Menemukan Ketenangan di Kampung Adat Saga: Destinasi Wajib Overland Flores Terletak di puncak perbukitan Kabupaten Ende, Kampung Saga adalah rumah bagi masyarakat etnis Lio yang masih memegang teguh adat istiadat. Berbeda dengan destinasi populer lainnya, Saga memberikan suasana yang lebih intim dan autentik bagi para petualang yang ingin merasakan denyut nadi kehidupan asli Flores. Daya Tarik Kampung Saga 1. Arsitektur Rumah Adat "Sa’o Aria" Rumah-rumah adat di Kampung Saga dibangun tanpa menggunakan paku, melambangkan kekuatan ikatan persaudaraan dan alam. Bentuk atapnya yang menjulang tinggi bukan hanya sekadar estetika, melainkan simbol penghormatan kepada arwah leluhur yang dipercaya bersemayam di tempat tinggi. 2. Panorama Bukit yang Magis Karena letaknya yang berada di ketinggian, Kampung Saga menawarkan lanskap perbukitan hijau yang berlapis-lapis. Saat kabut pagi turun, desa ini tampak seolah melayang di atas awan—momen sempurna bagi Anda pencinta fotografi lanskap. 3. Tekstil Tenun Ikat yang Legendaris Flores terkenal dengan tenunnya, namun tenun ikat dari Saga memiliki motif khas yang merepresentasikan status sosial dan filosofi hidup masyarakat Lio. Anda bisa melihat langsung proses pembuatannya yang memakan waktu berbulan-bulan menggunakan pewarna alami. Rangkaian Perjalanan Overland Flores Bersama Campa Tour Menjelajahi Kampung Saga biasanya menjadi bagian dari rute besar Overland Flores yang melintasi pulau dari Labuan Bajo hingga Larantuka. Rute: Perjalanan dimulai dari Kota Ende menuju arah timur. Akses jalan yang berkelok akan terbayar tuntas saat Anda melihat jajaran rumah adat yang berderet rapi di lereng bukit. Fasilitas: Campa Tour menyediakan pemandu lokal yang fasih menceritakan sejarah lisan kampung ini, memastikan Anda tidak hanya sekadar berkunjung, tapi juga memahami makna di balik setiap tradisi. Aktivitas: Mengikuti ritual adat (jika waktu tepat), belajar menun, hingga berinteraksi langsung dengan para tetua adat yang ramah. Tips Berkunjung ke Kampung Saga Etika dan Kesopanan: Mintalah izin melalui pemandu sebelum memasuki area sensitif atau mengambil foto penduduk lokal. Kenakan Pakaian yang
Menemukan Ketenangan di Kampung Adat Saga: Destinasi Wajib Overland Flores Terletak di puncak perbukitan Kabupaten Ende, Kampung Saga adalah rumah bagi masyarakat etnis Lio yang masih memegang teguh adat istiadat. Berbeda dengan destinasi populer lainnya, Saga memberikan suasana yang lebih intim dan autentik bagi para petualang yang ingin merasakan denyut nadi kehidupan asli Flores. Daya
Sasando: Dawai Surga dari Pulau Ratu Petualang Sasando berasal dari kata dalam bahasa Rote, "Sasandu", yang berarti alat yang bergetar atau berbunyi. Keunikan utamanya terletak pada bahan dasarnya yang sangat organik: bambu untuk tabung resonansi, kawat halus untuk dawai, dan daun lontar yang dikeringkan sebagai wadah resonansi yang menyerupai kipas atau cangkang. Filosofi Daun Lontar dan Kehidupan Rote Pulau Rote sering disebut sebagai "Pulau Lontar". Bagi orang Rote, pohon lontar adalah pohon kehidupan. Air niranya diminum, buahnya dimakan, batangnya untuk bangunan, dan daunnya dianyam menjadi topi