Sebuah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai perjalanan masa lalunya. Menjelajahi destinasi Wisata Sejarah bukan sekadar pengisi waktu luang, melainkan sebuah petualangan seru yang membawa kita melintasi lorong waktu. Di tempat-tempat ini, setiap sudut bangunan tua, puing benteng, dan artefak purbakala memiliki cerita tersembunyi yang siap mengedukasi sekaligus menginspirasi kehidupan kita hari ini.
Kami menghadirkan ulasan mendalam mengenai berbagai situs bersejarah yang menakjubkan untuk agenda liburan Anda. Mulai dari kemegahan candi-candi peninggalan kerajaan nusantara, arsitektur kokoh benteng-benteng kolonial di pesisir pantai, hingga kawasan Kota Tua yang sarat akan atmosfer nostalgia. Wisata jenis ini sangat cocok untuk semua kalangan, baik bagi Anda pencinta sejarah kuno, fotografer yang memburu visual klasik, maupun keluarga yang ingin memberikan edukasi interaktif bagi anak-anak.
Lebih dari sekadar membagikan keindahan arsitektur masa lampau, artikel kami juga merangkum narasi latar belakang peristiwa besar yang pernah terjadi di lokasi tersebut. Anda juga akan mendapatkan informasi praktis yang lengkap, mulai dari jam operasional museum, ketersediaan pemandu wisata lokal yang ahli, hingga aturan penting dalam menjaga kelestarian benda cagar budaya agar tidak rusak.
Menjelajahi warisan masa lalu adalah cara terbaik untuk memahami akar budaya dan menghargai perjuangan para leluhir. Jangan biarkan tempat-tempat bersejarah ini sepi dari kunjungan Anda. Temukan berbagai referensi situs historis yang menarik dan penuh pengetahuan di platform kami. Susun rencana perjalanan Anda sekarang, bersiaplah menyerap banyak wawasan baru, dan rasakan sensasi magis berdiri di tempat sejarah dunia pernah diukir! Selamat berwisata!
A Magical Show Ramayana, Pertunjukan Baru yang Memukau di HeHa Ocean View Yogyakarta tidak pernah kehabisan cara untuk menghadirkan pengalaman wisata yang unik. Setelah dikenal dengan kekayaan budaya, candi bersejarah, dan panorama alam yang memukau, kini hadir sebuah pertunjukan spektakuler yang berhasil menarik perhatian wisatawan, yaitu A Magical Show Ramayana di HeHa Ocean View. Pertunjukan ini menawarkan pengalaman berbeda dibandingkan pertunjukan Ramayana pada umumnya. Jika selama ini wisatawan mengenal kisah Ramayana melalui pementasan di kawasan Prambanan, kini cerita epik tersebut hadir dengan nuansa yang lebih modern dan latar yang sangat istimewa, yaitu panorama laut selatan Yogyakarta. Perpaduan seni pertunjukan, tata cahaya modern, musik yang memukau, serta pemandangan alam yang luar biasa menjadikan A Magical Show Ramayana sebagai salah satu atraksi wisata yang wajib masuk dalam itinerary saat berkunjung ke Jogja. Mengenal HeHa Ocean View HeHa Ocean View merupakan salah satu destinasi wisata paling populer di kawasan Gunungkidul. Berada di atas tebing yang menghadap langsung ke Samudra Hindia, tempat ini menawarkan pemandangan laut yang spektakuler dari ketinggian. Sejak dibuka, HeHa Ocean View dikenal sebagai destinasi yang memadukan keindahan alam dengan berbagai fasilitas modern. Wisatawan dapat menikmati restoran, area santai, spot foto instagramable, hingga pertunjukan hiburan yang semakin memperkaya pengalaman berkunjung. Kini, dengan hadirnya A Magical Show Ramayana, HeHa Ocean View semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Yogyakarta. Kisah Ramayana yang