Sasando: Dawai Surga dari Pulau Ratu Petualang Sasando berasal dari kata dalam bahasa Rote, "Sasandu", yang berarti alat yang bergetar atau berbunyi. Keunikan utamanya terletak pada bahan dasarnya yang sangat organik: bambu untuk tabung resonansi, kawat halus untuk dawai, dan daun lontar yang dikeringkan sebagai wadah resonansi yang menyerupai kipas atau cangkang. Filosofi Daun Lontar dan Kehidupan Rote Pulau Rote sering disebut sebagai "Pulau Lontar". Bagi orang Rote, pohon lontar adalah pohon kehidupan. Air niranya diminum, buahnya dimakan, batangnya untuk bangunan, dan daunnya dianyam menjadi topi Ti’i Langga hingga instrumen musik Sasando. Penggunaan daun lontar pada Sasando membuktikan bahwa masyarakat Rote memiliki kreativitas tinggi dalam memanfaatkan alam tanpa merusaknya—sebuah nilai yang sangat dijunjung oleh Campa Tour. Jenis-Jenis Sasando Saat Anda berkunjung ke Rote, Anda akan menemukan dua jenis Sasando utama: Sasando Gong: Memiliki 11 dawai dan biasanya digunakan untuk lagu-lagu tradisional dengan tangga nada pentatonik. Sasando Biola: Memiliki dawai yang lebih banyak (hingga 32 atau lebih) dengan tangga nada diatonik, memungkinkan pemainnya membawakan lagu-lagu modern dan internasional. Eksplorasi Budaya Rote Bersama Campa Tour Melalui layanan "Shoot My Trip", kami memastikan perjalanan Anda di Pulau Rote terdokumentasi dengan apik—mulai dari momen Anda belajar memetik dawai Sasando hingga menikmati matahari terbenam di Pantai Nembrala yang mendunia. Itinerary Budaya Singkat: Kunjungan ke Pengrajin Sasando: Melihat langsung proses penjemuran daun lontar dan pemasangan dawai yang memerlukan ketelitian tinggi. Workshop Musik: Belajar teknik dasar memetik Sasando langsung dari maestro lokal. Performa Budaya: Menikmati lantunan lagu daerah Rote yang menghanyutkan di pinggir pantai. Tips Menikmati Wisata Budaya di Rote Dukung Pengrajin Lokal: Membeli Sasando miniatur atau produk anyaman lontar lainnya adalah cara terbaik untuk membantu pelestarian budaya lokal. Waktu Terbaik: Berkunjunglah antara bulan Mei hingga September saat cuaca cerah dan banyak festival budaya diadakan di Pulau Rote. Hargai Tradisi: Selalu minta izin sebelum mencoba memainkan Sasando
Sasando: Dawai Surga dari Pulau Ratu Petualang Sasando berasal dari kata dalam bahasa Rote, “Sasandu”, yang berarti alat yang bergetar atau berbunyi. Keunikan utamanya terletak pada bahan dasarnya yang sangat organik: bambu untuk tabung resonansi, kawat halus untuk dawai, dan daun lontar yang dikeringkan sebagai wadah resonansi yang menyerupai kipas atau cangkang. Filosofi Daun Lontar
Membaca Langit Nusantara: Warisan Astronomi Tradisional Indonesia Sebelum kompas digital dan GPS ditemukan, masyarakat Indonesia sudah memiliki sistem penanggalan dan navigasi yang sangat akurat berbasis posisi benda langit. Berikut adalah beberapa konsep astronomi asli dari berbagai daerah: 1. Pranata Mangsa (Jawa) Sistem penanggalan ini sangat krusial bagi petani di Jawa untuk menentukan waktu tanam dan panen. Salah satu penanda utamanya adalah rasi bintang Luku (atau rasi bintang Orion). Ketika rasi Luku muncul di arah timur setelah matahari terbenam, itu adalah pertanda musim tanam segera tiba. "Luku" sendiri berarti