Ti’i Langga hingga instrumen musik Sasando. Penggunaan daun lontar pada Sasando membuktikan bahwa masyarakat Rote memiliki kreativitas tinggi dalam memanfaatkan alam tanpa merusaknya—sebuah nilai yang sangat dijunjung oleh Campa Tour. Jenis-Jenis Sasando Saat Anda berkunjung ke Rote, Anda akan menemukan dua jenis Sasando utama: Sasando Gong: Memiliki 11 dawai dan biasanya digunakan untuk lagu-lagu tradisional dengan tangga nada pentatonik. Sasando Biola: Memiliki dawai yang lebih banyak (hingga 32 atau lebih) dengan tangga nada diatonik, memungkinkan pemainnya membawakan lagu-lagu modern dan internasional. Eksplorasi Budaya Rote Bersama Campa Tour Melalui layanan "Shoot My Trip", kami memastikan perjalanan Anda di Pulau Rote terdokumentasi dengan apik—mulai dari momen Anda belajar memetik dawai Sasando hingga menikmati matahari terbenam di Pantai Nembrala yang mendunia. Itinerary Budaya Singkat: Kunjungan ke Pengrajin Sasando: Melihat langsung proses penjemuran daun lontar dan pemasangan dawai yang memerlukan ketelitian tinggi. Workshop Musik: Belajar teknik dasar memetik Sasando langsung dari maestro lokal. Performa Budaya: Menikmati lantunan lagu daerah Rote yang menghanyutkan di pinggir pantai. Tips Menikmati Wisata Budaya di Rote Dukung Pengrajin Lokal: Membeli Sasando miniatur atau produk anyaman lontar lainnya adalah cara terbaik untuk membantu pelestarian budaya lokal. Waktu Terbaik: Berkunjunglah antara bulan Mei hingga September saat cuaca cerah dan banyak festival budaya diadakan di Pulau Rote. Hargai Tradisi: Selalu minta izin sebelum mencoba memainkan Sasando
Sasando: Dawai Surga dari Pulau Ratu Petualang Sasando berasal dari kata dalam bahasa Rote, “Sasandu”, yang berarti alat yang bergetar atau berbunyi. Keunikan utamanya terletak pada bahan dasarnya yang sangat organik: bambu untuk tabung resonansi, kawat halus untuk dawai, dan daun lontar yang dikeringkan sebagai wadah resonansi yang menyerupai kipas atau cangkang. Filosofi Daun Lontar
Membaca Langit Nusantara: Warisan Astronomi Tradisional Indonesia Sebelum kompas digital dan GPS ditemukan, masyarakat Indonesia sudah memiliki sistem penanggalan dan navigasi yang sangat akurat berbasis posisi benda langit. Berikut adalah beberapa konsep astronomi asli dari berbagai daerah: 1. Pranata Mangsa (Jawa) Sistem penanggalan ini sangat krusial bagi petani di Jawa untuk menentukan waktu tanam dan panen. Salah satu penanda utamanya adalah rasi bintang Luku (atau rasi bintang Orion). Ketika rasi Luku muncul di arah timur setelah matahari terbenam, itu adalah pertanda musim tanam segera tiba. "Luku" sendiri berarti alat bajak sawah, menggambarkan bagaimana masyarakat Jawa menghubungkan bentuk rasi bintang dengan alat kerja mereka sehari-hari. 2. Navigasi Bintang Masyarakat Bugis-Makassar Pelaut Bugis dikenal sebagai nahkoda tangguh yang menjelajahi samudera hingga ke Australia. Mereka menggunakan Bintang Pari (Crux/Salib Selatan) yang mereka sebut sebagai Bintoéng Kamasé untuk menentukan arah selatan, dan rasi Orion sebagai penentu arah barat. Pengetahuan ini diturunkan melalui lagu dan syair agar mudah diingat oleh para pelaut muda. 3. Waruga dan Tata Letak (Minahasa) Masyarakat Minahasa kuno membangun pemakaman Waruga dengan arah yang selaras dengan posisi matahari. Prinsip ini menunjukkan pemahaman mendalam tentang siklus gerak semu matahari (ekliptika) dan hubungannya dengan konsep kehidupan serta kematian dalam budaya lokal. 