Ramadhan versi Campa Tour: Wisata Sejarah Islam Blusukan Makam hingga Situs
image of 1140x530

Marhaban Ya Ramadhan, sebuah bulan suci bagi umat Islam telah hadir kembali di tahun 2017 atau Ramadan di tahun 1438 H. Ramadhan bagi umat Islam adalah sarana mengembalikan kembali fitrah manusia ke jalannya sehingga menjadi manusia yang seutuhnya di Jalan Allah SWT. Ramadhan tahun ini Campa Tour sebagai satu satunya Historical tour Indonesia menyuguhkan untuk Anda sebuah pengalaman tour sejarah yang unik. Berikut beberapa lokasi kunjungan tour Ramadhan Campa Tour.

 

  1. Pleret ; The Palace of Sultan Agung

Kunjungan kita pertama adalah Keraton Pleret. Keraton Pleret adalah sebuah situs bekas Ibu Kota Mataram Islam saat di pimpin oleh Amangkurat I. di sana kita akan melihat sisa-sisa penggalian arkeologi yang berhasil menemukan bangunan Keraton dan Masjid Agung Pleret.

 

  1. Warisan Sultan Agung di Museum Pleret

Museum Pleret menjadi salah satunya tempat yang menampung berbagai tinggalan arkeologis dari situs Kraton Mataram di Pleret. Museum ini sejak tujuh tahun ini menjadi tempat singgah berbagai barang yang menjadi gambaran masa kejayaaan Mataram Sultan Agung. Salah satu tinggalan yang menarik adalah serpihan meriam yang bobotnya mencapai lima puluh kilogram, dengan diameter hanya 30×15 cm. serpihan meriam Sultan Agung ini menggabarkan kedahsyatan alutsista perang yang dimiliki Sultan Agung untuk menggempur VOC.

  1. Ziarah Panembahan Bodo; Belajar Zuhud dari Panembahan Trenggono

Kita akan berkunjung di makam Raden Trenggana yang zuhud karena dimintai tolong untuk membantu Pajang dalam rangka menegakkan superioritas Pajang, tetapi Raden Trenggana tidak mau karena ia selalu ingat akan sumpah kakeknya untuk tidak usah melibatkan diri dalam pertikaian antar penguasa. dia dijuluki wong bodho ‘orang bodoh’ yang tidak tahu apa-apa. karena pada saat ia dimintai tolong oleh Raden Sutawijaya pun ia tidak bersedia. Oleh karena selalu mengatakan dirinya sebagai wong bodho, maka lama-kelamaan ia terkenal dengan sebutan Kyai Bodho.

  1. Tarekat Symbolism in Masjid Agung Yogyakarta

Para wali dan penghulu kraton mempunyai kecerdasan sendiri soal membangun masjid. Masjid dalam konsep Jawa di sisi lain adalah tempat penghapusan dosa. Memasuki masjid agung (1773) kita akan di sambut gapura atau pintu gerbang, para wali menamakan gapura karena dari kata ghofur yang berarti ampunan. Secara simbolis manusia yang penuh dosa memasuki ruang dan waktu yang lebih suci untuk penghapusan dosa. Satu langkah menuju ke dalam komplek masjid, kita akan di sucikan oleh kolam yang mengelilingi masjid. Atap masjid agung di bangun dengan tiga tingkatan, yang menyimbolkan makna Syari’at, Tarekat dan Hakikat.

 

  1. Masjid Soko Tunggal

Salah satu masjid bersejarah adalah di komplek Tamansari, yaitu Masjid Soko Guru. Masjid ini di bangun oleh Hamengkubuwono ke 9. Keunikan bangunan ini adalah, disokong oleh satu umpak dan soko guru dengan empat bahu gayang yang melambangkan lima penyokong negera, yaitu pancasila.

 

  1. Kota Gede; The Early Spirit of Islam in Mataram

Kota Gede (1577) menjadi pilihan Ki Ageng Pemanahan untuk menancapkan sendi-sendi ke Islaman di daerah pedalaman Jawa. Strategi pemilihan lokasi di Hutan Menthoak ini adalah strategi pengembangan Islam dan membangun dinasti perpolitikan baru yang akan menjadi penguasa tanah Jawa kedepannya.

 

  1. Masjid Kabanaran Laweyan Wetan ; Masjid Tertua di Solo

 

Masjid Laweyan merupakan masjid tertua yang berada di Kota Solo atau Surakarta. Masjid yang berusia hampir lima abad ini,  memiliki sejarah yang sangat panjang dan memiliki kontribusi besar dalam penyebaran agama Islam di wilayah Karesidenan Surakarta.

 

  1. Makam Ki Ageng Genes

Kyai Ageng Henis merupakan penasihat spiritual Kerajaan Pajang (1568-1586). Beliau merupakan keturunan Raja Majapahit dari silsilah Raja Brawijaya-Pangeran Lembu Peteng-Ki Ageng Getas Pandawa lalu Ki Ageng Selo. Sedangkan keturunan Ki Ageng Henis saat ini menjadi raja-raja di Kraton Kasunanan dan Mataram.salah satu keturunan beliau adalah Pakubuwono II, yang merupakan cucu beliau.Pendekatan dakwah beliau yang kultural dan mampun menyentuh banyak pihak, akhirnya menyentuh banyak Umat Hindu untuk sukarela masuk ke Islam.salah satunya adalah pembesar agama Hindu Ki Beluk.