alat bajak sawah, menggambarkan bagaimana masyarakat Jawa menghubungkan bentuk rasi bintang dengan alat kerja mereka sehari-hari. 2. Navigasi Bintang Masyarakat Bugis-Makassar Pelaut Bugis dikenal sebagai nahkoda tangguh yang menjelajahi samudera hingga ke Australia. Mereka menggunakan Bintang Pari (Crux/Salib Selatan) yang mereka sebut sebagai Bintoéng Kamasé untuk menentukan arah selatan, dan rasi Orion sebagai penentu arah barat. Pengetahuan ini diturunkan melalui lagu dan syair agar mudah diingat oleh para pelaut muda. 3. Waruga dan Tata Letak (Minahasa) Masyarakat Minahasa kuno membangun pemakaman Waruga dengan arah yang selaras dengan posisi matahari. Prinsip ini menunjukkan pemahaman mendalam tentang siklus gerak semu matahari (ekliptika) dan hubungannya dengan konsep kehidupan serta kematian dalam budaya lokal. 4. Astronomi di Candi Borobudur Candi Borobudur bukan sekadar monumen keagamaan, melainkan juga sebuah instrumen astronomi raksasa. Penelitian menunjukkan bahwa stupa puncak dan pola bayangan matahari pada waktu-waktu tertentu bertindak sebagai gnomon (jam matahari) untuk menentukan pergantian musim. Wisata Astronomi (Astrotourism) Bersama Campa Tour Melalui konsep "A New Way of Travel", Campa Tour mengajak Anda mengunjungi lokasi-lokasi dengan polusi cahaya rendah untuk melakukan stargazing sambil mempelajari mitologi bintang lokal. Destinasi Astrotourism Terbaik: Wae Rebo, Flores: Di desa di atas awan ini, Anda bisa melihat Bima Sakti (Milky Way) dengan sangat jelas tanpa gangguan lampu kota. Kawah Ijen & Baluran: Area terbuka di
Membaca Langit Nusantara: Warisan Astronomi Tradisional Indonesia Sebelum kompas digital dan GPS ditemukan, masyarakat Indonesia sudah memiliki sistem penanggalan dan navigasi yang sangat akurat berbasis posisi benda langit. Berikut adalah beberapa konsep astronomi asli dari berbagai daerah: 1. Pranata Mangsa (Jawa) Sistem penanggalan ini sangat krusial bagi petani di Jawa untuk menentukan waktu tanam dan
Socio Travel: Menelusuri Jejak Akulturasi di Festival Cap Go Meh 2026 Socio Travel adalah cara baru menikmati perjalanan dengan mengedepankan interaksi sosial dan kontribusi positif terhadap destinasi yang dikunjungi. Dalam konteks Festival Cap Go Meh, hal ini berarti mendukung ekonomi perajin atribut festival, menjaga kebersihan area prosesi, serta menghargai keberagaman yang menjadi fondasi utama acara ini. Destinasi Utama Cap Go Meh di Indonesia 1. Singkawang, Kalimantan Barat (Kota Seribu Kelenteng) Singkawang adalah pusat perayaan Cap Go Meh terbesar di Asia Tenggara. Keunikan utamanya adalah parade Tatung, di mana ratusan orang menunjukkan kekebalan tubuh dalam kondisi tidak sadar. Socio Impact: Dengan berkunjung ke sini, Anda mendukung keberlanjutan tradisi lokal yang melibatkan ribuan perajin kostum dan peralatan ritual. 2. Bogor, Jawa Barat (Street Festival Jalan Suryakencana) Dikenal dengan tajuk Bogor Street Festival, acara ini adalah simbol toleransi terbaik di Indonesia. Doa bersama antarumat beragama membuka jalannya pawai Barongsai dan Liong. Socio Impact: Campa Tour mengajak peserta untuk mendukung UMKM kuliner lokal di sepanjang Jalan Suryakencana yang legendaris. 