4. Astronomi di Candi Borobudur Candi Borobudur bukan sekadar monumen keagamaan, melainkan juga sebuah instrumen astronomi raksasa. Penelitian menunjukkan bahwa stupa puncak dan pola bayangan matahari pada waktu-waktu tertentu bertindak sebagai gnomon (jam matahari) untuk menentukan pergantian musim. Wisata Astronomi (Astrotourism) Bersama Campa Tour Melalui konsep "A New Way of Travel", Campa Tour mengajak Anda mengunjungi lokasi-lokasi dengan polusi cahaya rendah untuk melakukan stargazing sambil mempelajari mitologi bintang lokal. Destinasi Astrotourism Terbaik: Wae Rebo, Flores: Di desa di atas awan ini, Anda bisa melihat Bima Sakti (Milky Way) dengan sangat jelas tanpa gangguan lampu kota. Kawah Ijen & Baluran: Area terbuka di
Membaca Langit Nusantara: Warisan Astronomi Tradisional Indonesia Sebelum kompas digital dan GPS ditemukan, masyarakat Indonesia sudah memiliki sistem penanggalan dan navigasi yang sangat akurat berbasis posisi benda langit. Berikut adalah beberapa konsep astronomi asli dari berbagai daerah: 1. Pranata Mangsa (Jawa) Sistem penanggalan ini sangat krusial bagi petani di Jawa untuk menentukan waktu tanam dan
Socio Travel: Menelusuri Jejak Akulturasi di Festival Cap Go Meh 2026 Socio Travel adalah cara baru menikmati perjalanan dengan mengedepankan interaksi sosial dan kontribusi positif terhadap destinasi yang dikunjungi. Dalam konteks Festival Cap Go Meh, hal ini berarti mendukung ekonomi perajin atribut festival, menjaga kebersihan area prosesi, serta menghargai keberagaman yang menjadi fondasi utama acara ini. Destinasi Utama Cap Go Meh di Indonesia 1. Singkawang, Kalimantan Barat (Kota Seribu Kelenteng) Singkawang adalah pusat perayaan Cap Go Meh terbesar di Asia Tenggara. Keunikan utamanya adalah parade Tatung, di mana ratusan orang menunjukkan kekebalan tubuh dalam kondisi tidak sadar. Socio Impact: Dengan berkunjung ke sini, Anda mendukung keberlanjutan tradisi lokal yang melibatkan ribuan perajin kostum dan peralatan ritual. 2. Bogor, Jawa Barat (Street Festival Jalan Suryakencana) Dikenal dengan tajuk Bogor Street Festival, acara ini adalah simbol toleransi terbaik di Indonesia. Doa bersama antarumat beragama membuka jalannya pawai Barongsai dan Liong. Socio Impact: Campa Tour mengajak peserta untuk mendukung UMKM kuliner lokal di sepanjang Jalan Suryakencana yang legendaris. 3. Pulau Kemaro, Palembang Perayaan di tengah Sungai Musi ini menawarkan suasana yang magis dengan ribuan lampion merah yang menghiasi pulau. Legenda cinta antara saudagar Tiongkok dan putri Palembang menambah kedalaman makna kunjungan Anda. Pengalaman "Shoot My Trip" di Tengah Festival Mengambil foto di tengah kerumunan festival memerlukan teknik khusus. Tim Campa Tour akan mendampingi Anda untuk menangkap momen-momen paling emosional: Human Interest: Ekspresi khusyuk para umat saat sembahyang. Action Shot: Gerakan dinamis naga dan singa saat menari. Detail: Warna-warni kostum dan ornamen kelenteng yang estetik. Tips Menjalankan Socio Travel saat Cap Go Meh Gunakan Transportasi Publik/Jalan Kaki: Mengurangi kemacetan di area festival membantu kelancaran prosesi bagi warga lokal. Belanja Produk Lokal: Belilah pernak-pernik atau makanan dari pedagang kecil di sekitar area acara. Hargai Privasi Ritual: Saat mengambil foto melalui layanan "Shoot My Trip", pastikan
