Membaca Langit Nusantara: Warisan Astronomi Tradisional Indonesia Sebelum kompas digital dan GPS ditemukan, masyarakat Indonesia sudah memiliki sistem penanggalan dan navigasi yang sangat akurat berbasis posisi benda langit. Berikut adalah beberapa konsep astronomi asli dari berbagai daerah: 1. Pranata Mangsa (Jawa) Sistem penanggalan ini sangat krusial bagi petani di Jawa untuk menentukan waktu tanam dan panen. Salah satu penanda utamanya adalah rasi bintang Luku (atau rasi bintang Orion). Ketika rasi Luku muncul di arah timur setelah matahari terbenam, itu adalah pertanda musim tanam segera tiba. "Luku" sendiri berarti alat bajak sawah, menggambarkan bagaimana masyarakat Jawa menghubungkan bentuk rasi bintang dengan alat kerja mereka sehari-hari. 2. Navigasi Bintang Masyarakat Bugis-Makassar Pelaut Bugis dikenal sebagai nahkoda tangguh yang menjelajahi samudera hingga ke Australia. Mereka menggunakan Bintang Pari (Crux/Salib Selatan) yang mereka sebut sebagai Bintoéng Kamasé untuk menentukan arah selatan, dan rasi Orion sebagai penentu arah barat. Pengetahuan ini diturunkan melalui lagu dan syair agar mudah diingat oleh para pelaut muda. 3. Waruga dan Tata Letak (Minahasa) Masyarakat Minahasa kuno membangun pemakaman Waruga dengan arah yang selaras dengan posisi matahari. Prinsip ini menunjukkan pemahaman mendalam tentang siklus gerak semu matahari (ekliptika) dan hubungannya dengan konsep kehidupan serta kematian dalam budaya lokal. 4. Astronomi di Candi Borobudur Candi Borobudur bukan sekadar monumen keagamaan, melainkan juga sebuah instrumen astronomi raksasa. Penelitian menunjukkan bahwa stupa puncak dan pola bayangan matahari pada waktu-waktu tertentu bertindak sebagai gnomon (jam matahari) untuk menentukan pergantian musim. Wisata Astronomi (Astrotourism) Bersama Campa Tour Melalui konsep "A New Way of Travel", Campa Tour mengajak Anda mengunjungi lokasi-lokasi dengan polusi cahaya rendah untuk melakukan stargazing sambil mempelajari mitologi bintang lokal. Destinasi Astrotourism Terbaik: Wae Rebo, Flores: Di desa di atas awan ini, Anda bisa melihat Bima Sakti (Milky Way) dengan sangat jelas tanpa gangguan lampu kota. Kawah Ijen & Baluran: Area terbuka di
Membaca Langit Nusantara: Warisan Astronomi Tradisional Indonesia Sebelum kompas digital dan GPS ditemukan, masyarakat Indonesia sudah memiliki sistem penanggalan dan navigasi yang sangat akurat berbasis posisi benda langit. Berikut adalah beberapa konsep astronomi asli dari berbagai daerah: 1. Pranata Mangsa (Jawa) Sistem penanggalan ini sangat krusial bagi petani di Jawa untuk menentukan waktu tanam dan
Jika kita mendengar kata Kalimantan, pasti pikiran kita langsung terasosiasi dengan Suku Dayak. Ternyata, Suku Dayak pun banyak ragamnya. Di Kalimantan Selatan, nama yang familiar dikenal adalah Dayak Meratus. Kehidupan Dayak Meratus sangat dekat dengan padi. Yuk, simak ulasan campatour.com tentang padi dan Dayak Meratus. Padi sebagai Sumber Kehidupan Bagi masyarakat Dayak Meratus, hutan merupakan sumber kehidupan mereka. Masyarakat Dayak Deah di Kabupaten Tabalong juga memanfaatkan hutan di Pegunungan Meratus sebagai sumber kehidupan. Mereka membuka hutan untuk dijadikan ladang kemudian menjadi kebun karet ataupun kebun kayu manis dan kemiri. Sekitar 15-20 tahun kemudian mereka