Mengurangi Sampah Botol Plastik
image of 1140x530

[:en]“Traveling Experiment” di Rote

Sudah bukan rahasia lagi bahwa aktivitas wisata turut menyumbang sampah di destinasi yang kita kunjungi. Sampah yang paling banyak dan paling membahayakan adalah sampah plastik!
Campa mencoba melakukan “traveling experiment” bersama peserta Indonesia Diversity selama tour ke Rote. Sampah plastik akan paling banyak disumbangkan dari botol minuman yang kita konsumsi. Sangat wajar, karena kita butuh banyak cairan ketika melakukan aktivitas wisata. Paling tidak dua botol air mineral ukuran sedang dibutuhkan selama perjalanan. Bagi yang sangat suka dan sangat butuh minum, apalagi jika destinasinya pantai dan tempat yang sangat panas, kebutuhannya bisa mencapai dua botol air mineral ukuran besar!

Salah satu contoh air mineral yang biasanya dikonsumsi traveler. (Fitri Utami Ningrum/Campa Tour)
Salah satu contoh air mineral yang biasanya dikonsumsi traveler. (Fitri Utami Ningrum/Campa Tour)

Nah, coba saja kalikan berapa sampah plastik yang akan dihasilkan. Jika dalam satu kelompok tour terdapat lima orang, dimana setiap orang menyumbang-mengkonsumsi minimal dua botol air mineral per hari, lalu kita kalikan dengan jumlah hari berwisata (misal: lima hari), maka hasilnya … 50 botol plastik! Lalu bagaimana jika satu kelompok terdiri dari lebih dari 5 orang? Bagaimana jika per orang-nya minum lebih dari dua botol? Bagaimana jika kunjungan wisatawan dilakukan sepanjang tahun? Waw! Pasti hasilnya fantastis!

Bisa dibayangkan bagaimana jika sampah plastik ini terus ada dan menumpuk di destinasi yang kita kunjungi… Wisata bukannya menjadi berkah, malah akhirnya menjadi bencana. Tempat yang tadinya kita puji karena keindahannya pun jadi ternodai karena sampah plastik yang kini terserak dimana-mana.

Tips Mengurangi Sampah Plastik

Lalu, bagaimana cara untuk mengurangi sampah botol plastik para traveler?

1.Kurangi Minum

Jika tidak ingin pusing khawatir karena menyumbang sampah plastik dari botol minuman. Coba kurangi minum. Lebih baik lagi kalau puasa minum selama perjalanan. Tapi, apa kuat? Bisa-bisa yang terjadi adalah kita pusing dan lemas selama perjalanan karena kekurangan cairan:D

2.Sedia Botol Minum Sendiri

Awal mulanya, kami buat kesepakatan untuk menyimpan botol minum yang pertama kali dibeli. Lalu, kami menantang diri untuk mencari, dimana kami bisa mengisi ulang air untuk keesokan harinya. Untungnya, pihak hotel berbaik hati me-refill botol-botol kami setiap pagi. Tapi tidak di semua tempat hal ini bisa dilakukan. Karena mungkin tidak semua hotel bisa berbaik hati mengisi botol-botol besar para traveler. Dan hal mendasar yang harus diperhatikan adalah kandungan air tanah di destinasi. Tanyakan kepada guide lokal, apakah air tanah daerah tersebut aman untuk diminum. Kalau kurang aman untuk diminum, ada baiknya memilih pilihan aman, kembali ke mineral water.

3.Beli Mineral Water dengan Bertanggung Jawab

Karena segan terus-menerus meminta air, dan air tanah yang dimasak sendiri tidak bisa dijamin keamanannya, belilah mineral water. Silakan beli, berapa pun jumlahnya yang harus dipenuhi. Tapi… Akan tetapi kita harus mengumpulkan setiap botol plastik air mineral yang sudah habis dikonsumsi isinya. Jangan biarkan sampah plastik kita tercecer dan tertinggal sia-sia di destinasi yang kita kunjungi. Kumpulkan sampahnya dan bawa pulang!

Harus selalu ingat membawa pulang kembali botol plastik yang sudah dibawa dan dikonsumsi. (Fitri Utami Ningrum/Campa Tour)
Harus selalu ingat membawa pulang kembali botol plastik yang sudah dibawa dan dikonsumsi. (Fitri Utami Ningrum/Campa Tour)

4.Salurkan Botol Plastik kepada yang Membutuhkan

Cari tahu, kira-kira botol plastik yang tidak terpakai dapat berguna untuk apa. Tanyakan kepada guide lokal dan masyarakat setempat. Di Rote, ternyata botol plastik digunakan masyarakat sebagai media budidaya rumput laut. Mereka biasanya harus membeli seharga ratusan ribu rupiah! Nah, daripada mubazir, kita bisa sumbangkan botol-botol plastik ini. Jadi jangan dihancurkan, ya! Biarkan bentuknya tetap utuh. Traveler senang, petani senang 🙂