Socio Travel: Menelusuri Jejak Akulturasi di Festival Cap Go Meh 2026 Socio Travel adalah cara baru menikmati perjalanan dengan mengedepankan interaksi sosial dan kontribusi positif terhadap destinasi yang dikunjungi. Dalam konteks Festival Cap Go Meh, hal ini berarti mendukung ekonomi perajin atribut festival, menjaga kebersihan area prosesi, serta menghargai keberagaman yang menjadi fondasi utama acara
Dalam suat kunjungan ke Dusun Kapayang tempat bermukim Dayak Meratus, ada seorang Ibu yang begitu bersahabat menerima kami. Ia baru saja turun dari hutan, menggendong balihung di punggung, berisikan pecahan pohon kayu manis. Peserta kami, Mustaqim, penasaran seperti apa rasanya menggendong balihung. Si Ibu dengan baik hati mempersilakan Mustaqim untuk mencoba. Setelah mengisi balihung dengan kulit kayu manis yang sudah direndam seharian, si Ibu menyerahkan balihung untuk dipakai oleh Mustaqim. Menaiki undakan satu demi satu. Terus berjalan menuju dusun atas, karena rumah si Ibu terletak di atas, persis tepi atas sisi sungai. Setelah berat menahan titik beban di kepala dan pundak, akhirnya sampai juga di depan rumah. "Bagaimana rasanya?" saya bertanya. Lepas menghela nafas dan mengumpulkan tenaga Taqim menjawab, "Ternyata, berat..." Kami pun hanya meringis. Seusai bersih diri sehabis turun dari hutan, si Ibu pun melanjutkan aktivitasnya, mengumpulkan hasil kulit kayu manis. Sementara Taqim berinteraksi dengan penduduk setempat, saya memperhatikan si Ibu. Karena penasaran, saya bertanya, "Bu...apa boleh saya masuk ke dalam rumah..? Saya ingin tahu rumah penduduk Kapayang seperti apa.." Si Ibu menjawab senang, "Pasti boleh!" Dengan senang hati saya masuk ke dalam rumahnya. Di antara rumah penduduk yang lain, saya rasa ini termasuk rumah yang cukup luas. Ada satu ruang utama dan satu kamar. Sisanya adalah dapur dan tempat mencuci perabotan. Di atas lemari dapur terdapat banyak balihung. Penduduk asli Dayak Meratus memang sudah terbiasa membuat sendiri balihung mereka. Yang menarik adalah bagian paling akhir dari rumah. Di sisi samping dan belakang, terdapat jendela besar. Ketika saya membukanya, langsung terpapar pemandangan sungai di depan bawah rumah. Suara gemericik air sungai yang berbenturan dengan batu pun terdengar jelas. Saya tersenyum ke arah sang Ibu. "Senang sekali Bu, punya rumah seperti ini. Auranya segar," ucap saya sekaligus berterima kasih karena sudah diperbolehkan masuk meneliti rumahnya. Si Ibu tersenyum senang. Lalu
Dalam suat kunjungan ke Dusun Kapayang tempat bermukim Dayak Meratus, ada seorang Ibu yang begitu bersahabat menerima kami. Ia baru saja turun dari hutan, menggendong balihung di punggung, berisikan pecahan pohon kayu manis. Peserta kami, Mustaqim, penasaran seperti apa rasanya menggendong balihung. Si Ibu dengan baik hati mempersilakan Mustaqim untuk mencoba. Setelah mengisi balihung dengan