kembali menjadikannya sebagai lahan padi. Akan tetapi di Hananai ataupun di Pinai, Kabupaten Banjar, yang warganya memilih menambang emas, mereka membiarkan huma setelah panen padi dipenuhi semak-semak. Mereka menanam padi di huma baru dan baru kembali ke huma semula tiga tahun kemudian. Satu hektar huma, menurut Ruwai, mantan Kepala Desa Patikalaen, Hantakan, dapat menghasilkan padi 800-1.000 gantang. Satu gantang sebanyak lima liter. Padi itu akan disimpan di lulung (wadah terbuat dari kayu kulit damar). Ada banyak lulung di dalam lumbung yang dimiliki setiap keluarga Dayak Meratus. “Bisa tahan 15 tahun,” ujar Ruwai. Mereka panen padi setahun sekali. Umur padi adalah enam bulan. Mereka membutuhkan waktu 2-3 bulan untuk mengolah lahan, 1-2 bulan menunggu musim tanam, dan 1-3 bulan untuk masa panen. Praktis, mereka membutuhkan 12 bulan untuk mengolah padi. Akan tetapi, mereka tidak menjual padi. Mereka memiliki stok pangan yang cukup untuk beberapa tahun. “Kami di gunung, jauh dari mana-mana, kalau kami menjual padi, dan terjadi kemarau panjang sehingga kami tidak dapat tanam padi, kami makan apa nanti?” ujar Galimun, tetua adat Dayak Meratus Kecamatan Hantakan. Duntin dan Paliansyah (Ketua Balai Adat Tamburasak dan Bendahara Balai Adat Tamburasak) menyebut ada 26 jenis padi yang ditanam di Pegunungan Meratus. Tim ekspedisi menemukan dua jenis lagi di desa lain
Jika kita mendengar kata Kalimantan, pasti pikiran kita langsung terasosiasi dengan Suku Dayak. Ternyata, Suku Dayak pun banyak ragamnya. Di Kalimantan Selatan, nama yang familiar dikenal adalah Dayak Meratus. Kehidupan Dayak Meratus sangat dekat dengan padi. Yuk, simak ulasan campatour.com tentang padi dan Dayak Meratus. Padi sebagai Sumber Kehidupan Bagi masyarakat Dayak Meratus, hutan merupakan sumber
Setiap tempat pasti menyimpan misteri sejarahnya masing-masing.campatour.com mencoba mengungkap sejarah kejayaan kerajaan di Kalimantan Selatan. Dari berbagai sumber, Campa Tour merangkumkannya dalam tulisan ini. Pada tahun 8000 SM, migrasi I, manusia mendiami gua-gua di Pegunungan Meratus. Kelompok ini melanjutkan migrasi ke pulau Papua dan Australia. Fosilnya ditemukan di Gua Babi di Gunung Batu Buli, Desa Randu, Muara Uya, Tabalong. Lalu, pada tahun 2500 SM, migasi II, yaitu bangsa Austronesia dari pulau Formosa ke pulau Borneo dengan membawa adat ngayau yang menjadi nenek moyang suku Dayak. Pada tahun 400 M, peninggalan tertua yang diketahui dari agama Hindu di Kalimantan berupa yupa yang ditemukan di daerah Kutai. Lalu pada tahun 242-1362 M, berdiri Kerajaan Tanjungpuri di Tanjung, Tabalong yang didirikan suku Melayu. Kerajaan Nan Sarunai Kerajaan Nan Sarunai adalah pemerintahan purba yang muncul dan berkembang di wilayah Kalimantan Selatan (administrative sekarang), tepatnya di antara wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara dan Kabupaten Tabalong. Kerajaan Nan Sarunai merupakan bagian awal dari riwayat panjang Kesultanan Banjar, salah satu pemerintahan kerajaan terbesar yang pernah ada di Kalimantan Selatan. Kerajaan Nan Sarunai terkait erat dengan kehidupan orang-orang Suku Dayak Maanyan, salah satu sub Suku Dayak tertua di tanah Borneo. Kerajaan purba yang dikelola oleh orang-orang Suku Dayak Maanyan ini disebutkan dengan nama yang berbeda-beda. Selain