3. Pulau Kemaro, Palembang Perayaan di tengah Sungai Musi ini menawarkan suasana yang magis dengan ribuan lampion merah yang menghiasi pulau. Legenda cinta antara saudagar Tiongkok dan putri Palembang menambah kedalaman makna kunjungan Anda. Pengalaman "Shoot My Trip" di Tengah Festival Mengambil foto di tengah kerumunan festival memerlukan teknik khusus. Tim Campa Tour akan mendampingi Anda untuk menangkap momen-momen paling emosional: Human Interest: Ekspresi khusyuk para umat saat sembahyang. Action Shot: Gerakan dinamis naga dan singa saat menari. Detail: Warna-warni kostum dan ornamen kelenteng yang estetik. Tips Menjalankan Socio Travel saat Cap Go Meh Gunakan Transportasi Publik/Jalan Kaki: Mengurangi kemacetan di area festival membantu kelancaran prosesi bagi warga lokal. Belanja Produk Lokal: Belilah pernak-pernik atau makanan dari pedagang kecil di sekitar area acara. Hargai Privasi Ritual: Saat mengambil foto melalui layanan "Shoot My Trip", pastikan
Socio Travel: Menelusuri Jejak Akulturasi di Festival Cap Go Meh 2026 Socio Travel adalah cara baru menikmati perjalanan dengan mengedepankan interaksi sosial dan kontribusi positif terhadap destinasi yang dikunjungi. Dalam konteks Festival Cap Go Meh, hal ini berarti mendukung ekonomi perajin atribut festival, menjaga kebersihan area prosesi, serta menghargai keberagaman yang menjadi fondasi utama acara
Dalam suat kunjungan ke Dusun Kapayang tempat bermukim Dayak Meratus, ada seorang Ibu yang begitu bersahabat menerima kami. Ia baru saja turun dari hutan, menggendong balihung di punggung, berisikan pecahan pohon kayu manis. Peserta kami, Mustaqim, penasaran seperti apa rasanya menggendong balihung. Si Ibu dengan baik hati mempersilakan Mustaqim untuk mencoba. Setelah mengisi balihung dengan kulit kayu manis yang sudah direndam seharian, si Ibu menyerahkan balihung untuk dipakai oleh Mustaqim. Menaiki undakan satu demi satu. Terus berjalan menuju dusun atas, karena rumah si Ibu terletak di atas, persis tepi atas sisi sungai. Setelah berat menahan titik beban di kepala dan pundak, akhirnya sampai juga di depan rumah. "Bagaimana rasanya?" saya bertanya. Lepas menghela nafas dan mengumpulkan tenaga Taqim menjawab, "Ternyata, berat..." Kami pun hanya meringis. Seusai bersih diri sehabis turun dari hutan, si Ibu pun melanjutkan aktivitasnya, mengumpulkan hasil kulit kayu manis. Sementara Taqim berinteraksi dengan penduduk setempat, saya memperhatikan si Ibu. Karena penasaran, saya bertanya, "Bu...apa boleh saya masuk ke dalam rumah..? Saya ingin tahu rumah penduduk Kapayang seperti apa.." Si Ibu menjawab senang, "Pasti boleh!" Dengan senang hati saya masuk ke dalam rumahnya. Di antara rumah penduduk yang lain, saya rasa ini termasuk rumah yang cukup luas. Ada satu ruang utama dan satu kamar. Sisanya adalah dapur dan tempat mencuci perabotan. Di atas lemari dapur terdapat banyak balihung. Penduduk asli Dayak Meratus memang sudah terbiasa membuat sendiri balihung mereka. Yang menarik adalah bagian paling akhir dari rumah. Di sisi samping dan belakang, terdapat jendela besar. Ketika saya membukanya, langsung terpapar pemandangan sungai di depan bawah rumah. Suara gemericik air sungai yang berbenturan dengan batu pun terdengar jelas. Saya tersenyum ke arah sang Ibu. "Senang sekali Bu, punya rumah seperti ini. Auranya segar," ucap saya sekaligus berterima kasih karena sudah diperbolehkan masuk meneliti rumahnya. Si Ibu tersenyum senang. Lalu
