Berbicara tentang desa wisata, di Yogyakarta adalah surganya. Salah satu wisata alam ini sangat digemari oleh pengunjung karena banyak hal yang dapat dilakukan. Selain berlibur dan menghilangkan penat, berwisata ke desa wisata juga dapat dijadikan sarana edukasi, baik bagi anak-anak maupun orang dewasa. Desa Wisata Brayut Salah satu desa wisata yang banyak dikunjungi di Jogja adalah Desa Wisata Brayut. Terletak di Kabupaten Sleman, Kecamatan Sleman. desa wisata ini sangat sejuk dan memperlihatkan pemandangan alam yang khas pedesaan. Di sini, salah satu keunggulan yang ditonjolkan adalah pertaniannya yang bagus. Karena, sebagian besar penduduk di Desa Brayut memiliki mata pencaharian sebagai petani. Suhu udara di desa wisata ini tergolong sejuk, yakni 26 derajat celcius. Hal itu dikarenakan letaknya berada di ketinggian sekitar 243 di atas permukaan laut. Sejarah terbentuknya Desa Brayut tidak terlepas dari Bapak Budi Utomo seorang Dosen Akindo dan pengajar bahasa di Lembaga Pendidikan Bahasa Indonesia untuk orang asing di Turi, Sleman. Karena untuk mengajarkan bahasa perlu aktivitas interaksi dengan masyarakat lokal, maka beliau selaku tuan rumah Desa Brayut melihat potensi yang terdapat di desa nya tersebut, maka beliau untuk mengedukasi masyarakat untuk menjadi tuan rumah bagi tamu-tamu asing perlu adanya lembaga. Untuk itu beliau membuat Yayasan Ani-ani di Desa Brayut. Sejak itulah desa Brayut mulai dikenal untuk orang-orang asing melalui lembaga bahasa ini. Perkembangan selanjutnya tidak hanya tamu asing yang datang tetapi wisatawan lokal dan pelajarpun mulai mengunjungi desa Brayut. 10 Kegiatan Yang Wisatawan Lakukan di Desa Brayut 1 Belajar Bercocok Tani Desa Wisata Brayut merupakan tempat bagi pengunjung yang ingin mengetahui cara bertani yang baik dan benar. Selain itu, pengunjung juga bisa belajar secara langsung cara bercocok tanam dengan mengikuti kegiatan penduduk Desa Brayut saat bertani. Desa Brayut mempunyai paket-paket aktivitas bertani untuk wisatawan yaitu paket membajak sawah dengan menggunakan alat Bajak Tradisional berupa sapi dan perlengkapannya. Kegiatan
Berbicara tentang desa wisata, di Yogyakarta adalah surganya. Salah satu wisata alam ini sangat digemari oleh pengunjung karena banyak hal yang dapat dilakukan. Selain berlibur dan menghilangkan penat, berwisata ke desa wisata juga dapat dijadikan sarana edukasi, baik bagi anak-anak maupun orang dewasa. Desa Wisata Brayut Salah satu desa wisata yang banyak dikunjungi di Jogja
Berbicara soal wisata alam, Yogyakarta tidak diragukan. Di daerah yang terkenal dengan sebutan kota pelajar ini, banyak sekali wisata alam yang dapat dijumpai. Mulai dari wisata pantai, desa wisata, bukit, hutan, goa, hingga air terjun dapat ditemui di Jogja. Demi keindahannya, keaslian dan keasrian wisata-wisata alam tersebut tetap dijaga dengan baik. Salah satu wisata alam yang banyak dijadikan tujuan wisata adalah Air Terjun Tlogo Muncar. Air terjun ini terletak di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Letaknya yang berada di lereng Gunung Merapi membuat wisata yang satu ini begitu indah, sehingga banyak menarik perhatian turis. Suasana di air terjun ini pun sangat sejuk dan menenangkan. Air Terjun Tlogo Mucar ini terletak di ketinggian sekitar 878 mdpl dan memiliki suhu udara sekitar 20 hingga 25 derajat celcius. Ketinggian Air Terjun Tlogo Muncar ialah 30 hingga 40 meter, sehingga sangat indah saat