Cerita Dari Tanah Wali (1)

Yogyakarta adalah salah satu kota yang mendapatkan sebutan daerah istimewa di Indonesia. Menjadi istimewa tidak hanya karena tertulis di peraturan tata negara tetapi juga karena kekayaan sejarah, adat istiadat dan budayanya. Dalam sejarah penyebaran agama Islam di pulau Jawa, kota Yogyakarta menyimpan peninggalan – peninggalan kejayaan masa peradaban islam di Jawa pada kurun waktu antara abad 14 hingga 17 Masehi. Oleh sebab itu, Campa Tour mengadakan tour ramadan dengan tema The Soul Ancient of Islam, mengajak peserta untuk tak hanya berwisata tetapi juga mengenal sejarah, menyaksikan peninggalan kejayaan masa peradaban islam yang tak lekang dimakan waktu.

Jejak perjalanan bagian pertama
Suara adzan subuh terdengar dari corong masjid Agung Yogyakarta, hari itulah pertama kali menginjakkan kaki di tanah Mataram Islam. Setelah usai sholat subuh, kami berkumpul sejenak, saling ramah tamah dan memperkenalkan diri. Campa Tour mengambil tema tur Ramadhan kali ini adalah mengenai kejayaan masa peradaban islam di Jawa pada kurun waktu antara abad 14 hingga 17 Masehi. Perjalanan ini menjadi napak tilas sejarah positif perdaban Islam.
Dengan mendatangi situs peninggalan para wali penyeru dakwah dan para raja-raja yang terkenal alim dan sangat dicintai rakyatnya dapat membawa wisatawan memaknai lebih dalam akan indahnya masa lalu

Situs pertama yang ditelaah adalah masjid agung Yogyakarta. Di balik kemegahannya ternyata masjid agung Yogyakarta mempunyai filosofi yang mendalam yang terlihat di simbol-simbol ornamen pada arsitektur masjid. Pesan yang disampaikan adalah ketika seseorang yang sholat di mesjid Agung Yogyakarta kelak dapat menjadi manusia yang memaknai ritual keagamaan dengan mengaplikasikan nilai-nilai ibadah ke dalam dimensi kemanusiaan.

Perjalanan kami lanjutkan ke sebuah museum di Daerah Pleret Bantul. Disana terdapat puing – puing peninggalan keraton Pleret, arca – arca dan puing – puing masjid agung Pleret. Pleret menjadi destinasi Campa Tour karena merupakan bagian penting dari era Mataram. Di Pleret kita akan mengenal lebih dalam sosok Sultan Agung sebagai pemimpin mataram yang menginginkan kejayaan Islam kembali di bumi Yogyakarta.

Dari Pleret kunjungan kami lanjutkan ke sebuah makam wali di daerah Bantul. Panembahan Bodho namanya, beliau adalah pribadi yang rendah hati dan zuhud, menjauhi diri dari hiruk pikuk kehidupan politik Kerajaan Pajang. Panembahan Bodho hidup di era Hadiwijaya atau Joko Tingkir yang berkali – kali ditawari posisi sebagai penasihat Kerajaan Pajang. Tetapi karena pesan ayah Beliau, Panembahan Bodho menolak dan memilih menjadi kyai.

Menjelang sholat jumat, perjalanan kami lanjutkan dengan menapaki jejak wali dari Cirebon yang dimakamkan di Yogyakarta. Belaiu adalah Panembahan Ratu Abdul Karim, Sultan Cirebon. Masyarakat sekitar mengenalnya dengan sebutan Pangeran Cirebon. Letak makam Beliau berada di atas bukit Girilaya yang untuk menuju kesana harus menaiki ratusan anak tangga. Kamipun bersyukur dapat sholat jumat di mesjid girilaya yang umurnya sama tuanya dengan pemakaman girilaya.

Menjelang berbuka puasa, kami kembali ke Masjid Agung Yogyakarta. Kami turut serta menunggu berbuka dengan masyarakat Yogyakarta di Masjid Agung. Duduk bersama mendengarkan ceramah yang secara tradisi diadakan menjelang buka puasa, turut mencicipi takjil dan teh hangat manis, sholat maghrib berjamaah lalu berbuka bersama dengan menu ayam bakar yang lezat.