Jika kita mendengar kata Kalimantan, pasti pikiran kita langsung terasosiasi dengan Suku Dayak. Ternyata, Suku Dayak pun banyak ragamnya. Di Kalimantan Selatan, nama yang familiar dikenal adalah Dayak Meratus. Kehidupan Dayak Meratus sangat dekat dengan padi. Yuk, simak ulasan campatour.com tentang padi dan Dayak Meratus. Padi sebagai Sumber Kehidupan Bagi masyarakat Dayak Meratus, hutan merupakan sumber kehidupan mereka. Masyarakat Dayak Deah di Kabupaten Tabalong juga memanfaatkan hutan di Pegunungan Meratus sebagai sumber kehidupan. Mereka membuka hutan untuk dijadikan ladang kemudian menjadi kebun karet ataupun kebun kayu manis dan kemiri. Sekitar 15-20 tahun kemudian mereka kembali menjadikannya sebagai lahan padi. Akan tetapi di Hananai ataupun di Pinai, Kabupaten Banjar, yang warganya memilih menambang emas, mereka membiarkan huma setelah panen padi dipenuhi semak-semak. Mereka menanam padi di huma baru dan baru kembali ke huma semula tiga tahun kemudian. Satu hektar huma, menurut Ruwai, mantan Kepala Desa Patikalaen, Hantakan, dapat menghasilkan padi 800-1.000 gantang. Satu gantang sebanyak lima liter. Padi itu akan disimpan di lulung (wadah terbuat dari kayu kulit damar). Ada banyak lulung di dalam lumbung yang dimiliki setiap keluarga Dayak Meratus. “Bisa tahan 15 tahun,” ujar Ruwai. Mereka panen padi setahun sekali. Umur padi adalah enam bulan. Mereka membutuhkan waktu 2-3 bulan untuk mengolah lahan, 1-2 bulan menunggu musim tanam, dan 1-3 bulan untuk masa panen. Praktis, mereka membutuhkan 12 bulan untuk mengolah padi. Akan tetapi, mereka tidak menjual padi. Mereka memiliki stok pangan yang cukup untuk beberapa tahun. “Kami di gunung, jauh dari mana-mana, kalau kami menjual padi, dan terjadi kemarau panjang sehingga kami tidak dapat tanam padi, kami makan apa nanti?” ujar Galimun, tetua adat Dayak Meratus Kecamatan Hantakan. Duntin dan Paliansyah (Ketua Balai Adat Tamburasak dan Bendahara Balai Adat Tamburasak) menyebut ada 26 jenis padi yang ditanam di Pegunungan Meratus. Tim ekspedisi menemukan dua jenis lagi di desa lain
Jika kita mendengar kata Kalimantan, pasti pikiran kita langsung terasosiasi dengan Suku Dayak. Ternyata, Suku Dayak pun banyak ragamnya. Di Kalimantan Selatan, nama yang familiar dikenal adalah Dayak Meratus. Kehidupan Dayak Meratus sangat dekat dengan padi. Yuk, simak ulasan campatour.com tentang padi dan Dayak Meratus. Padi sebagai Sumber Kehidupan Bagi masyarakat Dayak Meratus, hutan merupakan sumber
Setiap tempat pasti menyimpan misteri sejarahnya masing-masing.campatour.com mencoba mengungkap sejarah kejayaan kerajaan di Kalimantan Selatan. Dari berbagai sumber, Campa Tour merangkumkannya dalam tulisan ini. Pada tahun 8000 SM, migrasi I, manusia mendiami gua-gua di Pegunungan Meratus. Kelompok ini melanjutkan migrasi ke pulau Papua dan Australia. Fosilnya ditemukan di Gua Babi di Gunung Batu Buli, Desa Randu, Muara Uya, Tabalong. Lalu, pada tahun 2500 SM, migasi II, yaitu bangsa Austronesia dari