dijadikan latar belakang sebuah foto. Suhu udara yang relatif dingin di air terjun ini tidak menjadi halangan bagi pengunjung untuk berlama-lama bersantai di wisata ini. Sebab, airnya yang jernih dan segar mampu menghipnotis siapa pun yang datang. Aliran air di air terjun ini berasal dari lereng bukit Plawangan yang berada tidak jauh dari air terjun tersebut. Seperti air terjun pada umumnya, Air Terjun Tlogo Muncar memiliki debit air yang kurang deras saat musim kemarau dan cukup deras pada musim penghujan. Di sekitar Air Terjun ini, terdapat taman bermain untuk anak-anak. Sehingga, para orang tua juga banyak yang mengajak serta anak-anak mereka untuk berlibur di sini. Menariknya lagi, di sini juga terdapat monyet ekor panjang liar yang hidup di sekitar air terjun. Tentu saja, ini juga dapat menjadi wisata edukasi bagi anak-anak yang belum mengetahui dan melihat secara langsung hewan mamalia tersebut. Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, Air Terjun Tlogo Muncar pernah dijadikan tempat mandi oleh Cewi Condrokirono yang merupakan salah satu putri
Berbicara soal wisata alam, Yogyakarta tidak diragukan. Di daerah yang terkenal dengan sebutan kota pelajar ini, banyak sekali wisata alam yang dapat dijumpai. Mulai dari wisata pantai, desa wisata, bukit, hutan, goa, hingga air terjun dapat ditemui di Jogja. Demi keindahannya, keaslian dan keasrian wisata-wisata alam tersebut tetap dijaga dengan baik. Salah satu wisata alam
Destinasi wisata alam berupa air terjun atau curug dapat ditemui di Daerah Istimewa Yogyakarta. Tidak hanya berjumlah satu atau dua, kota yang dijuluki sebagai kota pelajar ini memiliki banyak sekali curug atau air terjun. Air terjun dapat ditemui hampir di semua kabupaten yang ada di DIY. Salah satu air terjun yang tidak pernah sepi dari pengunjung adalah Curug Siluwok yang terletak di Kabupaten Kulonprogo. Curug Siluwok memiliki ketinggian sekitar 20 meter dari sungai yang menampung airnya. Meskipun memiliki tergolong cukup tinggi, namun debit airnya tidak deras. Sehingga, curug ini aman digunakan untuk bermain air maupun mandi bagi pengunjung. Pengunjung dapat bermain air dan mandi di kolam yang ada di sungai bawah air terjun. Berenang di kolam ini adalah salah satu kegiatan paling menyenangkan yang dipilih oleh pengunjung. Kedalaman kolam pun juga sangat aman bagi pengunjung, yang mana kolam tersebut tidak terlalu dalam. Selain untuk berenang dan bermain air, pengunjung juga dapat memanfaatkan pemandangan yang indah di Curug Siluwok untuk berfoto ria. Pemandangannya melukiskan keindahan alam yang alami dan asri. Jika ingin mendapat pemandangan air jernih dari curug, maka sebaiknya pengunjung datang pada saat musim kemarau. Namun, jika ingin mendapatkan pemandangan yang lebih hijau, segar, serta air keruh, maka pengunjung dapat mengunjungi curug pada musim hujan. Bagi yang suka berenang dan bermain air, adanya batu dan tebing di sekitar sungai dapat dijadikan sebagai spot untuk loncat dari ketinggian. Sehingga, selain berenang di dalam air, pengunjung juga dapat merasakan sensasi loncat dari ketinggian dan menikmati keindahan alam secara bersamaan. Curug Siluwok berlokasi di pinggir hutan yang sebagian besar sudah dialihfungsikan sebagai lahan perkebunan dan pertanian oleh warga sekitar. Sehingga, air sungai dari curug ini juga dialirkan ke perkebunan dan pertanian warga sekitar. Jika kalian ingin mengunjungi Curug Siluwok, sebaiknya memakai sandal gunung. Karena untuk mencapai curug, pengunjung harus berjalan kaki dari tempat