Dalam suat kunjungan ke Dusun Kapayang tempat bermukim Dayak Meratus, ada seorang Ibu yang begitu bersahabat menerima kami. Ia baru saja turun dari hutan, menggendong balihung di punggung, berisikan pecahan pohon kayu manis. Peserta kami, Mustaqim, penasaran seperti apa rasanya menggendong balihung. Si Ibu dengan baik hati mempersilakan Mustaqim untuk mencoba. Setelah mengisi balihung dengan
Campa Tour turut hadir memenuhi undangan acara Peresmian dan Familirization Tour Bajo Mola (7-9 Agustus 2015). Acara ini diselenggarakan oleh British Council dan Bank Mandiri. Mola adalah salah satu desa wisata di Indonesia yang memiliki daya tarik khas untuk dikunjungi. Terletak di Pulau Wangiwangi, Wakatobi-Sulawesi Tenggara, Mola memberi pengalaman wisata budaya berbalut pengalaman bahari. Kawasan Bajo Mola, dikembangkan selama ±2 tahun menjadi sebuah desa wisata yang tumbuh dan berkembang berkat inisiatif masyarakatnya sendiri. Dalam hal ini, British Council dan Bank Mandiri bekerjasama mengembangkan 5 desa di kawasan Mola, yaitu Desa Mola Utara, Mola Selatan, Mola Bahari, Mola Samaturu, dan Mola Nelayan Bakti melalui program Mandiri bersama Mandiri – Pariwisata Berkelanjutan (MBM PB). Dengan memberikan dukungan pelatihan serta program pembinaan, diharapkan dapat membantu masyarakat dalam mengembangkan ekowisata budaya Bajo Mola. British Council dan Bank Mandiri meyakini, kualitas daya tarik wisata tentu juga dipengaruhi oleh bagaimana masyarakat lokal mengelola destinasi pariwisata yang berkelanjutan secara mandiri. Kini, tiba saatnya masyarakat mengelola secara mandiri Desa Mola menjadi sebuah destinasi wisata yang berkualitas. Dihadiri oleh para pelaku trend wisata kekinian, Campa Tour, Kelanarasa, Wonderlust, dan KartuPos; serta berbagai media nasional, KompasTV, MNCTV, Media Indonesia, KompasTravel, Koran Kompas, Kontan, Detik.com, Jakarta Post, dan lain-lain, disaksikan oleh Bupati Wakatobi, Kemenparekraf, serta berbagai tokoh masyarakat, kawasan wisata Mola resmi diluncurkan.
Campa Tour turut hadir memenuhi undangan acara Peresmian dan Familirization Tour Bajo Mola (7-9 Agustus 2015). Acara ini diselenggarakan oleh British Council dan Bank Mandiri. Mola adalah salah satu desa wisata di Indonesia yang memiliki daya tarik khas untuk dikunjungi. Terletak di Pulau Wangiwangi, Wakatobi-Sulawesi Tenggara, Mola memberi pengalaman wisata budaya berbalut pengalaman bahari. Kawasan
Seorang kawan mengajak saya berkunjung ke Desa Lengkong, Serpong. Desa yang terletak di tengah kota BSD City. Nama yang cukup menarik ketika mendengarnya. Paling tidak, membuat saya penasaran darimana nama tersebut berasal. Kata Lengkong diambil dari asal tempat pendiri kampung ini, Raden Arya Wangsa Di Kara, di Sumedang. Raden Wangsa di Kara, atau Raden Arya Wangsakara adalah seorang ulama dan dapat dipastikan adalah Pangeran Arya Wiraraja II yang berasal dari Sumedang, yang memiliki benang merah dengan Kesultanan Cirebon. Ia pindah ke Banten untuk menghindari dari tekanan Kerajaan Mataram dan dari Pemberontakan