Dikemas Lebih Modern Ramayana merupakan salah satu kisah epik paling terkenal di Asia yang menceritakan perjuangan Rama dalam menyelamatkan Shinta dari Rahwana. Cerita ini telah menjadi bagian penting dari budaya Jawa dan sering dipentaskan dalam berbagai bentuk seni tradisional. Dalam A Magical Show Ramayana, kisah klasik tersebut dikemas dengan pendekatan yang lebih modern tanpa menghilangkan nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Penonton akan disuguhkan: Tari kolosal yang memukau Tata cahaya spektakuler Efek visual modern Musik yang mendukung
A Magical Show Ramayana, Pertunjukan Baru yang Memukau di HeHa Ocean View Yogyakarta tidak pernah kehabisan cara untuk menghadirkan pengalaman wisata yang unik. Setelah dikenal dengan kekayaan budaya, candi bersejarah, dan panorama alam yang memukau, kini hadir sebuah pertunjukan spektakuler yang berhasil menarik perhatian wisatawan, yaitu A Magical Show Ramayana di HeHa Ocean View. Pertunjukan
Anda mungkin selalu melihat background foto di instagram yang keren berupa background candi saat sunset dengan dua Dwarapala besar di sebelah kanan dan kiri, seolah menjadi penjaga yang sedang difoto. Tetapi banyak diantara Anda yang belum mengetahui dimana lokasi foto dengan latar seperti itu. Nah jika Anda ingin mengetahui lokasi dan tipsnya foto di dengan latar seperti itu silahkan simak artikelnya. Betul tebakan Anda..! Lokasi tersebut adalah Candi Sewu. Profil singkat keberadaan Candi yang eksotis ini pada abad ke-8, Candi Sewu yang merupakan candi Buddha dibangun di dekat Candi Prambanan. Jaraknya hanya sekitar 800 meter di sebelah utara Candi Prambanan. Nama lain Candi sewu ialah Candi Manjusrighra. Selain merupakan candi terbesar kedua setelah Candi Borobudur, Candi Sewu juga memiliki usia lebih tua daripada Candi Borobudur dan Prambanan. Sejatinya, candi ini memiliki sebanyak 249 candi. Namun, masyarakat menyabutnya dengan “sewu”. Dalam bahasa jawa, kata “sewu” berarti seribu. Nah, nama Canci Sewu ini pun diambil berdasarkan kisah legenda Roro Jonggrang. Nama asli Candi Sewu ialah “Prasada Vajrasana Manjusrigha”. “Prasada” artinya candi atau kuil. Nah, sedangkan “vajrajasana” berarti tempat wajra (intan atau halilintar) bertahta. Sementara itu, “manjusri-grha” yang bermakna rumah manjusri. Di dalam agama Buddha, manjusri termasuk salah satu rumah Boddhisatwa. Menurut sejarah, Candi Sewu dibangun pada akhir pemerintahan Rakai Panangkaran yang merupakan raja Kerajaan Mataram Kuno, yakni dengan masa pimpinan pada tahun 746 hingga 784. Sedangkan, pada masa pemerintahan Rakai Pikatan, Candi ini diperluas. Rakai Pikatan adalah pangeran dari Dinasti Sanjaya. Ia menikah dengan Pramodhawadhani dari dinasti Sailendra. Rakyat tetap menganut agama sebelumnya setelah kekuasaan Dinasti Sanjaya. Adanya Candi Sewu yang bercorak Buddha di dekat Candi Prambanan yang bercorak Hindu membuktikan bahwa adanya kehidupan harmonis dan toleransi beragama masyarakat Jawa pada zaman dulu. Dulu, Candi Sewu merupakan Candi Budha Kerajaan. Tempat ini sekaligus menjadi tempat kegiatan agama Budha pada masa lalu. Terdapat
Anda mungkin selalu melihat background foto di instagram yang keren berupa background candi saat sunset dengan dua Dwarapala besar di sebelah kanan dan kiri, seolah menjadi penjaga yang sedang difoto. Tetapi banyak diantara Anda yang belum mengetahui dimana lokasi foto dengan latar seperti itu. Nah jika Anda ingin mengetahui lokasi dan tipsnya foto di dengan