 

  1. Kampung Batik Laweyan

sejak Kerajaan Pajang berkuasa di Jawa Tengah, daerah Laweyan telah menjadi salah satu pusat dakwah dan pengajaran pembuatan batik. Kiai Ageng Henis, kakek dari Panembahan Senopati, adalah orang yang mengajari penduduk setempat bagaimana cara membatik. Membatik adalah salah satu sarana dakwah kultural bagi Ki Ageng Henis, dari situlah filosofi batik, missal motif Wahyu Tumurun (turunnya wahyu), olah rasa kesabaran dalam membatik, dan keberdayaan ekonomi sebagai salah satu sendi dakwah.

 

  1. Masjid Agung Solo

Masjid Agung dibangun oleh Sunan Pakubuwono III tahun 1763 dan selesai pada tahun 1768.Bangunan Masjid Agung Surakarta merupakan bangunan bergaya tajug yang beratap tumpang tiga dan berpuncak mustaka (mahkota). Gaya bangunan tradisional Jawa ini adalah khusus untuk bangunan masjid. Dengan status sebagai masjid kerajaan, masjid ini juga berfungsi mendukung segala keperluan kerajaan yang terkait dengan keagamaan, seperti Grebeg dan festival Sekaten.

 

  1. Masjid Agung Demak

Kita juga akan mengunjungi Majid Agung Demak dan berziarah di makam raja-raja kesultanan Demak.

 

  1. Makam Sunan Kalijaga

Masjid Kadilangu atau masjid Sunan Kalijaga berdiri sejak 1534 lebih tuadengan Masjid Agung Demak yang didirikan pada 1578. Hal

itu bisa dilihat diukiran kayu yang terletak di atas pintu utama masukmasjid yang bertuliskan Arab dengan terjemahan dalam bahasa Jawa”Punika Ngadekkipun Masjid Dina Ahad Wage Sasi Dzulhijah” bertepatanpada tahun tersebut. salah bukti arkeologi kekunaan masjid ditemukanprasasti yang tersimpan di sana, yang menyebutkan masjid itu mengalamirenovasi pertama kali pada 1564 M oleh Pangeran Wijil.

 

  1. Ziarah Pantai Sayung

 

Makam Mbah Muzakir, asal-usul Mbah Muzakir, yang tak lain ulama yangmenyiarkan Islam di kawasan Pantai Sayung. Semasa muda, priakelahiran Dusun Jago, Desa Wringinjajar, Kecamatan Mranggen, tahun1869 itu banyak berguru pada ulama dari berbagai daerah.Setelah merasacukup, sekitar tahun 1900 dia menetap di Tambaksari. Di tempat itu, diamulai melakukan syiar Islam.Sebuah masjid pun didirikan. Cara penyampaian materi keagamaanmudah dicerna sehingga banyak santri mengaji padanya. Merekakebanyakan takmir musala serta masjid di Demak dan daerah sekitarnya.Karena itulah dia sering disebut pencetak kader kiai. Bahkan semuaketurunannya menjadi pemangku masjid dan musala.Kiai yang sehari-harimenjadi petani tambak itu juga menguasai ilmu kanuragan. Dia kerapdimintai orang untuk mengatasi berbagai penyakit. Namun dia takmengharapkan imbalan. Tak dimungkiri keahlian dan keikhalasanmembuat nama Mbah Mudzakir makian dikenl orang. Dan, itu amatmendukung upayanya melakukan syiar Islam. Pada 1950 Mbah Mudzakirmeninggal dunia pada usia 81 tahun.

 

  1. Makam Adipati 1 Semarang, Pandanaran

Makam di kebumikan Ki Ageng Pandanaran (Ki Ageng Pandan Arang) adalah Adipati pertama Semarang dan tanggal diangkatnya beliau sebagai adipati dijadikan hari jadi Kota Semarang. Ki Ageng Pandanaran lantasdianggap sebagai pelopor berdirinya kota Semarang.Meskipun Ki agengPandanaran hidup dalam masa yang sama dengan para Wali Sanga,namun beliau tidak termasuk ke dalamnya. Beliau mendirikan Pesantrendan menyiarkan agama Islam di wilayan yang semakin subur itu.

  1. Masjid Menara Layur

Kita akan menikmati sholat di Masjid Menara Layur Semarang, masjid inibersejarah karena di bangun oleh para pendakwah Islam padatahun 1802 oleh Ulama Yaman. Selain bentuk bangunan yang unik, MasjidMenara juga menyimpan harta lain yang tak ternilai, yaitu kitab – kitabkuno, yang konon dibawa oleh para habib untuk menyebarkan AgamaIslam di Semarang sekitar pada abad 18.

About Author

client-photo-1
Campa Tour & Event

Comments

Leave a Reply