Dipati Ukur. Selain itu, kata Lengkong ini juga menunjukkan bahwa lokasi kampung ini berada pada sebuah lingkung air; sungai. Foto oleh Bapak Yusri (Kepala SMK Plus BLM). Bersama kawan-kawan TripTrus dan Koperasi Jasa Wisata Mandiri Nusantara menyusur aliran Sungai Cisadane di Desa Lengkong Wetan (sebelah kanan tertutup pepohonan). Raden Arya Wangsakara bergelar Pangeran Wiraraja II atau terkenal dengan julukan Imam Haji Wangsaraja. Ayahnya bernama Pangeran Wiraraja I atau bergelar Pangeran Lemah Beureum Ratu Sumedang Larang. Ibunya bernama Putri Dewi Cipta, anak Raden Kidang Palakaran cucu Pucuk Umun dari Banten. Berdasarkan silsilah tersebut, Arya Wangsakara berasal dari Sumedang dan Cirebon, sementara pihak ibu berasal dari Banten. Setelah berpindah-pindah beberapa kali, akibat ancaman dari VOC, akhirnya Raden Arya Wangsakara mendapatkan lokasi yang tepat. Lokasi kampung ini strategis tersembunyi dan terlindungi oleh alam (hutan bambu) dan dilingkungi Sungai Cisadane dan kali kecil. Dan uniknya, penentuan lokasi yang dilakukan beliau berdasarkan pemilihan bagian alur Sungai Cisadane yang secara kebetulan menghadap kiblat, yakni 25 derajat dari barat ke utara. Hal ini mempengaruhi posisi bangunan rumah-rumah santri yang berupa gubug panggung yang mengikuti posisi kiblat, serta bagian memanjang rumah tersebut menghadap sungai dan bukit. Bangunan yang pertama kali dibangun adalah masjid yang menjorok ke dekat sungai, lalu gubug-gubug para santri. Foto oleh Muhammar Khamdevi. Peta
Seorang kawan mengajak saya berkunjung ke Desa Lengkong, Serpong. Desa yang terletak di tengah kota BSD City. Nama yang cukup menarik ketika mendengarnya. Paling tidak, membuat saya penasaran darimana nama tersebut berasal. Kata Lengkong diambil dari asal tempat pendiri kampung ini, Raden Arya Wangsa Di Kara, di Sumedang. Raden Wangsa di Kara, atau Raden Arya
Suatu ketika, saya membaca sebuah buku yang ditulis oleh Cornelis Kowaas. Judulnya Dewa Ruci: Pelayaran Pertama Menaklukkan Tujuh Samudra. Dalam salah satu bagian, diceritakan tentang kejayaan Banda, Maluku. Menarik. Saat membaca buku ini, saya baru tahu, ternyata pada zamannya, Banda pernah diperebutkan oleh Belanda dan Inggris. Bahkan “pesonanya” menandingi New York, yang kala itu disebut New Amsterdam. KETIKA PULAU BANDA LEBIH BERHARGA DARIPADA NEW YORK PERCAYA atau tidak, rempah-rempah (pala, cengkeh, merica) adalah salah satu faktor utama yang mendorong percepatan perubahan wajah dunia. Dari catatan sejarah kuno, rempah-rempah telah dibawa dan digunakan hingga ke Timur Tengah lebih dari 4.000 tahun yang lalu melalui jalur laut dan darat dari Indonesia ke India dan China, terus sampai ke Timur Tengah melalui jalan sutra atau silk road yang tersohor itu menembus gunung dan padang pasir. Para ahli menyatakan bahwa pada tahun 2600 sebelum Masehi, bangsa Mesir memberikan rempah-rempah tertentu dari Asia kepada para pekerja bangunan piramida agar mereka memiliki kekuatan ekstra. Dari bukti arkeologis ditemukan bahwa bangsa Mesopotamia, atau Siria sekarang, telah menggunakan rempah-rempah yang berasal dari Maluku itu untuk keperluan rumah tangganya pada waktu yang bersamaan. Konon, urusan rempah-rempah juga yang membuat bangsa Aria yang