Berikut adalah revisi artikel Kraton Yogyakarta: Bridging Between Faith and Culture dengan mencantumkan nama Campa Tour dan tanpa menyertakan referensi sumber luar lainnya. Kata-kata dalam cetak tebal (bold) tetap dipertahankan sebagai rekomendasi untuk internal link. Kraton Yogyakarta: Bridging Between Faith and Culture Kraton Yogyakarta bukan sekadar istana megah tempat tinggal Sultan, melainkan jantung spiritual dan kebudayaan suku Jawa yang masih berdenyut kuat hingga hari ini. Didirikan pada tahun 1755 oleh Sultan Hamengkubuwono I, arsitektur istana ini dirancang dengan filosofi mendalam yang menjembatani iman Islam, budaya Jawa, dan poros garis imajiner alam. Mengunjungi wisata budaya Jogja yang satu ini bersama Campa Tour akan memberikan Anda pemahaman mendalam tentang bagaimana tradisi masa lalu tetap lestari dan selaras di era modern. Unit Area dan Harga Tiket Masuk Terbaru Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat memiliki beberapa unit pariwisata yang tersebar di kompleks istana. Berikut adalah rincian unit area utama beserta harga tiket masuk terbaru: Kedhaton (Kompleks Inti Istana) Ini adalah area utama tempat Anda bisa melihat pelataran megah, benda-benda bersejarah, hingga menyaksikan pertunjukan seni tradisional seperti tari Jawa atau gamelan pada hari-hari tertentu. Wisatawan Domestik: Rp15.000 (Dewasa) | Rp10.000 (Anak-anak) Wisatawan Mancanegara: Rp25.000 (Dewasa) | Rp20.000 (Anak-anak) Wahanarata (Museum Kereta Keraton) Museum yang menyimpan koleksi kereta-kereta kencana milik Kesultanan Yogyakarta yang bernilai sejarah tinggi. Wisatawan Domestik: Rp20.000 (Dewasa) | Rp15.000 (Anak-anak) Wisatawan Mancanegara: Rp30.000 (Dewasa) | Rp25.000 (Anak-anak) Tamansari (Istana Air) Meskipun terletak sedikit terpisah dari bangunan utama, Taman Sari Jogja merupakan situs pemandian kuno bersejarah yang dulunya menjadi tempat rekreasi sultan dan keluarga kerajaan. Wisatawan Domestik: Rp15.000 (Dewasa) | Rp10.000 (Anak-anak) Wisatawan Mancanegara: Rp25.000 (Dewasa) | Rp20.000 (Anak-anak) (Catatan: Anak usia 0-2 tahun gratis. Tiket anak berlaku untuk usia 2-12 tahun. Tarif parkir kendaraan berkisar antara Rp5.000 untuk motor dan Rp10.000 untuk mobil). Jam Operasional Bagi Anda yang sedang menyusun agenda paket tour Jogja, pastikan
Berikut adalah revisi artikel Kraton Yogyakarta: Bridging Between Faith and Culture dengan mencantumkan nama Campa Tour dan tanpa menyertakan referensi sumber luar lainnya. Kata-kata dalam cetak tebal (bold) tetap dipertahankan sebagai rekomendasi untuk internal link. Kraton Yogyakarta: Bridging Between Faith and Culture Kraton Yogyakarta bukan sekadar istana megah tempat tinggal Sultan, melainkan jantung spiritual dan
Menjelajah Taman Sari Jogja: Panduan Liburan ala Bangsawan Abad ke-18 Jika Anda ingin merasakan atmosfer kemegahan masa lalu Kesultanan Yogyakarta, Taman Sari Jogja adalah destinasi yang wajib dikunjungi. Dikenal secara internasional sebagai Taman Sari Water Castle, situs bersejarah yang dibangun pada tahun 1758 oleh Sultan Hamengkubuwono I ini dulunya berfungsi sebagai taman pemandian rahasia, tempat rekreasi, sekaligus benteng pertahanan bagi keluarga kerajaan. Melintasi gerbang kastil air ini bersama Campa Tour akan membawa Anda berjalan mundur ke abad ke-18, menikmati perpaduan