Bercengkrama Bersama Masyarakat Wae Rebo

waerebo9

Pagi hari saat matahari masih belum menampakan diri suasana di Wae Rebo masih sangat sepi, hal terbaik yang dilakukan adalah menunggu sinar matahari dari bukit dimana taman bacaan pelangi berdiri kokoh beraksitektur rumah adat khas Wae Rebo. Di sanalah semua pemandangan alam dan kampung akan terlihat indah.

Setelah puas mengambil foto kampung saat matahari mulai menerangi tanah Wae Rebo, berinteraksi dengan masyarakat adalah hal yang terbaik untuk sekedar menikmati hangatnya sambutan masyarakat dan sekaligus mengetahui lebih dalam seluk beluk desa beserta tradisinya. Masyarakat Wae Rebo sangat terbuka, mereka sangat senang ketika rumah mereka dikunjungi oleh tamu, terutama saat pagi hari mereka berkumpul di pusat rumah Mbaru Niang. Para lelaki bercerita sambil minum kopi dan makan cemilan umbi rebus yang manis sebelum mereka sarapan.

Saat Ibu Rofina menyiapkan nasi, banyak hal yang dibicarakan ketika pagi hari. Mulai dari cerita kejadian-kejadian saat di hutan atau di kebun kopi, hingga berita-berita terbaru yang mereka dapat dari kampung Ende. Jika tamu aktif bertanya soal sejarah atau budaya, mereka pasti akan menceritkan banyak hal soal Wae Rebo. Bapak Blasius misalnya dia bercerita soal kampung adat Wae Rebo yang terletak di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur dan kaitannya dengan Minangkabau.

Bapak Blisius bercerita soal Wae Rebo yang secara tradisi lesan masyarakat nenek moyang mereka yang bernama Maro berasal dari Minangkabau, yang kemudian belayar menuju ke selatan dan akhirnya menemukan Pulau Flores. Setelah itu mereka mencari lokasi, pertama kali Mereka pindah ke Liho Dari Liho, kemudian pindah ke Ndara, Golo Damu, dan Golo Pandu, setelah itu pindah ke pegunungan Poncoroko. Blasius bercerita soal Kedekatan budaya mereka dengan Suku Minang yang dapat dilihat dari bentuk rumah dan tradisi pernikahan mereka yang hampir sama.

Selain itu, soal bentuk rumah adat Wae Rebo yang selalu dikaitkan dengan bentuk sarang laba-laba yang juga terjadi dalam pola pembagian sawah yang ditanami padi oleh Suku Manggarai. Pola pembagian sawah ini juga menyerupai sarang laba-laba yang mengerucut di bagian tengah, dengan alur pembagian seperti petak-petak yang dibuat oleh laba-laba untuk menjerat mangsanya. Sawah yang berbentuk sarang laba-laba ini ditemukan di Lembor dan Cancar.

Sarang laba-laba sangat terlihat pula dalam pola susun rumah adat Wae Rebo, karena polanya melingkar dan tepat di tengah-tengahnya terdapat batuan yang disusun membentuk lingkaran. Pada bagian lingkaran itu terdapat semacam altar yang terbuat dari bambu untuk meletakan sesembahan para leluhur. Susunan batuan itu disebut sebagai Compang untuk upacara adat. Batuan berbentuk bulat itulah pusat jaring-jaring dalam rumah laba-laba yang di kelilingi oleh rumah tujuh buah dan satu buah rumah leluhur yang berupa bukit kecil tempat makam para leluhur.

Filosofi dan sejarah semua diceritakan oleh mereka tanpa ditutup-tutupi, sehingga kita akan banyak memahami makna interaksi yang mampu membuka tabir masyarakat Wae Rebo. Tentu akan terbanyang ketika pagi itu tidak lekas bangun, dan mengunjungi salah satu Mbaru Niang. mungkin selamanya di Wae Rebo yang akan kita temui hanyalah fisik Wae Rebo yang terdiri atas tujuh rumah adat, berbentuk kerucut yang mempunyai diameter 12-15 meter, dengan ketinggian 8-10 meter. Bagian atap yang menjuntai hingga menutupi sebagian besar bangunan ini dibuat dari rumput khusus dengan dilapisi ijuk agar lebih kuat jika diterjang angin dan air hujan, semua dibangun di atas pegunungan Pocoroko dengan ketinggian 1100 mdpl yang menghadap langsung ke Samudera Hindia. Tentu semua fisik tersebut hanya akan terekam dalam kamera tanpa membekas dalam kekaguman sejarah dan filosofi Wae Rebo yang baru saja terkuak.

About Author

client-photo-1
Campa Tour & Event

Comments

Leave a Reply