[wc_row][wc_column size=”one-half” position=”first”]

[/wc_column][wc_column size=”one-half” position=”last”]

[/wc_column][/wc_row]

Kevin, guide junior, sedang melihat deretan rumput laut. Di ujung, tampak botol plastik yang digunakan untuk budi daya rumput laut. Pak Sanu, guide, menjelaskan bahwa penduduk Pulau Usu di Mulut Seribu banyak menggunakan botol plastik untuk media budi daya rumput laut. Mereka dapat memastikan botol-botol plastik ini terjalin satu sama lain, sehingga tidak hanyut ke laut. Petani rumput laut tidak hanya terdapat di Pulau Usu, tetapi juga di wilayah Rote lainnya. Tampak di belakang Pak Sanu deretan botol-botol plastik untuk rumput laut yang mencuat ke atas permukaan. Jumlahnya yang banyak, tersebar dan terjalin di berbagai tempat menjadikan permukaan laut tenang menjadi semarak. Seperti karnaval di atas permukaan air. (Fitri Utami Ningrum/Campa Tour)

5.Buang di Tempat Sampah Pembuangan Terakhir

Lalu bagaimana kalau di destinasi tersebut orang tidak menggunakan botol plastik untuk apapun? Tanyakan kepada guide lokal, dimana letak tempat pembuangan sampah terakhir. Selagi pulang dari perjalanan, sempatkan mampir sejenak untuk setor sampah. Mungkin ini menjadi PR bersama pemerintah daerah setempat, untuk menyediakan tempat pembuangan sampah terakhir yang tersebar di berbagai wilayah, terpadu, dan terpusat dengan baik. Yang paling penting pemerintah daerah setempat juga perlu memikirkan bagaimana mengolah sampah-sampah plastik tersebut agar tidak menumpuk dan menyebabkan pemanasan global. Nah, kali ini, traveler bisa menghancurkan bentuk si botol plastik, agar botol-botol tersebut tidak dapat digunakan lagi sesuai bentuk aslinya.

 

Traveling Experiment ini bisa dilakukan dimana pun. Coba deh diterapkan ketika berkunjung ke berbagai destinasi. Bukan hanya berlaku untuk botol plastik. Tapi juga untuk sampah plastik ragam lainnya. Kalau kita semua sayang dengan destinasi yang kita kunjungi, pasti kita akan lebih peduli dan senang melakukannya :-)[:ID]“Traveling Experiment” di Rote

Sudah bukan rahasia lagi bahwa aktivitas wisata turut menyumbang sampah di destinasi yang kita kunjungi. Sampah yang paling banyak dan paling membahayakan adalah sampah plastik!
Campa mencoba melakukan “traveling experiment” bersama peserta Indonesia Diversity selama tour ke Rote. Sampah plastik akan paling banyak disumbangkan dari botol minuman yang kita konsumsi. Sangat wajar, karena kita butuh banyak cairan ketika melakukan aktivitas wisata. Paling tidak dua botol air mineral ukuran sedang dibutuhkan selama perjalanan. Bagi yang sangat suka dan sangat butuh minum, apalagi jika destinasinya pantai dan tempat yang sangat panas, kebutuhannya bisa mencapai dua botol air mineral ukuran besar!

Salah satu contoh air mineral yang biasanya dikonsumsi traveler. (Fitri Utami Ningrum/Campa Tour)
Salah satu contoh air mineral yang biasanya dikonsumsi traveler. (Fitri Utami Ningrum/Campa Tour)

 

Nah, coba saja kalikan berapa sampah plastik yang akan dihasilkan. Jika dalam satu kelompok tour terdapat lima orang, dimana setiap orang menyumbang-mengkonsumsi minimal dua botol air mineral per hari, lalu kita kalikan dengan jumlah hari berwisata (misal: lima hari), maka hasilnya … 50 botol plastik! Lalu bagaimana jika satu kelompok terdiri dari lebih dari 5 orang? Bagaimana jika per orang-nya minum lebih dari dua botol? Bagaimana jika kunjungan wisatawan dilakukan sepanjang tahun? Waw! Pasti hasilnya fantastis!

Bisa dibayangkan bagaimana jika sampah plastik ini terus ada dan menumpuk di destinasi yang kita kunjungi… Wisata bukannya menjadi berkah, malah akhirnya menjadi bencana. Tempat yang tadinya kita puji karena keindahannya pun jadi ternodai karena sampah plastik yang kini terserak dimana-mana.

 

Tips Mengurangi Sampah Plastik

Lalu, bagaimana cara untuk mengurangi sampah botol plastik para traveler?