pulau Formosa ke pulau Borneo dengan membawa adat ngayau yang menjadi nenek moyang suku Dayak. Pada tahun 400 M, peninggalan tertua yang diketahui dari agama Hindu di Kalimantan berupa yupa yang ditemukan di daerah Kutai. Lalu pada tahun 242-1362 M, berdiri Kerajaan Tanjungpuri di Tanjung, Tabalong yang didirikan suku Melayu. Kerajaan Nan Sarunai Kerajaan Nan Sarunai adalah pemerintahan purba yang muncul dan berkembang di wilayah Kalimantan Selatan (administrative sekarang), tepatnya di antara wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara dan Kabupaten Tabalong. Kerajaan Nan Sarunai merupakan bagian awal dari riwayat panjang Kesultanan Banjar, salah satu pemerintahan kerajaan terbesar yang pernah ada di Kalimantan Selatan. Kerajaan Nan Sarunai terkait erat dengan kehidupan orang-orang Suku Dayak Maanyan, salah satu sub Suku Dayak tertua di tanah Borneo. Kerajaan purba yang dikelola oleh orang-orang Suku Dayak Maanyan ini disebutkan dengan nama yang berbeda-beda. Selain Nan Sarunai, nama-nama lain yang juga diyakini sebagai nama kerajaan ini adalah Kerajaan Kuripan, Kerajaan Tanjungpuri, dan Kerajaan Tabalong. Nama Kerajaan Tabalong disertakan karena kerajaan ini terletak di tepi Sungai Tabalong. Sungai Tabalong adalah anak sungai Bahan, sedangkan Sungai Bahan adalah anak Sungai Barito yang bermuara ke Laut Jawa. Selain itu, muncul pendapat berbeda yang menyatakan bahwa Kerajaan Tanjungpuri berbeda dengan Kerajaan Nan Sarunai. Pendapat ini meyakini bahwa Kerajaan Tanjungpuri bukan pemerintahan yang dikelola oleh Suku Dayak Maanyan, melainkan oleh orang-orang Melayu Palembang yang merupakan pelarian dari Kerajaan Sriwijaya. Versi yang satu ini
Setiap tempat pasti menyimpan misteri sejarahnya masing-masing.campatour.com mencoba mengungkap sejarah kejayaan kerajaan di Kalimantan Selatan. Dari berbagai sumber, Campa Tour merangkumkannya dalam tulisan ini. Pada tahun 8000 SM, migrasi I, manusia mendiami gua-gua di Pegunungan Meratus. Kelompok ini melanjutkan migrasi ke pulau Papua dan Australia. Fosilnya ditemukan di Gua Babi di Gunung Batu Buli, Desa Randu,
Pasti setiap orang pernah mendengar nama kota Banjarmasin. Tapi tahukah kamu darimana asal mula nama kota ini berasal? campatour.com mencoba menuliskannya: Sejarah pemerintahan di Kalimantan Selatan diperkirakan dimulai ketika berdirinya Kerajaan Tanjung Puri pada sekitar abad ke-5. Letak kerajaan ini cukup strategis, yaitu di kaki Pegunungan Meratus dan tepi sungai besar sehingga di kemudian hari menjadi Bandar yang cukup maju. Kerajaan Tanjung Puri dapat juga disebut Kerajaan Kahuripan yang cukup dikenal sebagai wadah pertama hibridasi, yaitu percampuran antarsuku dengan segala komponennya. Setelah itu, berdiri kerajaan atau Negara Dipa yang dibangun perantau dari Jawa. Pada abad ke-14, muncul Kerajaan atau Negara Daha yang memiliki unsur-unsur kebudayaan Jawa dan akibat pendangkalan sungai di wilayah Negara Dipa. Sebuah serangan datang dari Jawa dengan maksud menghancurkan kerajaan Dipa. Untuk menyelamatkan kerajaan, dinasti baru pimpinan Maharaja Sari Kaburangan segera naik tahta dan memindahkan pusat pemerintahan ke arah hilir, yaitu