum warga desa yang ceroboh merusak wayang. Asal kata nglanggeran adalah nglanggar yang mempunyai arti melanggar. Pada ratusan tahun yang lalu, penduduk desa sekitar mengundang seorang dalang untuk mengadakan pesta syukuran hasil panen. Akan tetapi para warga desa melakukan hal ceroboh. Mereka mencoba merusak wayang si dalang. Dalang murka dan mengutuk warga desa menjadi sosok wayang dan dibuang ke Bukit Nglanggeran.

Ada beberapa bebatuan besar yang menurut cerita warga sekitar digunakan untuk tempat pertapaan warga. Warga sekitar mengatakan bahwa menurut kepercayaan, Gunung Nglanggeran dijaga oleh Kyai Ongko Wijoyo serta tokoh pewayangan Punokawan. Pada malam tahun baru Jawa atau Jumat Kliwon, beberapa orang memilih semadi di pucuk gunung. Di Gunung Nglanggeran ini pula warga pernah menemukan arca mirip Ken Dedes. Bukit Nglanggeran konon merupakan tempat menghukum warga desa yang ceroboh merusak wayang. Asal kata nglanggeran adalah nglanggar yang mempunyai arti melanggar. Pada ratusan tahun yang lalu, penduduk desa sekitar mengundang seorang dalang untuk mengadakan pesta syukuran hasil panen. Akan tetapi para warga desa melakukan hal ceroboh. Mereka mencoba merusak wayang si dalang. Dalang murka dan mengutuk warga desa menjadi sosok wayang dan dibuang ke Bukit Nglanggeran.

Ada beberapa bebatuan besar yang menurut cerita warga sekitar digunakan untuk tempat pertapaan warga. Warga sekitar mengatakan bahwa menurut kepercayaan, Gunung Nglanggeran dijaga oleh Kyai Ongko Wijoyo serta tokoh pewayangan Punokawan. Pada malam tahun baru Jawa atau Jumat Kliwon, beberapa orang memilih semadi di pucuk gunung. Di Gunung Nglanggeran ini pula warga pernah menemukan arca mirip Ken Dedes.

 

Bagaimana pengembangan wisatanya?

Tahun 1999, objek wisata ini dikelola Karang Taruna Bukit Putra Mandiri yang mengenakan tarif tiket Rp 500 per orang, namun fasilitasnya belum lengkap. Mengingat banyaknya potensi budaya dan ekowisata di situs gunung api tersebut, tahun 2008 Badan Pengelola Desa Wisata Nglanggeran mengambil alih pengelolaannya dan menambah berbagai fasilitas.

Di sekitar Gunung Nglanggeran dapat dijumpai embung yang merupakan bangunan berupa kolam seperti telaga di ketinggian sekitar 500 meter dari permukaan laut. Embung dengan luas sekitar 5.000 meter persegi itu berfungsi menampung air hujan untuk mengairi kebun buah kelengkeng, durian, dan rambutan di sekeliling embung. Pada musim kemarau, para petani bisa memanfaatkan airnya untuk mengairi sawah. Pengunjung bisa naik ke embung dengan tangga. Sampai di sisi embung, pengunjung bisa melihat matahari terbenam dan melihat gunung api purba di seberang embung.

Kawasan wisata Gunung Api Purba, Nglanggeran ini dikelola secara resmi oleh Karang Taruna Desa Nglanggeran.

Dimana letaknya?

Gunung ini terletak di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul yang berada pada deretan Pegunungan Baturagung.

Desa ini hanya berjarak sekitar 25 km saja dari Kota Yogyakarta, namun jika hendak diukur dari Wonosari, jaraknya hanya 20 km. Gunung ini juga terletak di kawasan karst Baturagung yang tersusun atas batuan beku berupa breksi andesit dan lava.

 

 

Bagaimana rute menuju ke sana?

Untuk menuju ke Gunung Api Purba Nglanggeran, kamu bisa perhatikan 2 rute yang ada di bawah ini:

Dari Wonosari

Jika perjalananmu kamu mulai dari Wonosari, maka kamu hanya perlu belok kanan jika kamu sudah sampai di Bunderan Sambi Pitu dan ambil arah yang menuju ke Desa Bobung. Nah, dari Desa Bobung ini, kamu hanya perlu melintasi jalanan sepanjang 3 km untuk mencapai Desa Nglanggeran.

Dari Yogyakarta

Tetapi, bila perjalananmu dimulai dari Yogyakarta, kamu harus mengambil jalan yang mengarah ke Wonosari, kemudian menuju ke Piyungan hingga kamu mencapai Bukit Bintang. Teruskan perjalanan kamu itu hingga kamu melihat adanya Perempatan Timur Radio GCD FM Patuk. Nah, disini kamu harus belok kiri untuk mengambil arah menuju ke Desa Ngoro-oro. Teruskan perjalanan sampai kamu mencapai pertigaan setelah UPT Puskesma Patuk II. Di pertigaan ini, kamu harus belok kanan menuju ke Desa Nglanggeran.

 

Berapa tiket masuknya?

Harga tiket masuk Gunung Api Purba Nglanggeran ini dibagi menjadi dua, yakni untuk domestik dan untuk wisman dengan perincian yang ada di bawah ini:

Untuk Domestik

  • Tiket Gunung ApiPurba malam Rp 20.000 dan siang Rp 15.000
  • Tiket Air Terjun Kedung Kandang Rp 7.000
  • Tiket Kampung Pitu siang/malam Rp 15.000
  • Tiket Embung Nglanggeran malam Rp 15.000 dan siang Rp 10.000

Untuk Wisatawan manca

  • Tiket Gunung ApiPurba siang/malam Rp 30.000
  • Tiket Air Terjun Kedung Kandang Rp 20.000
  • Tiket Kampung Pitu siang/malam Rp 30.000
  • Tiket Embung Nglanggeran siang/malam Rp 30.000

Biaya Parkir Gunung Api Purba Nglanggeran

  • Motor Rp 2.000 per unit
  • Mobil Rp 5.000 per unit

 

Fasilitas yang tersedia apa saja?

Untuk fasilitas yang ada di Gunung Api Purba Nglanggeran, objek wisata ini sudah dilengkapi berbagai fasilitas pendukung, seperti:

  • Camping Ground
  • Tempat untuk ibadah
  • Jalur pendakian
  • Home stay
  • Fasilitas toilet
  • Balai pertemuan
  • Pusat kuliner
  • Pusat informasi
  • Posko kesehatan

 

 

Nah, apabila ingin mengunjungi Gunung Api Purba Nglanggeran  atau destinasi wisata lainnya di Jogja, segera pesan paket wisata Jogja di campatour.com.

About Author

client-photo-1
Campa Tour & Event

Comments

Leave a Reply