arsitektur Jawa-Eropa yang megah nan eksotis. Harga Tiket Masuk Terbaru Menikmati keindahan situs warisan dunia ini sangatlah ramah di kantong, menjadikannya destinasi wajib dalam agenda paket tour Jogja Anda. Berikut adalah rincian tarif masuk terbarunya: Wisatawan Domestik: Rp15.000 per orang Wisatawan Mancanegara: Rp25.000 per orang Tarif Parkir Sepeda Motor: Rp3.000 Tarif Parkir Mobil: Rp5.000 – Rp10.000 Izin Kamera Pro (DSLR/Mirrorless): Rp3.000 (Catatan: Harga tiket masuk dapat berubah sewaktu-waktu terutama saat musim libur nasional). Jam Operasional Situs bersejarah ini buka setiap hari dengan jadwal sebagai berikut: Buka Setiap Hari (Senin - Minggu): Pukul 09.00 – 15.00 WIB. Tips: Datanglah di pagi hari sekitar pukul 09.00 WIB untuk menghindari terik matahari yang terlalu menyengat dan antrean berfoto yang panjang. Daya Tarik Utama & Spot Ikonik Taman Sari bukan sekadar kolam air biasa, kompleks ini memiliki beberapa area menakjubkan yang sangat fotogenik: Umbul Pasiraman (Kolam Pemandian): Area utama berupa tiga kolam air jernih berwarna biru kehijauan yang dikelilingi oleh bangunan bergaya klasik. Di sinilah dulunya para putri raja menghabiskan waktu. Sumur Gumuling (Masjid Bawah Tanah): Sebuah bangunan bertingkat berbentuk lingkaran yang berfungsi sebagai masjid bawah tanah. Pusat dari bangunan ini memiliki lima anak tangga ikonik yang melambangkan rukun Islam, menjadi spot foto paling diburu wisatawan. Gedhong Kenongo: Titik tertinggi di kompleks Taman Sari yang dulunya digunakan sebagai tempat perjamuan makan sultan. Dari reruntuhan
Menjelajah Taman Sari Jogja: Panduan Liburan ala Bangsawan Abad ke-18 Jika Anda ingin merasakan atmosfer kemegahan masa lalu Kesultanan Yogyakarta, Taman Sari Jogja adalah destinasi yang wajib dikunjungi. Dikenal secara internasional sebagai Taman Sari Water Castle, situs bersejarah yang dibangun pada tahun 1758 oleh Sultan Hamengkubuwono I ini dulunya berfungsi sebagai taman pemandian rahasia, tempat
Setiap tempat pasti menyimpan misteri sejarahnya masing-masing.campatour.com mencoba mengungkap sejarah kejayaan kerajaan di Kalimantan Selatan. Dari berbagai sumber, Campa Tour merangkumkannya dalam tulisan ini. Pada tahun 8000 SM, migrasi I, manusia mendiami gua-gua di Pegunungan Meratus. Kelompok ini melanjutkan migrasi ke pulau Papua dan Australia. Fosilnya ditemukan di Gua Babi di Gunung Batu Buli, Desa Randu, Muara Uya, Tabalong. Lalu, pada tahun 2500 SM, migasi II, yaitu bangsa Austronesia dari pulau Formosa ke pulau Borneo dengan membawa adat ngayau yang menjadi nenek moyang suku Dayak. Pada tahun 400 M, peninggalan tertua yang diketahui dari agama Hindu di Kalimantan berupa yupa yang ditemukan di daerah Kutai. Lalu pada tahun 242-1362 M, berdiri Kerajaan Tanjungpuri di Tanjung, Tabalong yang didirikan suku Melayu. Kerajaan Nan Sarunai Kerajaan Nan Sarunai adalah pemerintahan purba yang muncul dan berkembang di wilayah Kalimantan Selatan (administrative sekarang), tepatnya di antara wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara dan Kabupaten Tabalong. Kerajaan Nan Sarunai merupakan bagian awal dari riwayat panjang Kesultanan Banjar, salah satu pemerintahan kerajaan terbesar yang pernah ada di Kalimantan Selatan. Kerajaan Nan Sarunai terkait erat dengan kehidupan orang-orang Suku Dayak Maanyan, salah satu sub Suku Dayak tertua di tanah Borneo. Kerajaan purba yang dikelola