ke arah laut di Muhara Rampiau. Negara Dipa terhindar dari kehancuran total, bahkan dapat menata diri menjadi besar dengan nama Negara Daha dan raja sebagai pemimpin utamanya. Negara Daha akhirnya mengalami kemunduran dengan munculnya perebutan kekuasaan sejak Pangeran Samudra mengangkat senjata dari arah muara. Selain itu, dia juga mendirikan rumah bagi para patih yang berada di muara. Pemimpin utama para patih itu bernama “masih”. Tempat tinggal para masih ini dinamakan Bandarmasih. Raden Samudra mendirikan istana di tepi Sungai Kuwin untuk para patih tersebut. Kota ini kelak dinamakan Banjarmasin yang berasal dari kata Bandarmasih. Ada pula pendapat lain tentang etimologi Banjarmasin. Dalam bahasa Jawa, Banjarmasin berarti taman asin, sedangkan sejarah Jawa Barat mencatat nama Banjarmasin berasal dari keluarga keraton Kerajaan Mahasin di Singapura yang mengungsi ke daerah Banjar karena serangan Sriwijaya, kemudian berdirilah Kerajaan Banjar Mahasin, namun nama asli kota Banjarmasin adalah Banjar-Masih, pada tahun 1664 orang Belanda masih menulisnya Banjarmasch atau Banzjarmasch. Pendapat manakah yang paling benar?
Pasti setiap orang pernah mendengar nama kota Banjarmasin. Tapi tahukah kamu darimana asal mula nama kota ini berasal? campatour.com mencoba menuliskannya: Sejarah pemerintahan di Kalimantan Selatan diperkirakan dimulai ketika berdirinya Kerajaan Tanjung Puri pada sekitar abad ke-5. Letak kerajaan ini cukup strategis, yaitu di kaki Pegunungan Meratus dan tepi sungai besar sehingga di kemudian hari menjadi
Campa Tour turut hadir memenuhi undangan acara Peresmian dan Familirization Tour Bajo Mola (7-9 Agustus 2015). Acara ini diselenggarakan oleh British Council dan Bank Mandiri. Mola adalah salah satu desa wisata di Indonesia yang memiliki daya tarik khas untuk dikunjungi. Terletak di Pulau Wangiwangi, Wakatobi-Sulawesi Tenggara, Mola memberi pengalaman wisata budaya berbalut pengalaman bahari. Kawasan Bajo Mola, dikembangkan selama ±2 tahun menjadi sebuah desa wisata yang tumbuh dan berkembang berkat inisiatif masyarakatnya sendiri. Dalam hal ini, British Council dan Bank Mandiri bekerjasama mengembangkan 5 desa di kawasan Mola, yaitu Desa Mola Utara, Mola Selatan, Mola Bahari, Mola Samaturu, dan Mola Nelayan Bakti melalui program Mandiri bersama Mandiri – Pariwisata Berkelanjutan (MBM PB). Dengan memberikan dukungan pelatihan serta program pembinaan, diharapkan dapat membantu masyarakat dalam mengembangkan ekowisata budaya Bajo Mola. British Council dan Bank Mandiri meyakini, kualitas daya tarik wisata tentu juga dipengaruhi oleh bagaimana masyarakat lokal mengelola destinasi pariwisata yang berkelanjutan secara mandiri. Kini, tiba saatnya masyarakat mengelola secara mandiri Desa Mola menjadi sebuah destinasi wisata yang berkualitas. Dihadiri oleh para pelaku trend wisata kekinian, Campa Tour, Kelanarasa, Wonderlust, dan KartuPos; serta berbagai media nasional, KompasTV, MNCTV, Media Indonesia, KompasTravel, Koran Kompas, Kontan, Detik.com, Jakarta Post, dan lain-lain, disaksikan oleh Bupati Wakatobi, Kemenparekraf, serta berbagai tokoh masyarakat, kawasan wisata Mola resmi diluncurkan.