Nan Sarunai, nama-nama lain yang juga diyakini sebagai nama kerajaan ini adalah Kerajaan Kuripan, Kerajaan Tanjungpuri, dan Kerajaan Tabalong. Nama Kerajaan Tabalong disertakan karena kerajaan ini terletak di tepi Sungai Tabalong. Sungai Tabalong adalah anak sungai Bahan, sedangkan Sungai Bahan adalah anak Sungai Barito yang bermuara ke Laut Jawa. Selain itu, muncul pendapat berbeda yang menyatakan bahwa Kerajaan Tanjungpuri berbeda dengan Kerajaan Nan Sarunai. Pendapat ini meyakini bahwa Kerajaan Tanjungpuri bukan pemerintahan yang dikelola oleh Suku Dayak Maanyan, melainkan oleh orang-orang Melayu Palembang yang merupakan pelarian dari Kerajaan Sriwijaya. Versi yang satu ini
Setiap tempat pasti menyimpan misteri sejarahnya masing-masing.campatour.com mencoba mengungkap sejarah kejayaan kerajaan di Kalimantan Selatan. Dari berbagai sumber, Campa Tour merangkumkannya dalam tulisan ini. Pada tahun 8000 SM, migrasi I, manusia mendiami gua-gua di Pegunungan Meratus. Kelompok ini melanjutkan migrasi ke pulau Papua dan Australia. Fosilnya ditemukan di Gua Babi di Gunung Batu Buli, Desa Randu,
Pasti setiap orang pernah mendengar nama kota Banjarmasin. Tapi tahukah kamu darimana asal mula nama kota ini berasal? campatour.com mencoba menuliskannya: Sejarah pemerintahan di Kalimantan Selatan diperkirakan dimulai ketika berdirinya Kerajaan Tanjung Puri pada sekitar abad ke-5. Letak kerajaan ini cukup strategis, yaitu di kaki Pegunungan Meratus dan tepi sungai besar sehingga di kemudian hari menjadi Bandar yang cukup maju. Kerajaan Tanjung Puri dapat juga disebut Kerajaan Kahuripan yang cukup dikenal sebagai wadah pertama hibridasi, yaitu percampuran antarsuku dengan segala komponennya. Setelah itu, berdiri kerajaan atau Negara Dipa yang dibangun perantau dari Jawa. Pada abad ke-14, muncul Kerajaan atau Negara Daha yang memiliki unsur-unsur kebudayaan Jawa dan akibat pendangkalan sungai di wilayah Negara Dipa. Sebuah serangan datang dari Jawa dengan maksud menghancurkan kerajaan Dipa. Untuk menyelamatkan kerajaan, dinasti baru pimpinan Maharaja Sari Kaburangan segera naik tahta dan memindahkan pusat pemerintahan ke arah hilir, yaitu ke arah laut di Muhara Rampiau. Negara Dipa terhindar dari kehancuran total, bahkan dapat menata diri menjadi besar dengan nama Negara Daha dan raja sebagai pemimpin utamanya. Negara Daha akhirnya mengalami kemunduran dengan munculnya perebutan kekuasaan sejak Pangeran Samudra mengangkat senjata dari arah muara. Selain itu, dia juga mendirikan rumah bagi para patih yang berada di muara. Pemimpin utama para patih itu bernama “masih”. Tempat tinggal para masih ini dinamakan Bandarmasih. Raden Samudra mendirikan istana di tepi Sungai Kuwin untuk para patih tersebut. Kota ini kelak dinamakan Banjarmasin yang berasal dari kata Bandarmasih. Ada pula pendapat lain tentang etimologi Banjarmasin. Dalam bahasa Jawa, Banjarmasin berarti taman asin, sedangkan sejarah Jawa Barat mencatat nama Banjarmasin berasal dari keluarga keraton Kerajaan Mahasin di Singapura yang mengungsi ke daerah Banjar karena serangan Sriwijaya, kemudian berdirilah Kerajaan Banjar Mahasin, namun nama asli kota Banjarmasin adalah Banjar-Masih, pada tahun 1664 orang Belanda masih menulisnya Banjarmasch atau Banzjarmasch. Pendapat manakah yang paling benar?