oleh orang-orang Suku Dayak Maanyan ini disebutkan dengan nama yang berbeda-beda. Selain Nan Sarunai, nama-nama lain yang juga diyakini sebagai nama kerajaan ini adalah Kerajaan Kuripan, Kerajaan Tanjungpuri, dan Kerajaan Tabalong. Nama Kerajaan Tabalong disertakan karena kerajaan ini terletak di tepi Sungai Tabalong. Sungai Tabalong adalah anak sungai Bahan, sedangkan Sungai Bahan adalah anak Sungai Barito yang bermuara ke Laut Jawa. Selain itu, muncul pendapat berbeda yang menyatakan bahwa Kerajaan Tanjungpuri berbeda dengan Kerajaan Nan Sarunai. Pendapat ini meyakini bahwa Kerajaan Tanjungpuri bukan pemerintahan yang dikelola oleh Suku Dayak Maanyan, melainkan oleh orang-orang Melayu Palembang yang merupakan pelarian dari Kerajaan Sriwijaya. Versi yang satu ini
Setiap tempat pasti menyimpan misteri sejarahnya masing-masing.campatour.com mencoba mengungkap sejarah kejayaan kerajaan di Kalimantan Selatan. Dari berbagai sumber, Campa Tour merangkumkannya dalam tulisan ini. Pada tahun 8000 SM, migrasi I, manusia mendiami gua-gua di Pegunungan Meratus. Kelompok ini melanjutkan migrasi ke pulau Papua dan Australia. Fosilnya ditemukan di Gua Babi di Gunung Batu Buli, Desa Randu,
Pasti setiap orang pernah mendengar nama kota Banjarmasin. Tapi tahukah kamu darimana asal mula nama kota ini berasal? campatour.com mencoba menuliskannya: Sejarah pemerintahan di Kalimantan Selatan diperkirakan dimulai ketika berdirinya Kerajaan Tanjung Puri pada sekitar abad ke-5. Letak kerajaan ini cukup strategis, yaitu di kaki Pegunungan Meratus dan tepi sungai besar sehingga di kemudian hari menjadi Bandar yang cukup maju. Kerajaan Tanjung Puri dapat juga disebut Kerajaan Kahuripan yang cukup dikenal sebagai wadah pertama hibridasi, yaitu percampuran antarsuku dengan segala komponennya. Setelah itu, berdiri kerajaan atau Negara Dipa yang dibangun perantau dari Jawa. Pada abad ke-14, muncul Kerajaan atau Negara Daha yang memiliki unsur-unsur kebudayaan Jawa dan akibat pendangkalan sungai di wilayah Negara Dipa. Sebuah serangan datang dari Jawa dengan maksud menghancurkan kerajaan Dipa. Untuk menyelamatkan kerajaan, dinasti baru pimpinan Maharaja Sari Kaburangan segera naik tahta dan memindahkan pusat pemerintahan ke arah hilir, yaitu ke arah laut di Muhara Rampiau. Negara Dipa terhindar dari kehancuran total, bahkan dapat menata diri menjadi besar dengan nama Negara Daha dan raja sebagai pemimpin utamanya. Negara Daha akhirnya mengalami kemunduran dengan munculnya perebutan kekuasaan sejak Pangeran Samudra mengangkat senjata dari arah muara. Selain itu, dia juga mendirikan rumah bagi para patih yang berada di muara. Pemimpin utama para patih itu bernama “masih”. Tempat tinggal para masih ini dinamakan Bandarmasih. Raden Samudra mendirikan istana di tepi Sungai Kuwin untuk para patih tersebut. Kota ini kelak dinamakan Banjarmasin yang berasal dari kata Bandarmasih. Ada pula pendapat lain tentang etimologi Banjarmasin. Dalam bahasa Jawa, Banjarmasin berarti taman asin, sedangkan sejarah Jawa Barat mencatat nama Banjarmasin berasal dari keluarga keraton Kerajaan Mahasin di Singapura yang mengungsi ke daerah Banjar karena serangan Sriwijaya, kemudian berdirilah Kerajaan Banjar Mahasin, namun nama asli kota Banjarmasin adalah Banjar-Masih, pada tahun 1664 orang Belanda masih menulisnya Banjarmasch atau Banzjarmasch. Pendapat manakah yang paling benar?