Destinasi wisata alam berupa air terjun atau curug dapat ditemui di Daerah Istimewa Yogyakarta. Tidak hanya berjumlah satu atau dua, kota yang dijuluki sebagai kota pelajar ini memiliki banyak sekali curug atau air terjun. Air terjun dapat ditemui hampir di semua kabupaten yang ada di DIY. Salah satu air terjun yang tidak pernah sepi dari
Museum Gunung Merapi merupakan destinasi wisata yang menarik dan unik untuk dikunjungi. Seperti museum pada umumnya, museum ini menyimpan berbagai benda bersejarah. Namun, di sini khusus untuk menyimpan berbagai hal berkaitan dengan Gunung Merapi. Semua hal yang berkaitan dengan Gunung Merapi terdapat di museum ini dan terawat dengan baik. Berbagai benda yang disimpan di dalam Museum ini dapat dijadikan objek wisata maupun kajian bagi pengunjung. Oleh karena itu, para orang tua sangat direkomendasikan mengajak buah hati untuk mengunjungi museum ini jika berkunjung ke Jogja. Destinasi ini dapat ditemukan sekitar 5 km dari destinasi wisata Kaliurang dan diresmikan pada tanggal 1 Oktober 2009 oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral bernama Purnomo Yusgiantoro. Dibangun di atas lahan seluas 3,5 hektar, museum ini memiliki banyak fungsi. Salah satunya adalah sebagai tempat pengenalan, pendidikan, dan pengetahuan tentang Gunung Merapi yang meliputi sejarah maupun secara struktural. Melalui museum ini pula, pengunjung diajak mengenali gunung api pada umumnya serta potensi manfaat dan bahaya yang ditimbulkan oleh Gunung Merapi maupun gunung api pada umumnya. Di sini pula, pengunjung dapat menemukan koleksi gambar, foto, maupun video tentang bencana alam akibat aktivitas Gunung Merapi, misalnya gempa, erupsi, dan letusan. Museum yang terletak di Kabupaten Sleman ini memiliki dua lantai. Lantai pertama, diisi dengan koleksi foto erupsi Gunung Merapi hingga alat yang digunakan untuk mengamati aktivitas Gunung Merapi, misalnya seismograf, komputer, dan radio. Sedangkan, di lantai dua pengunjung dapat melihat replika Gunung Merapi dari atas. Di lantai ini juga terdapat beberapa alat peraga bencana akibat aktivitas Gunung Merapi. Selain itu, pengunjung juga dapat menikmati bioskop yang menampilkan film dokumentasi yang berjudul “Mahaguru Merapi”. Biasanya, lantai dua juga dijadikan spot foto bagi pengunjung yang ingin mengabadikan momen liburan di Museum Gunung Merapi. Beberapa spot foto sangat menarik untuk dijadikan latar belakang. Pengunjung juga dapat menikmati sensasi lava tour, yakni menyusuri
Museum Gunung Merapi merupakan destinasi wisata yang menarik dan unik untuk dikunjungi. Seperti museum pada umumnya, museum ini menyimpan berbagai benda bersejarah. Namun, di sini khusus untuk menyimpan berbagai hal berkaitan dengan Gunung Merapi. Semua hal yang berkaitan dengan Gunung Merapi terdapat di museum ini dan terawat dengan baik. Berbagai benda yang disimpan di dalam
