Candi Gedong Songo: Menikmati Pesona Alam Pesona Sejarah dan Bayang-Bayang Ancaman Geothermal
Di lereng Gunung Ungaran yang sejuk dan berkabut, berdiri megah kompleks candi peninggalan Mataram Kuno yang memesona: Candi Gedong Songo. Terletak di Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, tempat wisata ini menjadi salah satu destinasi favorit bagi siapapun yang ingin melepaskan diri dari hiruk-pikuk perkotaan. Menggabungkan unsur keindahan alam, keanekaragaman sejarah, hingga udara pegunungan yang menyegarkan, Gedong Songo memancarkan daya tarik eksotis yang tiada duanya.
Namun, di balik lanskap alamnya yang asri dan ketenangan yang ditawarkannya, berhembus kabar kurang menggembalakan terkait wacana proyek eksplorasi energi yang melibatkan Kementerian Investasi/BKPM di bawah kepemimpinan Bahlil Lahadalia. Sebelum membedah isu tersebut, mari kita telusuri terlebih dahulu keindahan magis yang membuat candi ini begitu istimewa.
Pesona Megah di Atas Awan
Candi Gedong Songo pertama kali ditemukan oleh Sir Thomas Stamford Raffles pada tahun 1804. Sesuai dengan namanya, Gedong Songo berasal dari bahasa Jawa di mana “gedong” berarti bangunan atau rumah, dan “songo” berarti sembilan. Meski secara harfiah merujuk pada sembilan kelompok candi, saat ini hanya ada lima kelompok candi utama yang berdiri utuh dan tersusun rapi menyusuri kontur lereng gunung.
Berada di ketinggian sekitar 1.200 hingga 1.300 meter di atas permukaan laut (mdpl), suhu udara di tempat ini sangat sejuk—berkisar antara 19 hingga 24 derajat Celsius. Hamparan perbukitan hijau, kabut tipis yang turun secara berkala, serta pemandangan Gunung Merbabu dan Gunung Telomoyo di kejauhan menyajikan lanskap fotografi yang menawan.
Sensasi Menjelajahi Setiap Bangunan
Untuk menikmati keindahan Gedong Songo secara utuh, pengunjung diajak berpetualang menyusuri jalur setapak (jogging track) yang membelah perbukitan:
Candi Gedong I: Bangunan candi pertama yang menyambut wisatawan begitu memasuki kawasan wisata. Terletak di area yang relatif datar dan dikelilingi taman bunga yang tertata rapi.
Candi Gedong II & III: Jalur pendakian mulai menanjak menuju Candi Gedong II dan III. Di area ini, arsitektur Hindu khas abad ke-8 tampak jelas dengan ukiran relief dan patung dewa-dewa seperti Shiva, Ganesha, dan Agastya.
Mata Air Panas Alami: Di antara kelompok Candi Gedong III dan IV, terdapat bukit kecil serta lembah yang mengeluarkan kawah awan belerang alami. Di sini, pengunjung dapat beristirahat sejenak sambil berendam air panas yang dipercaya berkhasiat menyembuhkan penyakit kulit.
Candi Gedong IV & V: Berada di puncak tertinggi kompleks wisata. Dari titik ini, pemandangan terbuka panorama Kabupaten Semarang dan Rawa Pening terlihat sangat memukau.
Bagi pengunjung yang tidak ingin lelah berjalan kaki menyusuri bukit seluas belasan hektar ini, pengelola menyediakan fasilitas berkuda. Sensasi berkuda menembus hutan pinus dan menanjaki lereng candi memberikan pengalaman liburan yang berkesan dan berbeda.
Fasilitas Pendukung dan Daya Tarik Wisata Modern
Candi Gedong Songo tidak hanya menjual keindahan situs cagar budaya semata. Seiring berjalannya waktu, pengelolaan kawasan wisata ini semakin modern dengan menghadirkan berbagai wahana rekreasi pendukung:
Spot Foto Kekinian (Ayanaz Gedong Songo): Terletak masih dalam satu kawasan, wahana ini menawarkan puluh konsep area foto Instagrammable seperti balon udara, sofa tengah kolam, hingga sarung burung raksasa.