Pasti setiap orang pernah mendengar nama kota Banjarmasin. Tapi tahukah kamu darimana asal mula nama kota ini berasal? campatour.com mencoba menuliskannya: Sejarah pemerintahan di Kalimantan Selatan diperkirakan dimulai ketika berdirinya Kerajaan Tanjung Puri pada sekitar abad ke-5. Letak kerajaan ini cukup strategis, yaitu di kaki Pegunungan Meratus dan tepi sungai besar sehingga di kemudian hari menjadi
Seorang kawan mengajak saya berkunjung ke Desa Lengkong, Serpong. Desa yang terletak di tengah kota BSD City. Nama yang cukup menarik ketika mendengarnya. Paling tidak, membuat saya penasaran darimana nama tersebut berasal. Kata Lengkong diambil dari asal tempat pendiri kampung ini, Raden Arya Wangsa Di Kara, di Sumedang. Raden Wangsa di Kara, atau Raden Arya Wangsakara adalah seorang ulama dan dapat dipastikan adalah Pangeran Arya Wiraraja II yang berasal dari Sumedang, yang memiliki benang merah dengan Kesultanan Cirebon. Ia pindah ke Banten untuk menghindari dari tekanan Kerajaan Mataram dan dari Pemberontakan Dipati Ukur. Selain itu, kata Lengkong ini juga menunjukkan bahwa lokasi kampung ini berada pada sebuah lingkung air; sungai. Foto oleh Bapak Yusri (Kepala SMK Plus BLM). Bersama kawan-kawan TripTrus dan Koperasi Jasa Wisata Mandiri Nusantara menyusur aliran Sungai Cisadane di Desa Lengkong Wetan (sebelah kanan tertutup pepohonan). Raden Arya Wangsakara bergelar Pangeran Wiraraja II atau terkenal dengan julukan Imam Haji Wangsaraja. Ayahnya bernama Pangeran Wiraraja I atau bergelar Pangeran Lemah Beureum Ratu Sumedang Larang. Ibunya bernama Putri Dewi Cipta, anak Raden Kidang Palakaran cucu Pucuk Umun dari Banten. Berdasarkan silsilah tersebut, Arya Wangsakara berasal dari Sumedang dan Cirebon, sementara pihak ibu berasal dari Banten. Setelah berpindah-pindah beberapa kali, akibat ancaman dari VOC, akhirnya Raden Arya Wangsakara mendapatkan lokasi yang tepat. Lokasi kampung ini strategis tersembunyi dan terlindungi oleh alam (hutan bambu) dan dilingkungi Sungai Cisadane dan kali kecil. Dan uniknya, penentuan lokasi yang dilakukan beliau berdasarkan pemilihan bagian alur Sungai Cisadane yang secara kebetulan menghadap kiblat, yakni 25 derajat dari barat ke utara. Hal ini mempengaruhi posisi bangunan rumah-rumah santri yang berupa gubug panggung yang mengikuti posisi kiblat, serta bagian memanjang rumah tersebut menghadap sungai dan bukit. Bangunan yang pertama kali dibangun adalah masjid yang menjorok ke dekat sungai, lalu gubug-gubug para santri. Foto oleh Muhammar Khamdevi. Peta
Seorang kawan mengajak saya berkunjung ke Desa Lengkong, Serpong. Desa yang terletak di tengah kota BSD City. Nama yang cukup menarik ketika mendengarnya. Paling tidak, membuat saya penasaran darimana nama tersebut berasal. Kata Lengkong diambil dari asal tempat pendiri kampung ini, Raden Arya Wangsa Di Kara, di Sumedang. Raden Wangsa di Kara, atau Raden Arya
Suatu ketika, saya membaca sebuah buku yang ditulis oleh Cornelis Kowaas. Judulnya Dewa Ruci: Pelayaran Pertama Menaklukkan Tujuh Samudra. Dalam salah satu bagian, diceritakan tentang kejayaan Banda, Maluku. Menarik. Saat membaca buku ini, saya baru tahu, ternyata pada zamannya, Banda pernah diperebutkan oleh Belanda dan Inggris. Bahkan “pesonanya” menandingi New York, yang kala itu disebut New Amsterdam. KETIKA PULAU BANDA LEBIH BERHARGA DARIPADA NEW YORK PERCAYA atau tidak, rempah-rempah (pala, cengkeh, merica) adalah salah satu faktor utama yang