Yogyakarta adalah salah satu kota yang mendapatkan sebutan daerah istimewa di Indonesia. Menjadi istimewa tidak hanya karena tertulis di peraturan tata negara tetapi juga karena kekayaan sejarah, adat istiadat dan budayanya. Dalam sejarah penyebaran agama Islam di pulau Jawa, kota Yogyakarta menyimpan peninggalan – peninggalan kejayaan masa peradaban islam di Jawa pada kurun waktu antara abad 14 hingga 17 Masehi. Oleh sebab itu, Campa Tour mengadakan tour ramadan dengan tema The Soul Ancient of Islam, mengajak peserta untuk tak hanya berwisata tetapi juga mengenal sejarah, menyaksikan peninggalan kejayaan masa peradaban islam yang tak lekang dimakan waktu.

menjelaskan makna relief di Masjid Agung Yogyakarta

Explaining the relief in the Holy Mosque of Yogyakarta.  Photo Courtesy of: Andhini Dewi

Jejak perjalanan bagian pertama
Suara adzan subuh terdengar dari corong masjid Agung Yogyakarta, hari itulah pertama kali menginjakkan kaki di tanah Mataram Islam. Setelah usai sholat subuh, kami berkumpul sejenak, saling ramah tamah dan memperkenalkan diri. Campa Tour mengambil tema tur Ramadhan kali ini adalah mengenai kejayaan masa peradaban islam di Jawa pada kurun waktu antara abad 14 hingga 17 Masehi. Perjalanan ini menjadi napak tilas sejarah positif perdaban Islam.
Dengan mendatangi situs peninggalan para wali penyeru dakwah dan para raja-raja yang terkenal alim dan sangat dicintai rakyatnya dapat membawa wisatawan memaknai lebih dalam akan indahnya masa lalu

Situs pertama yang ditelaah adalah masjid agung Yogyakarta. Di balik kemegahannya ternyata masjid agung Yogyakarta mempunyai filosofi yang mendalam yang terlihat di simbol-simbol ornamen pada arsitektur masjid. Pesan yang disampaikan adalah ketika seseorang yang sholat di mesjid Agung Yogyakarta kelak dapat menjadi manusia yang memaknai ritual keagamaan dengan mengaplikasikan nilai-nilai ibadah ke dalam dimensi kemanusiaan.

Perjalanan kami lanjutkan ke sebuah museum di Daerah Pleret Bantul. Disana terdapat puing – puing peninggalan keraton Pleret, arca – arca dan puing – puing masjid agung Pleret. Pleret menjadi destinasi Campa Tour karena merupakan bagian penting dari era Mataram. Di Pleret kita akan mengenal lebih dalam sosok Sultan Agung sebagai pemimpin mataram yang menginginkan kejayaan Islam kembali di bumi Yogyakarta.

Dari Pleret kunjungan kami lanjutkan ke sebuah makam wali di daerah Bantul. Panembahan Bodho namanya, beliau adalah pribadi yang rendah hati dan zuhud, menjauhi diri dari hiruk pikuk kehidupan politik Kerajaan Pajang. Panembahan Bodho hidup di era Hadiwijaya atau Joko Tingkir yang berkali – kali ditawari posisi sebagai penasihat Kerajaan Pajang. Tetapi karena pesan ayah Beliau, Panembahan Bodho menolak dan memilih menjadi kyai.

Menjelang sholat jumat, perjalanan kami lanjutkan dengan menapaki jejak wali dari Cirebon yang dimakamkan di Yogyakarta. Belaiu adalah Panembahan Ratu Abdul Karim, Sultan Cirebon. Masyarakat sekitar mengenalnya dengan sebutan Pangeran Cirebon. Letak makam Beliau berada di atas bukit Girilaya yang untuk menuju kesana harus menaiki ratusan anak tangga. Kamipun bersyukur dapat sholat jumat di mesjid girilaya yang umurnya sama tuanya dengan pemakaman girilaya.

Menjelang berbuka puasa, kami kembali ke Masjid Agung Yogyakarta. Kami turut serta menunggu berbuka dengan masyarakat Yogyakarta di Masjid Agung. Duduk bersama mendengarkan ceramah yang secara tradisi diadakan menjelang buka puasa, turut mencicipi takjil dan teh hangat manis, sholat maghrib berjamaah lalu berbuka bersama dengan menu ayam bakar yang lezat.

About Author

client-photo-1
Campa Tour & Event

Comments

Leave a Reply