Area Camping Ground: Tempat favorit bagi para pecinta alam yang ingin menikmati suasana malam pegunungan di bawah hamparan bintang.
Pasar Kuliner Tradisional: Pengunjung dapat mencicipi sate kelinci khas Bandungan, jagung bakar manis, hingga wedang ronde hangat untuk mengusir dinginnya udara malam.
Bayang-Bayang Proyek Geothermal: Ketika Isu Pengeboran Mencuat
Di tengah kemolekan alamnya yang senantiasa memikat jutaan pasang mata, Candi Gedong Songo belakangan turut diselimuti kekhawatiran terkait isu eksplorasi energi terbarukan. Wilayah lereng Gunung Ungaran, tempat Gedong Songo berada, merupakan salah satu wilayah kerja panas bumi (WKP) potensial di Jawa Tengah.
Pengembangan panas bumi (geothermal) memang menjadi salah satu program prioritas pemerintah dalam menggenjot target transisi energi hijau. Dalam kerangka investasi, kementerian yang dipimpin oleh Bahlil Lahadalia memegang peranan kunci dalam mengobral izin dan menarik investor untuk menggarap proyek-proyek energi ini.
Wacana penambangan atau pengeboran panas bumi di kawasan lereng Ungaran—yang sempat menyentuh zona-zona terdekat dengan Gedong Songo—sontak menuai sorotan tajam dari berbagai pihak, mulai dari aktivis lingkungan, sejarawan, hingga masyarakat lokal.
Kekhawatiran Masyarakat dan Dampaknya
Ada beberapa alasan mendasar mengapa isu rencana pengeboran oleh kementerian terkait ini memicu polemik:
Ancaman Kerusakan Struktur Candi: Candi Gedong Songo merupakan cagar budaya berusia ratusan tahun berbahan dasar batu andesit. Aktivitas getaran pengeboran berskala besar dikhawatirkan dapat merusak fondasi dan struktur batuan candi yang rentan.
Penurunan Kualitas Lingkungan: Eksplorasi panas bumi berisiko mengubah debit serta suhu mata air lokal, bahkan mengganggu ketersediaan air bersih bagi warga Bandungan dan sekitarnya.
Ancaman Sektor Pariwisata: Jika kawasan ini berubah menjadi area industri panas bumi dengan pipa-pipa raksasa dan suara mesin bor, estetika lanskap alamnya akan rusak. Hal ini berpotensi merosotkan jumlah wisatawan dan mematikan mata pencaharian warga sekitar yang bergantung pada sektor pariwisata.
Masyarakat menuntut agar kebijakan penanaman modal dan dorongan investasi di bawah Bahlil tidak secara membabi buta mengorbankan zona kelestarian budaya serta kawasan resapan air. Pembangunan ekonomi memang penting, tetapi menjaga warisan nenek moyang serta keberlanjutan ekosistem alam Gedong Songo tentu jauh lebih mendasar.
Kesimpulan
Candi Gedong Songo adalah perpaduan sempurna antara mahakarya sejarah bangsa dan pesona keagungan alam Indonesia. Mengunjungi tempat ini tidak hanya memberikan kesegaran jiwa lewat udaranya yang bersih dan pemandangannya yang indah, tetapi juga memperkaya wawasan sejarah masa lalu.
Kendati demikian, keberadaan Candi Gedong Songo kini mengingatkan kita akan pentingnya keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Isu rencana pengeboran geothermal di kawasan penunjangnya harus dikawal dengan ketat agar keasrian, keindahan, dan kesucian situs bersejarah ini tidak tergerus oleh ambisi eksplorasi industri semata. Gedong Songo adalah warisan bernilai tinggi yang wajib kita jaga keberlanjutannya hingga generasi masa depan.



Comments