mendorong percepatan perubahan wajah dunia. Dari catatan sejarah kuno, rempah-rempah telah dibawa dan digunakan hingga ke Timur Tengah lebih dari 4.000 tahun yang lalu melalui jalur laut dan darat dari Indonesia ke India dan China, terus sampai ke Timur Tengah melalui jalan sutra atau silk road yang tersohor itu menembus gunung dan padang pasir. Para ahli menyatakan bahwa pada tahun 2600 sebelum Masehi, bangsa Mesir memberikan rempah-rempah tertentu dari Asia kepada para pekerja bangunan piramida agar mereka memiliki kekuatan ekstra. Dari bukti arkeologis ditemukan bahwa bangsa Mesopotamia, atau Siria sekarang, telah menggunakan rempah-rempah yang berasal dari Maluku itu untuk keperluan rumah tangganya pada waktu yang bersamaan. Konon, urusan rempah-rempah juga yang membuat bangsa Aria yang berkebudayaan tinggi hijrah ke India. Bangsa-bangsa Eropa, yang harus membayar sangat mahal untuk mendapatkan rempah-rempah yang telah lama dikuasai pedagang Arab, berusaha keras untuk mencari sumbernya, yang konon berada di sebuah pulau keramat tempat burung-burung (bird of paradise) yang sangat indah beterbangan di angkasa dan tidak pernah mendarat di bumi kecuali saat dia mati. Hal itu kemudian menimbulkan keinginan dan akhirnya menjadi obsesi untuk mencari sumber rempah-rempah. Catatan perjalanan Marco Polo ke China dan Asia Tenggara membuka mata orang Eropa. Hal itu pula yang mendorong pelayaran Columbus ke Amerika dan membuatnya menamai penduduk asli berkulit gelap yang ditemuinya di benua baru itu “Indian” dan buah suci merah
Suatu ketika, saya membaca sebuah buku yang ditulis oleh Cornelis Kowaas. Judulnya Dewa Ruci: Pelayaran Pertama Menaklukkan Tujuh Samudra. Dalam salah satu bagian, diceritakan tentang kejayaan Banda, Maluku. Menarik. Saat membaca buku ini, saya baru tahu, ternyata pada zamannya, Banda pernah diperebutkan oleh Belanda dan Inggris. Bahkan “pesonanya” menandingi New York, yang kala itu disebut
Dalam sejarahnya dahulu Yogyakarta dan Solo adalah berada didalam satu wilayah yaitu Kerajaan Mataram tetapi sejak perjanjian Giyanti di tahun 1755 kerajaan Mataram terpecah menjadi dua yaitu Yogyakarta dan Surakarta. Meski hingga kini keduanya terpisah secara administratif, dalam perjalanan menelusuri peninggalan kejayaan masa peradaban islam di Jawa pada kurun waktu antara abad 14 hingga 17 Masehi, Campa Tour memasukkan kota Solo dalam agenda penjelajahan tour ramadan dengan tema The Soul Ancient of Islam. Dengan tujuan memahami secara menyeluruh sejarah penyebaran Islam di Pulau Jawa. Jejak perjalanan bagian kedua Hari kedua cerita kami lanjutkan perjalanan ke sebuah peninggalan Mataram dengan mengunjungi sebuah daerah peninggalan yang bernama Kota Gede. Di Kota Gede inilah para pendiri awal Mataram Islam dan Sunan Kalijaga mengikhtiarkan sebuah siasat dakwah penyebaran Islam ke pedalaman Jawa. Cara yang dilakukan oleh para pendiri awal Mataram Islam dan Sunan Kalijaga adalah dengan mengorganisir sebuah masyarakat untuk membuat kraton. Cara dakwah yang cerdas ini menjadi upaya Sunan Kalijaga untuk menancapkan nilai-nilai Islam agar semakin mudah di cerna oleh masyarakat Jawa. Perjalanan di kampung batik Laweyan. Photo Courtesy of: Andhini Dewi Sebagian dari kami yaitu para lelaki, menggunakan sorjan atau baju lurik khas Jogja untuk lebih menjiwai perjalanan hari ini. Team Campa Tour telah menyediakan sorjan dalam berbagai ukuran sehingga kami dapat leluasa memilih yang pas di badan. Dengan