Pasti setiap orang pernah mendengar nama kota Banjarmasin. Tapi tahukah kamu darimana asal mula nama kota ini berasal? campatour.com mencoba menuliskannya: Sejarah pemerintahan di Kalimantan Selatan diperkirakan dimulai ketika berdirinya Kerajaan Tanjung Puri pada sekitar abad ke-5. Letak kerajaan ini cukup strategis, yaitu di kaki Pegunungan Meratus dan tepi sungai besar sehingga di kemudian hari menjadi
Seorang kawan mengajak saya berkunjung ke Desa Lengkong, Serpong. Desa yang terletak di tengah kota BSD City. Nama yang cukup menarik ketika mendengarnya. Paling tidak, membuat saya penasaran darimana nama tersebut berasal. Kata Lengkong diambil dari asal tempat pendiri kampung ini, Raden Arya Wangsa Di Kara, di Sumedang. Raden Wangsa di Kara, atau Raden Arya Wangsakara adalah seorang ulama dan dapat dipastikan adalah Pangeran Arya Wiraraja II yang berasal dari Sumedang, yang memiliki benang merah dengan Kesultanan Cirebon. Ia pindah ke Banten untuk menghindari dari tekanan Kerajaan Mataram dan dari Pemberontakan Dipati Ukur. Selain itu, kata Lengkong ini juga menunjukkan bahwa lokasi kampung ini berada pada sebuah lingkung air; sungai. Foto oleh Bapak Yusri (Kepala SMK Plus BLM). Bersama kawan-kawan TripTrus dan Koperasi Jasa Wisata Mandiri Nusantara menyusur aliran Sungai Cisadane di Desa Lengkong Wetan (sebelah kanan tertutup pepohonan). Raden Arya Wangsakara bergelar Pangeran Wiraraja II atau terkenal dengan julukan Imam Haji Wangsaraja. Ayahnya bernama Pangeran Wiraraja I atau bergelar Pangeran Lemah Beureum Ratu Sumedang Larang. Ibunya bernama Putri Dewi Cipta, anak Raden Kidang Palakaran cucu Pucuk Umun dari Banten. Berdasarkan silsilah tersebut, Arya Wangsakara berasal dari Sumedang dan Cirebon, sementara pihak ibu berasal dari Banten. Setelah berpindah-pindah beberapa kali, akibat ancaman dari VOC, akhirnya Raden Arya Wangsakara mendapatkan lokasi yang tepat. Lokasi kampung ini strategis tersembunyi dan terlindungi oleh alam (hutan bambu) dan dilingkungi Sungai Cisadane dan kali kecil. Dan uniknya, penentuan lokasi yang dilakukan beliau berdasarkan pemilihan bagian alur Sungai Cisadane yang secara kebetulan menghadap kiblat, yakni 25 derajat dari barat ke utara. Hal ini mempengaruhi posisi bangunan rumah-rumah santri yang berupa gubug panggung yang mengikuti posisi kiblat, serta bagian memanjang rumah tersebut menghadap sungai dan bukit. Bangunan yang pertama kali dibangun adalah masjid yang menjorok ke dekat sungai, lalu gubug-gubug para santri. Foto oleh Muhammar Khamdevi. Peta
Seorang kawan mengajak saya berkunjung ke Desa Lengkong, Serpong. Desa yang terletak di tengah kota BSD City. Nama yang cukup menarik ketika mendengarnya. Paling tidak, membuat saya penasaran darimana nama tersebut berasal. Kata Lengkong diambil dari asal tempat pendiri kampung ini, Raden Arya Wangsa Di Kara, di Sumedang. Raden Wangsa di Kara, atau Raden Arya
Suatu ketika, saya membaca sebuah buku yang ditulis oleh Cornelis Kowaas. Judulnya Dewa Ruci: Pelayaran Pertama Menaklukkan Tujuh Samudra. Dalam salah satu bagian, diceritakan tentang kejayaan Banda, Maluku. Menarik. Saat membaca buku ini, saya baru tahu, ternyata pada zamannya, Banda pernah diperebutkan oleh Belanda dan Inggris. Bahkan “pesonanya” menandingi New York, yang kala itu disebut New Amsterdam. KETIKA PULAU BANDA LEBIH BERHARGA DARIPADA NEW YORK PERCAYA atau tidak, rempah-rempah (pala, cengkeh, merica) adalah salah satu faktor utama yang mendorong percepatan perubahan wajah dunia. Dari catatan sejarah kuno, rempah-rempah telah dibawa dan digunakan hingga ke Timur Tengah lebih dari 4.000 tahun yang lalu melalui jalur laut dan darat dari Indonesia ke India dan China, terus sampai ke Timur Tengah melalui jalan sutra atau silk road yang tersohor itu menembus gunung dan padang pasir. Para ahli menyatakan bahwa pada tahun 2600 sebelum Masehi, bangsa