Siapa yang tak mengenal Gembira Loka di Yogyakarta? Tempat ini selalu menjadi media pembelajaran bagi anak sejak dini untuk mengenal berbagai macam flora fauna, dan juga menjadi wisata rekomendasi bagi keluarga. Sejarah Gembira Loka Sejarah dibangunnya Gembira Loka ini berkaitan dengan keinginan Sri Sultan Hamengkubuwono VII yang menginginkan adanya tempat hiburan bagi rakyat yang diberi nama "Kebun Rojo". Pada tahun 1933, keinginan tersebut berhasil diwujudkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Pembangunan Kebun Binatang ini melibatkan arsitektur berkebangsaan Belanda, Ir. Karsten. Pembangunan Kebun Binatang ini sempat terhenti akibat adanya Perang Dunia II saat kependudukan Jepang. Pembangunan dilanjutkan oleh Sri Paduka KGPAA Paku Alam VIII pada tahun 1953. Pada tahun 1959, Titrowinoto dipilih oleh KGPAA Paku Alam untuk melanjutkan pengelolaan Kebun Rojo atau Kebun Binatang Gembira Loka karena dianggap memiliki kecintaan dan minat terhadap pengembangan kebun binatang tersebut. Tak heran jika dibawah kepengurusan Tritowinoto, Kebun Binatang Gembira Loka berkembang pesat. Puncak perkembangan Gembira Loka adalah pada tahun 1978 yang mana saat itu koleksi binatang telah lengkap, sehingga wisatawan banyak yang tertarik untuk berkunjung. Tahun 2000-2006 an memang kebun gembira loka mulai sepi peminat, dikarena koleksi hewan semakin berkurang dan tidak lengkap ditambah persaingan munculnya berbagai destinasi alternatif semakin banyak, sehingga wisatawan mulai beralih ke destinasi yang lain yang lebih kekinian. Ditambah lagi dengan adanya gempa di Jogja tahun 2006 menjadikan Gembira Loka menjadi terpuruk. Keadaan tersebut memaksa pengelola baru dari generasi ketiga pendiri Gembira Loka berbenah. Mulai dari pembangunan kembali bangunan yang rusak, penambahan wahana dan hewan cukup membuahkan hasil. Daya Tarik Gembira Loka Sekarang Kini Kebun Binatang Gembira Loka tahun 2020 menjadi pilihan destinasi wisata yang tepat untuk keluarga, dan telah tersedia banyak spesies hewan cukup lengkap, meliputi kelompok mamalia, reptil dengan tiruan lingkungan sesuai habitatnya. Kondisi yang semakin membaik dari segi pelayanan serta penataan lingkungan yang semakin bagus, membuat Gembira
Siapa yang tak mengenal Gembira Loka di Yogyakarta? Tempat ini selalu menjadi media pembelajaran bagi anak sejak dini untuk mengenal berbagai macam flora fauna, dan juga menjadi wisata rekomendasi bagi keluarga. Sejarah Gembira Loka Sejarah dibangunnya Gembira Loka ini berkaitan dengan keinginan Sri Sultan Hamengkubuwono VII yang menginginkan adanya tempat hiburan bagi rakyat yang diberi
Jika ingin berwisata sejarah, budaya, dan religi, Jogja memiliki lokasi yang tepat, yakni Masjid Gedhe Kauman. Masjid ini termasuk salah satu bangunan bersejarah yang ada di Indonesia, sehingga tidak heran jika Masjid ini selalu ramai dikunjungi. Masjid yang dibangun di atas tanah milik Kerton Ngayogyakarto Diningrat ini berada di dekat alun-alun utara kota Yogyakarta. Sehingga, masjid ini lokasinya strategis karena bisa dijangkau oleh wisatawan yang berkunjung ke Keraton. Salah satu keistimewaan Masjid Gedhe Kauman adalah termasuk salah satu masjid tertua yang ada di Indonesia. Sultan Hamengkubuwono I adalah penggagas didirikannya Masjid Gedhe Kauman. Sedangkan, penghulu pertama masjid itu adalah Kyai Fakih Ibrahim Diponingrat. Pembangunan masjid dilakukan pada tanggal 29 Mei 1773. Tujuan pertamanya adalah sebagai sarana ibadah bagi keluarga keratin dan rakyatnya yang beragama Islam. Saat memasuki masjid ini, nuansa Jawa langsung terasa begitu kental. Atapnya didesain berlapis tiga dengan gaya tradisional khas Jawa. Masjid ini juga ditambah dengan serambi bernama Al Makhamah Al Kabiroh yang diperuntukkan menampung jamaah yang jumlahnya semakin banyak. Selain tempat ibadah, Masjid ini juga diperuntukkan sarana pengajian, dakwah, pernikahan, perceraian, pengadilan