menggunakan baju tenun khas Jawa ini, kami memasuki komplek makam Senopati di Kota Gede. Makam Ki Ageng Mangir Wanabaya adalah tempat yang kami tuju karena salah satu dari kami memiliki garis darah keturunan Ki Ageng Mangir. Dalam sejarahnya, Ki Ageng Mangir Wanabaya adalah penguasa daerah Mangir yang merupakan daerah perdikan atau desa yang tidak berkewajiban membayar upeti atau pajak kepada kerajaan Mataram. Solo menjadi tujuan kami selanjutnya. Selama perjalan, Mas Ari sebagai history expert dari Campa Tour mengajak kami selalu berdiskusi apa saja yang
Dalam sejarahnya dahulu Yogyakarta dan Solo adalah berada didalam satu wilayah yaitu Kerajaan Mataram tetapi sejak perjanjian Giyanti di tahun 1755 kerajaan Mataram terpecah menjadi dua yaitu Yogyakarta dan Surakarta. Meski hingga kini keduanya terpisah secara administratif, dalam perjalanan menelusuri peninggalan kejayaan masa peradaban islam di Jawa pada kurun waktu antara abad 14 hingga 17
Yogyakarta adalah salah satu kota yang mendapatkan sebutan daerah istimewa di Indonesia. Menjadi istimewa tidak hanya karena tertulis di peraturan tata negara tetapi juga karena kekayaan sejarah, adat istiadat dan budayanya. Dalam sejarah penyebaran agama Islam di pulau Jawa, kota Yogyakarta menyimpan peninggalan - peninggalan kejayaan masa peradaban islam di Jawa pada kurun waktu antara abad 14 hingga 17 Masehi. Oleh sebab itu, Campa Tour mengadakan tour ramadan dengan tema The Soul Ancient of Islam, mengajak peserta untuk tak hanya berwisata tetapi juga mengenal sejarah, menyaksikan peninggalan kejayaan masa peradaban islam yang tak lekang dimakan waktu. Jejak perjalanan bagian pertama Suara adzan subuh terdengar dari corong masjid Agung Yogyakarta, hari itulah pertama kali menginjakkan kaki di tanah Mataram Islam. Setelah usai sholat subuh, kami berkumpul sejenak, saling ramah tamah dan memperkenalkan diri. Campa Tour mengambil tema tur Ramadhan kali ini adalah mengenai kejayaan masa peradaban islam di Jawa pada kurun waktu antara abad 14 hingga 17 Masehi. Perjalanan ini menjadi napak tilas sejarah positif perdaban Islam. Dengan mendatangi situs peninggalan para wali penyeru dakwah dan para raja-raja yang terkenal alim dan sangat dicintai rakyatnya dapat membawa wisatawan memaknai lebih dalam akan indahnya masa lalu Situs pertama yang ditelaah adalah masjid agung Yogyakarta. Di balik kemegahannya ternyata masjid agung Yogyakarta mempunyai filosofi yang mendalam yang terlihat di simbol-simbol ornamen pada arsitektur masjid. Pesan yang disampaikan adalah ketika seseorang yang sholat di mesjid Agung Yogyakarta kelak dapat menjadi manusia yang memaknai ritual keagamaan dengan mengaplikasikan nilai-nilai ibadah ke dalam dimensi kemanusiaan. Perjalanan kami lanjutkan ke sebuah museum di Daerah Pleret Bantul. Disana terdapat puing – puing peninggalan keraton Pleret, arca – arca dan puing – puing masjid agung Pleret. Pleret menjadi destinasi Campa Tour karena merupakan bagian penting dari era Mataram. Di Pleret kita akan mengenal lebih dalam sosok Sultan Agung sebagai
Yogyakarta adalah salah satu kota yang mendapatkan sebutan daerah istimewa di Indonesia. Menjadi istimewa tidak hanya karena tertulis di peraturan tata negara tetapi juga karena kekayaan sejarah, adat istiadat dan budayanya. Dalam sejarah penyebaran agama Islam di pulau Jawa, kota Yogyakarta menyimpan peninggalan – peninggalan kejayaan masa peradaban islam di Jawa pada kurun waktu antara