Campa Tour turut hadir memenuhi undangan acara Peresmian dan Familirization Tour Bajo Mola (7-9 Agustus 2015). Acara ini diselenggarakan oleh British Council dan Bank Mandiri. Mola adalah salah satu desa wisata di Indonesia yang memiliki daya tarik khas untuk dikunjungi. Terletak di Pulau Wangiwangi, Wakatobi-Sulawesi Tenggara, Mola memberi pengalaman wisata budaya berbalut pengalaman bahari. Kawasan
Seorang kawan mengajak saya berkunjung ke Desa Lengkong, Serpong. Desa yang terletak di tengah kota BSD City. Nama yang cukup menarik ketika mendengarnya. Paling tidak, membuat saya penasaran darimana nama tersebut berasal. Kata Lengkong diambil dari asal tempat pendiri kampung ini, Raden Arya Wangsa Di Kara, di Sumedang. Raden Wangsa di Kara, atau Raden Arya Wangsakara adalah seorang ulama dan dapat dipastikan adalah Pangeran Arya Wiraraja II yang berasal dari Sumedang, yang memiliki benang merah dengan Kesultanan Cirebon. Ia pindah ke Banten untuk menghindari dari tekanan Kerajaan Mataram dan dari Pemberontakan Dipati Ukur. Selain itu, kata Lengkong ini juga menunjukkan bahwa lokasi kampung ini berada pada sebuah lingkung air; sungai. Foto oleh Bapak Yusri (Kepala SMK Plus BLM). Bersama kawan-kawan TripTrus dan Koperasi Jasa Wisata Mandiri Nusantara menyusur aliran Sungai Cisadane di Desa Lengkong Wetan (sebelah kanan tertutup pepohonan). Raden Arya Wangsakara bergelar Pangeran Wiraraja II atau terkenal dengan julukan Imam Haji Wangsaraja. Ayahnya bernama Pangeran Wiraraja I atau bergelar Pangeran Lemah Beureum Ratu Sumedang Larang. Ibunya bernama Putri Dewi Cipta, anak Raden Kidang Palakaran cucu Pucuk Umun dari Banten. Berdasarkan silsilah tersebut, Arya Wangsakara berasal dari Sumedang dan Cirebon, sementara pihak ibu berasal dari Banten. Setelah berpindah-pindah beberapa kali, akibat ancaman dari VOC, akhirnya Raden Arya Wangsakara mendapatkan lokasi yang tepat. Lokasi kampung ini strategis tersembunyi dan terlindungi oleh alam (hutan bambu) dan dilingkungi Sungai Cisadane dan kali kecil. Dan uniknya, penentuan lokasi yang dilakukan beliau berdasarkan pemilihan bagian alur Sungai Cisadane yang secara kebetulan menghadap kiblat, yakni 25 derajat dari barat ke utara. Hal ini mempengaruhi posisi bangunan rumah-rumah santri yang berupa gubug panggung yang mengikuti posisi kiblat, serta bagian memanjang rumah tersebut menghadap sungai dan bukit. Bangunan yang pertama kali dibangun adalah masjid yang menjorok ke dekat sungai, lalu gubug-gubug para santri. Foto oleh Muhammar Khamdevi. Peta
Seorang kawan mengajak saya berkunjung ke Desa Lengkong, Serpong. Desa yang terletak di tengah kota BSD City. Nama yang cukup menarik ketika mendengarnya. Paling tidak, membuat saya penasaran darimana nama tersebut berasal. Kata Lengkong diambil dari asal tempat pendiri kampung ini, Raden Arya Wangsa Di Kara, di Sumedang. Raden Wangsa di Kara, atau Raden Arya