agama, pembagian waris, dan memperingati hari besar Islam. Berdasarkan cerita sejarah, di Masjid seluas 16.000 meter persegi ini terdapat tiga peristiwa penting. Pertama, peristiwa saat K.H. Ahmad Dahlan membenarkan posisi kiblat yang pada saat itu memiliki kemiringan 23 derajat. Kedua, masjid ini sering digunakan untuk TNI menyusun strategi perang melawan Belanda saat zaman perjuangan. Ketiga, masjid ini digunakan oleh KAMI dan KAPPI untuk membubarkan masa pemerintahan orde lama dan juga pembubaran PKI. Selain ramai dikunjungi oleh wisatawan, Masjid ini juga kerap dijadikan lokasi syuting berbagai film, misalnya Surga yang Tak Dirindukan dan K.H. Ahmad Dahlan. Arsitektur bangunan yang unik dan tradisional menjadikan Masjid Gedhe Kauman tidak pernah sepi dari kunjungan baik untuk beribadah ataupun berwisata religi sembari menyelami budaya dan sejarah. Apabila ingin berwisata
Jika ingin berwisata sejarah, budaya, dan religi, Jogja memiliki lokasi yang tepat, yakni Masjid Gedhe Kauman. Masjid ini termasuk salah satu bangunan bersejarah yang ada di Indonesia, sehingga tidak heran jika Masjid ini selalu ramai dikunjungi. Masjid yang dibangun di atas tanah milik Kerton Ngayogyakarto Diningrat ini berada di dekat alun-alun utara kota Yogyakarta. Sehingga,
Sudah lama diketahui bahwa Jogja adalah salah satu tujuan wisata sejarah yang menarik untuk dikunjungi. Salah satu lokasi wisata sejarah yang wajib dikunjungi adalah Museum Monumen Pangeran Diponegoro. Di sini, pengunjung dapat melihat dan mengetahui berbagai barang peninggalan Pangeran Diponegoro saat zaman Belanda yang bernilai sejarah. Selain barang peninggalan, di museum ini juga terdapat rumah yang dijadikan kediaman Pangeran Diponegoro. Pangeran Diponegoro adalah salah satu pangeran yang dikenal di Indonesia karena melawan Belanda pada tahun 1825-1830. Tujuan dibangunnya Museum ini adalah untuk mengenang jasa Pangeran Diponegoro untuk kemerdekaan Bangsa Indonesia. Dulunya, museum ini adalah rumah Pangeran Diponegoro dan keluarganya. Pendiri museum ini adalah Mayjend TNI Surono dan dilanjutkan oleh Meyjend TNI Widodo. Pengunjung dapat menemui museum ini di Tegalrejo, Yogyakarta. Dibangunnya museum ini juga tidak luput dari restu yang diberikan oleh ahli waris Pangeran Diponegoro yang mengizinkan tanah peninggalan sang Pangeran dibangun sebuah monumen. Sebagai bukti sah, surat pernyataan tentang izin tersebut ditandatangani oleh dr. Sahir Nitihardjo, Nyi Hadjar Dewantara, dan KRT. Prodjodiningrat. Peresimian Museum Monumen Pangeran Diponegoro dilaksanakan pada tanggal 5 Oktober 1969 oleh Jendral TNI (purnawirawan) Soeharto. Di museum ini, pengunjung juga dapat menemukan pendapa dan pringgitan yang bernilai sejarah. Beberapa diantaranya adalah senjata yang terdiri dari pedang, panah, tombak, dan keris. Uniknya, di museum ini juga ditunjukkan bagian dinding yang sengaja dibuat berlubang. Fungsinya adalah untuk akses meloloskan diri saat Pangeran Diponegoro dikepung oleh Belanda. Tak hanya barang-barang peninggalan Pangeran Diponegoro, di Museum ini juga terdapat peninggalan Sultan Hamengkubuwono II yang berjumlah 100. Di bagian sudut timur pendopo, terdapat meriam perang. Ada pula beberapa peralatan memasak yang digunakan pada zaman itu, seperti bokor, teko, canting, dan lain sebagainya. Jika ingin berwisata ke Museum Monumen Pangeran Diponegoro dan destinasi menarik lainnya, segera pesan tours reguler Jogja di campatour.com.