Mesir memberikan rempah-rempah tertentu dari Asia kepada para pekerja bangunan piramida agar mereka memiliki kekuatan ekstra. Dari bukti arkeologis ditemukan bahwa bangsa Mesopotamia, atau Siria sekarang, telah menggunakan rempah-rempah yang berasal dari Maluku itu untuk keperluan rumah tangganya pada waktu yang bersamaan. Konon, urusan rempah-rempah juga yang membuat bangsa Aria yang berkebudayaan tinggi hijrah ke India. Bangsa-bangsa Eropa, yang harus membayar sangat mahal untuk mendapatkan rempah-rempah yang telah lama dikuasai pedagang Arab, berusaha keras untuk mencari sumbernya, yang konon berada di sebuah pulau keramat tempat burung-burung (bird of paradise) yang sangat indah beterbangan di angkasa dan tidak pernah mendarat di bumi kecuali saat dia mati. Hal itu kemudian menimbulkan keinginan dan akhirnya menjadi obsesi untuk mencari sumber rempah-rempah. Catatan perjalanan Marco Polo ke China dan Asia Tenggara membuka mata orang Eropa. Hal itu pula yang mendorong pelayaran Columbus ke Amerika dan membuatnya menamai penduduk asli berkulit gelap yang ditemuinya di benua baru itu “Indian” dan buah suci merah
Suatu ketika, saya membaca sebuah buku yang ditulis oleh Cornelis Kowaas. Judulnya Dewa Ruci: Pelayaran Pertama Menaklukkan Tujuh Samudra. Dalam salah satu bagian, diceritakan tentang kejayaan Banda, Maluku. Menarik. Saat membaca buku ini, saya baru tahu, ternyata pada zamannya, Banda pernah diperebutkan oleh Belanda dan Inggris. Bahkan “pesonanya” menandingi New York, yang kala itu disebut
Pagi hari saat matahari masih belum menampakan diri suasana di Wae Rebo masih sangat sepi, hal terbaik yang dilakukan adalah menunggu sinar matahari dari bukit dimana taman bacaan pelangi berdiri kokoh beraksitektur rumah adat khas Wae Rebo. Di sanalah semua pemandangan alam dan kampung akan terlihat indah. Setelah puas mengambil foto kampung saat matahari mulai menerangi , berinteraksi dengan masyarakat adalah hal yang terbaik untuk sekedar menikmati hangatnya sambutan masyarakat dan sekaligus mengetahui lebih dalam seluk beluk desa beserta tradisinya. Masyarakat Wae Rebo sangat terbuka, mereka sangat senang ketika rumah mereka dikunjungi oleh tamu, terutama saat pagi hari mereka berkumpul di pusat rumah Mbaru Niang. Para lelaki bercerita sambil minum kopi dan makan cemilan umbi rebus yang manis sebelum mereka sarapan. Saat Ibu Rofina menyiapkan nasi, banyak hal yang dibicarakan ketika pagi hari. Mulai dari cerita kejadian-kejadian saat di hutan atau di kebun kopi, hingga berita-berita terbaru yang mereka dapat dari kampung Ende. Jika tamu aktif bertanya soal sejarah atau budaya, mereka pasti akan menceritkan banyak hal soal Wae Rebo. Bapak Blasius misalnya dia bercerita soal kampung adat Wae Rebo yang terletak di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur dan kaitannya dengan Minangkabau. Bapak Blisius bercerita soal Wae Rebo yang secara tradisi lesan masyarakat nenek moyang mereka yang bernama Maro berasal dari Minangkabau, yang kemudian belayar menuju ke selatan dan akhirnya menemukan Pulau Flores. Setelah itu mereka mencari lokasi, pertama kali Mereka pindah ke Liho Dari Liho, kemudian pindah ke Ndara, Golo Damu, dan Golo Pandu, setelah itu pindah ke pegunungan Poncoroko. Blasius bercerita soal Kedekatan budaya mereka dengan Suku Minang yang dapat dilihat dari bentuk rumah dan tradisi pernikahan mereka yang hampir sama. Selain itu, soal bentuk rumah adat Wae Rebo yang selalu dikaitkan dengan bentuk sarang laba-laba yang juga terjadi dalam pola pembagian sawah yang ditanami padi oleh Suku
Pagi hari saat matahari masih belum menampakan diri suasana di Wae Rebo masih sangat sepi, hal terbaik yang dilakukan adalah menunggu sinar matahari dari bukit dimana taman bacaan pelangi berdiri kokoh beraksitektur rumah adat khas Wae Rebo. Di sanalah semua pemandangan alam dan kampung akan terlihat indah. Setelah puas mengambil foto kampung saat matahari mulai
