Gaya Traveling Abad ke-21
image of 1140x530

10431487_870346136312956_5545305462602806508_n

Sebagain besar orang traveling untuk mencari dunia lain di tengah kepenatan hiruk pikuk kota dan menghindari polusi akut yang membayang-bayangi kita setiap hari. Sebagian yang lain eksistensi untuk memenuhi ego sebagai manusia yang selalu bangga berhasil menaklukkan dunia yang luas. Tak sedikit pula orang traveling mempunyai tujuan-tujuan yang langka yaitu belajar dengan orang lain, belajar sejarahnya dan tentu menikmati alam yang tak bisa lepas dari masyarakatnya. Mungkin tujuan terakhir adalah konsep tujuan traveling paling mutakhir dan modern abad ke 21.

Orang-orang zaman dahulu pernah melakukan perjalanan mutakhir. Anda tentu kenal sejumlah tokoh inspirator seperti Wallace, Marco Polo, Raffles, dan masih banyak lagi orang yang belajar dari orang lain dari wilayah lain sehingga mampu menelurkan sejumlah gagasan dan karya hasil pengamatan mereka yang diabadikan. Dan, Anda tentu tahu juga para penjelajah Barat ataupun Timur selalu menemukan inspirasi  setelah mereka melalui tempat-tempat baru yang mereka kunjungi, apalagi kemudian catatan-catatan mereka berguna untuk generasi selanjutnya hingga puluhan tahun kedepan.

Tentu saya tak akan berlebihan menawarkan wisata agar anda seperti mereka, akan tetapi yang perlu digaris bawahi adalah daya inspirasi itu lebih dahsyat ketika terlibat dan melihat secara langsung dari pada sekedar mendengar dan membaca. Kemudian pertanyaannya yang muncul adalah tergantung bagaimana cara melihat dan berinteraksinya? Karena kenyataannya banyak traveler tidak menelorkan sebuah karya walaupun setelah menjelajahi susahnya medan.

Tren yang berkembang kebanyakan traveler sekarang adalah berkunjung ke sebuah lokasi menemukan tempat eksotis dan kemudian melakukan ritual wajib yaitu foto-foto dan jika masih ada waktu sekedar berputar-putar, jika dipantai jelas snorkeling atau diving, hingga mencicipi kuliner yang khas. Tentu itu tidak ada salahnya, semua adalah hak masing-masing pejalan.

Namun, yang jadi pertanyaan adalah apa yang akan Anda dapat jika pola traveling seperti itu? Apakah Anda sadar bahwa dalam sebuah lokasi wisata ada dua hal secara fisik yang sesungguhnya tidak bisa terlepaskan yaitu manusia penghuninya dan alam itu sendiri yang telah membentuk satu kesatuan sejak berpuluh-puluh tahun sebelum Anda menginjakan kaki dimana Anda berwisata.

Manusia penghuni tempat eksotis inilah yang harus kita selami lebih jauh. Karena hubungan interaksi antara alam dan penghuninya pastilah banyak melahirkan sejarah, mitos, legenda,kearifan ataupun nilai yang mungkin bisa saja mencerahkan Anda. Tak sedikit masyarakat di pelosok Nusantara banyak menghasilkan kearifan interaksi dengan alam, pantangan-pantangan dan aturan ketat adat yang mungkin menambah kesadaran Anda. Begitu juga bagi masyarakat lokal, mungkin dengan kehadiran Anda mereka lebih terapresiasi sehingga ikut menjaga kelestariaan budaya mereka, karena kebanggan budaya yang Anda apresiasi.

Campa mencoba mengajak sebuah traveling yang tak sekedar berfoto dan menikmati alam saja, tetapi interaksi dengan dua unsur yaitu alam dan manusia lokalnya. Tujuan interaksi tentu bagian dari penyeimbangan agar dalam setiap perjalanan tidak hanya foto yang menjadi bekas Anda setelah traveling tetapi nilai dan kesadaran yang Anda dapat dari hasil interaksi dengan masyarakat lokal.

Tentu Campa tidak menentukan hasil traveling itu sendiri, tetapi Campa hanya memfasilitasi agar Anda menjadi bagian dari trend traveling abad ke 21, yaitu dimana traveling harus lebih bermakna baik itu bagi Anda ataupun masyarakat lokal.

Beberapa Inspirasi soal gaya traveling Abad ke 21 adalah hasil diskusi yang diselenggarakan oleh Campa pada Talkshow “Kenali Akarmu; Pentingnya Wisata Sejarah di Indonesia” pada hari sabtu 21 Juni 2014 di FX Sudirman.

About Author

client-photo-1
Campa Tour & Event

Comments

Leave a Reply