Sudah lama diketahui bahwa Jogja adalah salah satu tujuan wisata sejarah yang menarik untuk dikunjungi. Salah satu lokasi wisata sejarah yang wajib dikunjungi adalah Museum Monumen Pangeran Diponegoro. Di sini, pengunjung dapat melihat dan mengetahui berbagai barang peninggalan Pangeran Diponegoro saat zaman Belanda yang bernilai sejarah. Selain barang peninggalan, di museum ini juga terdapat rumah
Jika selama ini Gunungkidul Yogyakarta dikenal sebagai wisata pantai, jangan salah ya, karena di Kabupaten ini juga banyak destinasi lain selain pantai. Misalnya, saat ini yang tengah hits adalah Wisata di Embung Nglanggeran. Destinasi wisata alam yang satu ini berupa telaga buatan yang terletak di atas bukit. Peresmian destinasi ini sebagai lokasi wisata disahkan sendiri oleh Sultan Hamengku Buwono X pada tanggal 19 Februari 2013 lalu. Namun, sebenarnya telaga ini sengaja dibuat sebagai irigasi kebun buah yang ada di kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran. Karena keindahan alamnya, Embung Nglanggeran sekaligus dijadikan lokasi wisata alam yang indah dan menarik. Untuk mencapai tempat ini, pengunjung diharuskan berjalan kaki menapaki anak tangga yang telah disediakan. Anak tangga sengaja dibuat berkelok untuk mengurangi tingkat kecuramannya. Setelah sampai, pengunjung akan disuguhi pemandangan pegunungan khas Gunungkidul yang sangat indah. Sehingga, rasa lelah saat menaiki tangga terbayar dengan keindahan yang ada di depan mata. Dari Embung Ngelanggeran, terlihat jelas perkebunan buah milik warga sekitar yang ditanami berbagai macam buah. Dari sini pula, pengunjung dapat melihat Gunung Api Purba yang sangat terkenal di Gunungkidul itu. Berdasarkan riwayat pembangunannya, Embung Nglanggeran dibangun di atas bukit yang puncaknya dipotong dan dibuat telaga. Sehingga, memang keindahannya sangat memukau karena ketinggiannya sangat pas untuk menikmati bentangan alam ciptaan Yang Maha Kuasa. Baik pagi, siang, sore, maupun malam, Embung Nglanggeran menyuguhkan pemandangan yang sangat menjanjikan. Pada pagi hari, pengunjung dapat menikmati keindahan matahari terbit di ufuk timur. Sedangkan pada sore hari, meskipun matahari tenggelam tidak dapat dinikmati sepenuhnya, tetapi pancaran cahaya matahari sore berpadu pantulan cahaya dari embung membuat foto menjadi begitu indah. Selain itu, pada malam hari, keindahan Embung Nglanggeran tetap terpancar dan ditambah dengan berbagai cahaya lampu. Tentu saja, hasil fotonya Instagramable banget. Tidak hanya satu spot, pengunjung dapat berswafoto di berbagai spot dengan latar belakang pemandangan berbeda-beda. Jika ingin mendapat
Jika selama ini Gunungkidul Yogyakarta dikenal sebagai wisata pantai, jangan salah ya, karena di Kabupaten ini juga banyak destinasi lain selain pantai. Misalnya, saat ini yang tengah hits adalah Wisata di Embung Nglanggeran. Destinasi wisata alam yang satu ini berupa telaga buatan yang terletak di atas bukit. Peresmian destinasi ini sebagai lokasi wisata disahkan sendiri
Selain wisata alam, wisata budaya, wisata sejarah, dan wisata kekinian, Jogja juga memiliki destinasi wisata berupa desa wisata. Di jenis wisata yang satu ini, pengunjung diajak untuk berwisata sekaligus belajar. Salah satu desa wisata yang sangat dikenal di Jogja adalah Desa Wisata Pulesari yang berada di Kabupaten Sleman. Desa yang terletak di pedesaan dekat Gunung Merapi ini banyak memiliki keunikan sehingga banyak menarik minat wisatawan, baik individu maupun kelompok. Di sini, masih terdapat wisata alam dan budaya yang dibungkus dan dikelola dengan baik, sehingga budaya yang ada tetap lestari. Desa wisata ini lahir pada tahun 2012, atau setelah dua tahun letusan Gunung Merapi yang sempat melumpuhkan berbagai kegiatan di desa Pulesari tersebut. Salah satu keunggulan Desa Wisata Pulesari adalah menonjolkan Agrowisata berupa perkebunan salak. Selain berkebun, memanen, dan merawat buah salah, di sini pengunjung juga dapat belajar berbagai cara pengolahan hasil panen salak menjadi jenis makana