Pada abad ke 19 para ahli membuat sebuah teori tentang persebaran kebudayaan. Di antara teori yang fenomenal adalah The Sun of God Theory. Teori ini berdasarkan pada persamaan beberapa tinggalan kebudayaan yang mengarah pada satu unsur atau dasar yang sama yaitu sebuah kebudayaan penyembahan Dewa Matahari yang sifatnya universal. Teori ini diwali dari cara berfikir deduktif yang praktikan oleh para pengusung teori ini seperti Max Muller dan Alfin B Khun, mereka melihat fenomena pemujaan matahari yang seragam akan meskipun mempunyai ciri khas masing-masing akibat kekuatan unsur lokal yang mempengaruhi. Melihat tinggalan arkeologis yang sama dan luas bentangnya antara Mesir dan Suku Inka di Amerika Selatan yang mempunyai karakter dasar sama memperkuat kebenaran pendapat ini, sehingga awalnya persebaran kebudayaan penyembahan matahari disimpulkan dimulai dari Mesir sebagai pusat kebudayaan tertua yang berlanjut ke pusat-pusat kebudayaan penyembah matahari lainnya. Melihat Gunung Padang dalam perspektif teori ini kita akan dibawa pada sebuah kekuatan dimensi penyembahan Dewa Matahari yang massif muncul pada masa neolitikum. Kemudian melahirkan sebuah pertanyaan, sisi dunia mana yang sesungguhnya melahirkan kebudayaan penyembahan matahari paling awal? Sebuah ciri khas Gunung Padang yang bisa dikaitkan dengan teori ini adalah keberadaan situs yang berbentuk punden berundak. Kebudayaan ini menjadi ciri paling otentik dalam penyembahan Dewa Matahari. Struktur punden berundak dengan ciri khas bangunan berbentuk piramida, secara teknis difungsikan untuk kegiatan penyembahan matahari dengan prosesi si pemuja pada bagian paling puncak bangunan tertinggi dan membawa persembahan untuk dewa. Kebudayaan penyembahan matahari sangat melekat pada kebudayaan nusantara, bahkan bisa dibilang kebudayaan ini sebagai salah satu akar kebudayaan atau setidaknya adalah perkembangan lebih lanjut dari kepercayaan Animisme dan Dinamisme. Salah satu bukti yang memperkuat pendapat itu adalah di temukannya Candi Sukuh yang mempunyai struktur arsitektur punden berundak. Candi Sukuh sangat terkait dengan pemujaan Dewa Matahari, hal ini dikaitkan pada spirit si pembangun candi. Masa abad 14 adalah
Pada abad ke 19 para ahli membuat sebuah teori tentang persebaran kebudayaan. Di antara teori yang fenomenal adalah The Sun of God Theory. Teori ini berdasarkan pada persamaan beberapa tinggalan kebudayaan yang mengarah pada satu unsur atau dasar yang sama yaitu sebuah kebudayaan penyembahan Dewa Matahari yang sifatnya universal. Teori ini diwali dari cara berfikir
Sebagain besar orang traveling untuk mencari dunia lain di tengah kepenatan hiruk pikuk kota dan menghindari polusi akut yang membayang-bayangi kita setiap hari. Sebagian yang lain eksistensi untuk memenuhi ego sebagai manusia yang selalu bangga berhasil menaklukkan dunia yang luas. Tak sedikit pula orang traveling mempunyai tujuan-tujuan yang langka yaitu belajar dengan orang lain, belajar sejarahnya dan tentu menikmati alam yang tak bisa lepas dari masyarakatnya. Mungkin tujuan terakhir adalah konsep tujuan traveling paling mutakhir dan modern abad ke 21. Orang-orang zaman dahulu pernah melakukan perjalanan mutakhir. Anda tentu kenal sejumlah tokoh inspirator seperti Wallace, Marco Polo, Raffles, dan masih banyak lagi orang yang belajar dari orang lain dari wilayah lain sehingga mampu menelurkan sejumlah gagasan dan karya hasil pengamatan mereka yang diabadikan. Dan, Anda tentu tahu juga para penjelajah Barat ataupun Timur selalu menemukan inspirasi setelah mereka melalui tempat-tempat baru yang mereka kunjungi, apalagi kemudian catatan-catatan mereka berguna untuk generasi selanjutnya hingga puluhan tahun kedepan. Tentu saya tak akan berlebihan menawarkan wisata agar anda seperti mereka, akan