berkebudayaan tinggi hijrah ke India. Bangsa-bangsa Eropa, yang harus membayar sangat mahal untuk mendapatkan rempah-rempah yang telah lama dikuasai pedagang Arab, berusaha keras untuk mencari sumbernya, yang konon berada di sebuah pulau keramat tempat burung-burung (bird of paradise) yang sangat indah beterbangan di angkasa dan tidak pernah mendarat di bumi kecuali saat dia mati. Hal itu kemudian menimbulkan keinginan dan akhirnya menjadi obsesi untuk mencari sumber rempah-rempah. Catatan perjalanan Marco Polo ke China dan Asia Tenggara membuka mata orang Eropa. Hal itu pula yang mendorong pelayaran Columbus ke Amerika dan membuatnya menamai penduduk asli berkulit gelap yang ditemuinya di benua baru itu “Indian” dan buah suci merah
Suatu ketika, saya membaca sebuah buku yang ditulis oleh Cornelis Kowaas. Judulnya Dewa Ruci: Pelayaran Pertama Menaklukkan Tujuh Samudra. Dalam salah satu bagian, diceritakan tentang kejayaan Banda, Maluku. Menarik. Saat membaca buku ini, saya baru tahu, ternyata pada zamannya, Banda pernah diperebutkan oleh Belanda dan Inggris. Bahkan “pesonanya” menandingi New York, yang kala itu disebut
Campa bersama beberapa pelaku trend wisata kekinian dan Wanderlust Indonesia yang menjadi salah satu lokomotif komunitas bisnis sosial yang bergerak di bidang community-based tourism dan mempunyai tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, lingkungan, dan ekonomi di masyarakat lokal tujuan wisata di Indonesia, bekerjasama mengadakan acara talkshow. Talkshow ini di inisiasi oleh Wonderlust yang mempunyai visi memberikan pengalaman traveling yang unik dan bermakna untuk para traveler kami sehingga mereka tidak hanya traveling tapi juga melakukan kegiatan volunteering dan berkontribusi di proyek sosial yang kami rintis di desa lokasi wisata. Setiap 3 bulan sekali, Wonderlust mengadakan talkshow bernama WanderTalk untuk umum sebagai forum untuk bertukar pikiran dan berbagi tentang topik-topik seputar traveling, community development, dan volunteering. Bulan ini, Wonderlust mengangkat tema "Learn the Different Way of Travel Indonesia". Pada hari Selasa, 12 Mei 2015 di @america - Pacific Place Mall 3rd Floor, pukul 18.30 - 20.30 WIB. Campa diundang karena selama ini berkomitmen menjadi salah satu pelaku penggerak dunia pariwisata di Indonesia mempunyai cita-cita besar untuk mempromosikan kekayaan dan keindahan Alam dan Budaya Nusantara. Campa juga mempunyai cita-cita besar untuk mengembangkan partner lokal untuk mandiri dan mendorong ekonomi kreatif di bidang pariwisata dan pengembangannya di berbagai daerah di Indonesia. Dalam talkshow nanti campa akan menyampaikan banyak hal, tentang kegiatan Campa selama ini di masyarakat dan kegiatan tournya yang selalu melibatkan masyarakat menjadi bagian dari subyek pariwisata.
Campa bersama beberapa pelaku trend wisata kekinian dan Wanderlust Indonesia yang menjadi salah satu lokomotif komunitas bisnis sosial yang bergerak di bidang community-based tourism dan mempunyai tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, lingkungan, dan ekonomi di masyarakat lokal tujuan wisata di Indonesia, bekerjasama mengadakan acara talkshow. Talkshow ini di inisiasi oleh Wonderlust yang mempunyai visi memberikan