lain, misalnya wingko salah, dodol salak, kolak salak, madumongso salak, dan lain sebagainya. Selain Agrowisata, pengunjung juga bisa menikmati outbond menyusuri sungai yang telah diberi berbagai permainan dan wahana oleh pengelola agar kegiatan outbond semakin menyenangkan dan menantang. Beberapa wahana yang dapat ditemui adalah tangkap air, spiderman web, jembatan goyang, air terjun, gua, dan titian bambu. Pada momen tertentu, di Desa Wisata Pulesari juga terdapat upacara adat Merti Bumi yang diselenggarakan pada malam hari. Biasanya, jika ada pengunjung yang datang, maka mereka diajak turut serta sebagai bagian dari upacara adat tersebut. Pembangunan Desa Wisawa Pulesari berawal dari ide tokoh masyarakat dan warga sekitar yang ingin membangkitkan Desa Pulesari dari keterpurukan pasca letusan Gunung Merapi pada tahun 2010 lalu. Pengunjung dapat menyewa tempat tinggal pada rumah-rumah warga setempat atau membangun tenda di lapangan khusus camping. Biasanya, wisata ke Pulesari ini didominasi oleh kelompok atau grup yang ingin melakukan outbond. Banyaknya acara dan tawaran wisata yang
Selain wisata alam, wisata budaya, wisata sejarah, dan wisata kekinian, Jogja juga memiliki destinasi wisata berupa desa wisata. Di jenis wisata yang satu ini, pengunjung diajak untuk berwisata sekaligus belajar. Salah satu desa wisata yang sangat dikenal di Jogja adalah Desa Wisata Pulesari yang berada di Kabupaten Sleman. Desa yang terletak di pedesaan dekat Gunung
Jika selama ini Gunung kidul, Yogyakarta dikenal sebagai wisata alamnya, kini destinasi di salah satu kabupaten di DIY ini sudah banyak berkembang. Bagi traveller yang menyukai pengalaman baru dalam menjelajah alam, ada baiknya mencoba mengunjungi Watu Giring. Destinasi yang menakjubkan ini merupakan lokasi di mana ditemukan bebatuan alam yang berupa heritage megalitikum. Watu Giring Gunung kidul Watu Giring Gunung kidul Apa itu? Di destinasi ini akan ditemui lempengan batu yang dipotong, kemudian ditumpuk sehingga menyerupai anak tangga. Tidak hanya ada satu tumpukan batu, melainkan ada banyak tumpukan batu yang ada di Watu Giring. Bahkan, ada pula yang menyerupai candi. Karena keunikannya, Watu Giring sudah menjadi destinasi wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan yang penasaran dengan tumpukan batu-batu tersebut. Sebelum dijadikan tempat wisata, Watu Giring merupakan lokasi penambangan batu kapur. Sedangkan, batu yang disusun tersebut awalnya adalah alas yang digunakan untuk mendirikan tiang sebagai penyangga rumah. Alas ini disebut dengan giring. Oleh karena itu, destinasi ini diberi nama Watu Giring. Setelah aktivitas penambangan batu alam di hentikan, penduduk sekitar memotong batu-batu yang ditumpuk tersebut menjadi lebih kecil dan memanjang. Hasil potongan-potongan tersebut membentuk menyerupai anak tangga dan candi. Sehingga, terdapatlah Watu Giring yang saat ini dikenal. Tumpukan batu-batu alam yang indah itu sangat mirip dengan candi kuno yang berundak. Banyak pula pengunjung yang mengatakan bahwa Watu Giring mirip dengan wisata alam Bukit Breksi yang berlokasi di Kalasan. Selain unik, berswafoto di Watu Giring juga sangat Instagramble. Pengambilan foto dari berbagai angle akan menghasilkan foto yang indah dan unik. Jika diperhatikan dengan saksama, berfoto dengan latar belakang Watu Giring hasilnya menyerupai berfoto di Piramida Suku Maya yang memiliki punden bertingkat. Sehingga, tidak heran jika banyak orang yang mengira bahwa Watu Giring adalah bangunan candi kuno yang dibangun pada masa lalu. Bonus yang dapat dinikmati oleh pengunjung di Watu Giring adalah pemandangan sunset
Jika selama ini Gunung kidul, Yogyakarta dikenal sebagai wisata alamnya, kini destinasi di salah satu kabupaten di DIY ini sudah banyak berkembang. Bagi traveller yang menyukai pengalaman baru dalam menjelajah alam, ada baiknya mencoba mengunjungi Watu Giring. Destinasi yang menakjubkan ini merupakan lokasi di mana ditemukan bebatuan alam yang berupa heritage megalitikum. Watu Giring Gunung