tetapi yang perlu digaris bawahi adalah daya inspirasi itu lebih dahsyat ketika terlibat dan melihat secara langsung dari pada sekedar mendengar dan membaca. Kemudian pertanyaannya yang muncul adalah tergantung bagaimana cara melihat dan berinteraksinya? Karena kenyataannya banyak traveler tidak menelorkan sebuah karya walaupun setelah menjelajahi susahnya medan. Tren yang berkembang kebanyakan traveler sekarang adalah berkunjung ke sebuah lokasi menemukan tempat eksotis dan kemudian melakukan ritual wajib yaitu foto-foto dan jika masih ada waktu sekedar berputar-putar, jika dipantai jelas snorkeling atau diving, hingga mencicipi kuliner yang khas. Tentu itu tidak ada salahnya, semua adalah hak masing-masing pejalan. Namun, yang jadi pertanyaan adalah apa yang akan Anda dapat jika pola traveling seperti itu? Apakah Anda sadar bahwa dalam sebuah lokasi wisata ada dua hal secara fisik yang sesungguhnya tidak bisa terlepaskan yaitu manusia penghuninya
Sebagain besar orang traveling untuk mencari dunia lain di tengah kepenatan hiruk pikuk kota dan menghindari polusi akut yang membayang-bayangi kita setiap hari. Sebagian yang lain eksistensi untuk memenuhi ego sebagai manusia yang selalu bangga berhasil menaklukkan dunia yang luas. Tak sedikit pula orang traveling mempunyai tujuan-tujuan yang langka yaitu belajar dengan orang lain, belajar
Agama Marapu merupakan salah satu dari agama Nusantara yang berkembang sebelum agama-agama global seperti Hindu, Budha, Islam, Katolik, dan Kristen memasuki alam spiritual masyarakat nusantara dan secara halus menggantikan agama asli nusantara, baik dengan cara asimilisai maupun akulturasi. Seperti halnya Agama Parmalim yang merupakan agama asli orang Batak atau agama Helo atau Kaharingan dalam tradisi masyarakat Dayak semua agama pada intinya basis adalah kepercayaan adanya zat nenek moyang dan zat tunggal yang selalu mempengaruhi setiap aktivitas lahiriyah manusia. Untuk itu dalam agama nusantara muncul berbagai upacara adat yang ditujukan untuk memohon restu kepada nenek moyang. Agama Marapu juga menekan pada acara ritual yang selalu ditujukan untuk leluhur orang Sumba. Upacara ini dimulai sejak acara kematian. Acara kematian menjadi penting karena dalam benak masyarakat Sumba, kematian adalah gerbang menuju ke asal yaitu tempat leluhur-leluhur mereka. Orang Sumba percaya bahwa orang yang meninggal atau nenek moyang mereka mampu menjadi jembatan untuk menuju ke zat yang paling puncak yaitu para dewa atau Anatala yang di sebut juga Hupu Ima Hupu Ama (ibu dan bapa segalah sesuatu) tingal di langit. Marapu juga mempunyai konsep tentang pembagian alam semesta, yang jugaa dikenal dalam agama-agama lainnya. Dalam kosmologi masyarakat Sumba, alam semesta terdiri dari tiga lapisan, yaitu lapisan atas (langit), lapisan tengah (bumi), dan lapisan bawah (di bawah bumi), di lapisan atas itulah Anatala bersemayam. Dalam kepercayaan Marapu dan juga kepercayaan agama-agama lain di Nusantara, ada sebuah ritual yang ditujukan untuk rasa syukur terhadap limpahan alam yang telah di berikan oleh Anatala atau zat tertinggi dan leluhur. Salah satunya adalah Pasola. Pasola selalu dikaitkan sebagai expresi keagamaan masyarakat Sumba, sebagai bukti ketaatan terhadap leluhur mereka hingga saat ini. Pasola dari kata "sola" atau "hola" yang berarti adalah lembing yang selalu digunakan untuk melempar atau senjata untuk melumpuhkan lawan. Pasola sampai saat ini masih konsisten dilakukan oleh
Agama Marapu merupakan salah satu dari agama Nusantara yang berkembang sebelum agama-agama global seperti Hindu, Budha, Islam, Katolik, dan Kristen memasuki alam spiritual masyarakat nusantara dan secara halus menggantikan agama asli nusantara, baik dengan cara asimilisai maupun akulturasi. Seperti halnya Agama Parmalim yang merupakan agama asli orang Batak atau agama Helo atau Kaharingan dalam tradisi