1.Kurangi Minum

Jika tidak ingin pusing khawatir karena menyumbang sampah plastik dari botol minuman. Coba kurangi minum. Lebih baik lagi kalau puasa minum selama perjalanan. Tapi, apa kuat? Bisa-bisa yang terjadi adalah kita pusing dan lemas selama perjalanan karena kekurangan cairan:D

2.Sedia Botol Minum Sendiri

Awal mulanya, kami buat kesepakatan untuk menyimpan botol minum yang pertama kali dibeli. Lalu, kami menantang diri untuk mencari, dimana kami bisa mengisi ulang air untuk keesokan harinya. Untungnya, pihak hotel berbaik hati me-refill botol-botol kami setiap pagi. Tapi tidak di semua tempat hal ini bisa dilakukan. Karena mungkin tidak semua hotel bisa berbaik hati mengisi botol-botol besar para traveler. Dan hal mendasar yang harus diperhatikan adalah kandungan air tanah di destinasi. Tanyakan kepada guide lokal, apakah air tanah daerah tersebut aman untuk diminum. Kalau kurang aman untuk diminum, ada baiknya memilih pilihan aman, kembali ke mineral water.

3.Beli Mineral Water dengan Bertanggung Jawab

Karena segan terus-menerus meminta air, dan air tanah yang dimasak sendiri tidak bisa dijamin keamanannya, belilah mineral water. Silakan beli, berapa pun jumlahnya yang harus dipenuhi. Tapi… Akan tetapi kita harus mengumpulkan setiap botol plastik air mineral yang sudah habis dikonsumsi isinya. Jangan biarkan sampah plastik kita tercecer dan tertinggal sia-sia di destinasi yang kita kunjungi. Kumpulkan sampahnya dan bawa pulang!

Harus selalu ingat membawa pulang kembali botol plastik yang sudah dibawa dan dikonsumsi. (Fitri Utami Ningrum/Campa Tour)
Harus selalu ingat membawa pulang kembali botol plastik yang sudah dibawa dan dikonsumsi. (Fitri Utami Ningrum/Campa Tour)

 

4.Salurkan Botol Plastik kepada yang Membutuhkan

Cari tahu, kira-kira botol plastik yang tidak terpakai dapat berguna untuk apa. Tanyakan kepada guide lokal dan masyarakat setempat. Di Rote, ternyata botol plastik digunakan masyarakat sebagai media budidaya rumput laut. Mereka biasanya harus membeli seharga ratusan ribu rupiah! Nah, daripada mubazir, kita bisa sumbangkan botol-botol plastik ini. Jadi jangan dihancurkan, ya! Biarkan bentuknya tetap utuh. Traveler senang, petani senang 🙂

[wc_row][wc_column size=”one-half” position=”first”]

[/wc_column][wc_column size=”one-half” position=”last”]

[/wc_column][/wc_row]

Kevin, guide junior, sedang melihat deretan rumput laut. Di ujung, tampak botol plastik yang digunakan untuk budi daya rumput laut. Pak Sanu, guide, menjelaskan bahwa penduduk Pulau Usu di Mulut Seribu banyak menggunakan botol plastik untuk media budi daya rumput laut. Mereka dapat memastikan botol-botol plastik ini terjalin satu sama lain, sehingga tidak hanyut ke laut. Petani rumput laut tidak hanya terdapat di Pulau Usu, tetapi juga di wilayah Rote lainnya. Tampak di belakang Pak Sanu deretan botol-botol plastik untuk rumput laut yang mencuat ke atas permukaan. Jumlahnya yang banyak, tersebar dan terjalin di berbagai tempat menjadikan permukaan laut tenang menjadi semarak. Seperti karnaval di atas permukaan air. (Fitri Utami Ningrum/Campa Tour)

 

5.Buang di Tempat Sampah Pembuangan Terakhir

Lalu bagaimana kalau di destinasi tersebut orang tidak menggunakan botol plastik untuk apapun? Tanyakan kepada guide lokal, dimana letak tempat pembuangan sampah terakhir. Selagi pulang dari perjalanan, sempatkan mampir sejenak untuk setor sampah. Mungkin ini menjadi PR bersama pemerintah daerah setempat, untuk menyediakan tempat pembuangan sampah terakhir yang tersebar di berbagai wilayah, terpadu, dan terpusat dengan baik. Yang paling penting pemerintah daerah setempat juga perlu memikirkan bagaimana mengolah sampah-sampah plastik tersebut agar tidak menumpuk dan menyebabkan pemanasan global. Nah, kali ini, traveler bisa menghancurkan bentuk si botol plastik, agar botol-botol tersebut tidak dapat digunakan lagi sesuai bentuk aslinya.

 

Traveling Experiment ini bisa dilakukan dimana pun. Coba deh diterapkan ketika berkunjung ke berbagai destinasi. Bukan hanya berlaku untuk botol plastik. Tapi juga untuk sampah plastik ragam lainnya. Kalau kita semua sayang dengan destinasi yang kita kunjungi, pasti kita akan lebih peduli dan senang melakukannya 🙂

 

 

 

 

 [:]

About Author

client-photo-1
Campa Tour & Event

Comments

Leave a Reply